Senin, 22 Januari 2018



Sastra lisan

\Sastra lisan atau sastra rakyat adalah karya sastra dalam bentuk ujaran (lisan), tetapi sastra itu sendiri berkutat di bidang tulisan. Sastra lisan membentuk komponen budaya yang lebih mendasar, tetapi memiliki sifat-sifat sastra pada umumnya. Cendekiawan Uganda Pio Zirimu memperkenalkan kata orature untuk menghindari oksimoron, namun sastra lisan (oral literature) masih sering digunakan di lingkup akademik dan masyarakat.[butuh rujukan]
Masyarakat yang belum mengenal huruf tidak punya sastra tertulis, tetapi mungkin memiliki tradisi lisan yang kaya dan beragam—seperti epik, cerita rakyat, peribahasa, dan lagu rakyat—yang secara efektif membentuk sastra lisan. Sekalipun semuanya disatukan dan dicetak oleh para ahli cerita rakyat dan paremiografer, hasilnya masih disebut "sastra lisan".
Masyarakat yang mengenal huruf kemungkinan masih melanjutkan tradisi lisan, biasanya di dalam keluarga (seperti pengantar tidur) atau struktur sosial informal. Penyampaian legenda urban dapat dianggap sebagai contoh sastra lisan, sebagaimana lelucon dan puisi lisan, termasuk lomba puisi yang ditayangkan di Def Poetry. Puisi pertunjukan adalah genre puisi yang menggantikan bentuk tertulisnya
 

Pemerhati Sastra Masih Fokus Sastra Lisan dan Tulis

Category : Beranda , Berita
Selama ini para peneliti dan pemerhati sastra hanya mengambil fokus pada sastra lisan dan tulis meskipun dalam era digital ini telah hadir sastra virtual dan elektornik. Untuk menyingkapi sastra elektronik saja baru dimulai. Kini malah hadir jenis campuran karya sastra dari ketiga jenis tersebut. Karya campuran (lisan,tulis dan elektronik) ini lazim disebut dengan sastra hibrida. Dalam menghadapi persoalan sastra elektronik dengan hibridanya itu tentu saja diperlukan pendekatan teori dan metodologi penelitian yang spesifik. Oleh karena itu persoalan tersebut sangat perlu dikaji secara mendalam oleh ahli sastra dan pemerhati sastra, pengajar sastra, dan pembelajar sastra hal itu disampaikan oleh Dekan FIB Undip  Dr. Redyanto Noor, M.HUM saat membuka acara Seminar Internasional “Mengurai Persoalan Sastra Hibrida” yang diselenggarakan oleh Program Magister susastra Fakultas Ilmu Budaya Undip, Rabu,(15/11) di Hotel Kesambi Semarang.
Redyanto mengatakan bahawa pada awal abad XXI perkembangan penulisan sastra telah jauh meninggalkan teori dan kritik sastra. Para penilti dan kritikus sastra semakin kesulitan melakukan kajian terhadap sastra modern yang kuantitas dan variabelnya berkembang amat cepat. Walaupun teori dan kritik sastra modern telah ada dan dipelajari oleh para pemerhati sastra sejak awal abad XX tetapi pengenalan dan penerapannya dimulai pada tahun 1950-an sejalan dengan dibukanya program ilmu sastra di beberapa perguruan tinggi,” ujarnya.
“Persoalan utama yang dikaji dalam seminar ini adalah fenomena lahirnya sastra hibrida, karakteristik dan batasan sastra hibrida, pendekatan dan teori sastra yang sesuai untuk mengkajinya serta metodologi yang sesuai untuk menghadapi persoalan sastra hibrida dalam penelitian ilmiah yang berkualitas.
Hadir sebagai narasumber dalam seminar itu Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono ( UI) , Dr.Aprinus Salam,M.Hum (UGM), Jonathan Moore,MA (Easten Illinois University) dan Prof.Dr.Surasak Khamkhong (Ubon Ratchathani University).
Dalam paparannya Prof.Sapardi mengatakan dalam bahasa Indonesia hibriditas setidaknya memiliki dua padanan kata, yakni ‘blasteran’ dan ‘indo’. Kedua kata itu biasanya kita kenakan pada orang, tetapi dalam pembicaraan ringkas ini akan saya kaitkan dengan sastra. Dalam KBBI daring, ‘blasteran’ berarti ‘hasil perkawinan campuran dari dua jenis yang berbeda; hasil perkawinan silang. Dalam percakapan berarti juga peranakan – bukan keturunan asli’. Kata ‘indo’ tidak kedapatan dalam kamus tersebut. Contoh yang sering dipakai untuk menjelaskan konsep hibriditas adalah kata ‘dwifungsi’ – kata yang berasal dari dua bahasa yang berbeda, dwi (Sansekerta) dan fungsi (Inggris, Belanda),” ungkapnya.
“Di zaman yang semakin terbuka terhadap segala sesuatu yang berasal dari mana saja, hibriditas alhmadulillah semakin berkembang dalam semua segi kehidupan kita. Dalam New Oxford Amarican Dictionary, hybrid adalah a thing made by combining two different elements; a mixture. Bidang biologi atau ilmu tumbuh-tumbuhan menyebutkan bahwa tanaman hibrida, hasil kawin silang antara dua spesies, memiliki ciri dan kualitas yang lebih baik dari jika masing-masing tumbuhan tidak mengalami kawin silang. Itu sebabnya kita sengaja menciptakan tanaman hibrida meniru proses yang membentuk tanaman dan binatang hibrida di alam bebas. Dan tentu itu juga sebabnya orang yang digolongkan sebagai indo memiliki sejumlah ciri fisik dan kualitas pemikiran yang tidak jarang mengungguli yang bukan indo.
Lebih jauh Prof. Sapardi mengatakan bahwa konsep hibrida yang semakin meluas cakupannya itu kali ini kita kaitkan dengan kesusastraan, menyangkut hubungan-hubungan yang ada antara penciptaan dan pencipta serta pembaca dan pembacaan karya sastra. Dalam pengertian ini hibrida menyangkut sastrawan dan karya sastra, yang tentunya juga mencakup proses penciptaannya. Perkembangan bahasa yang sangat cepat menyebabkan munculnya sejumlah besar kata yang dengan sengaja diciptakan, yang bisa dipakai untuk menjelaskan konsep hibriditas. ‘Kids jaman now’ sering sekali terdengar tidak hanya di kalangan orang-orang muda yang memang semakin menyukai segala sesuatu yang campur-aduk, tetapi juga mulai masuk ke dalam kesadaran siapa pun yang menggunakan bahasa tanpa merasa harus sepenuhnya tunduk pada tatanan bahasa yang ‘baik dan benar’ – atau bahkan bisa dengan aman boleh dikatakan bahwa proses yang demikian itu adalah bagian terciptanya bahasa yang ‘baik dan benar’.
“Frasa ‘anak zaman sekarang’ rupanya tidak lagi bisa memuaskan (mula-mula) atau setidaknya sudah dianggap lecek oleh anak-anak muda dan untuk menjadikannya terdengar keren dimunculkanlah frasa ‘kids jaman now’ – campuran antara bahasa Inggris dan Arab. Kita tahu tentunya bahwa hampir semua kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain juga berasal dari bahasa asing. Itu sebabnya juga bahasa Indonesia, yang menyerap kata dari begitu banyak bahasa (asing dan daerah), berkembang sangat cepat – meskipun hasil perkembangan itu tidak terekam dalam kamus kita yang saya anggap tidak cekatan merekamnya antara lain karena disusun berdasarkan prinsip ‘baik dan benar’ yang jelas memblokir konsep keragaman dalam penulisan dan pengucapan,” pungkasnya.

Sastra elektronik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sastra elektronik adalah sastra di media elektronik. Sastra dalam peradaban tradisional didominasi sastra lisan; dalam peradaban modern didominasi oleh sastra tulis; dan dalam peradaban posmodern didominasi oleh sastra elektronik. Ambang peralihan tiap peradaban tampak dalam deformasi genre sastra. Pendokumentasian dan penulisan sastra lisan sejalan dengan peralihan dari peradaban tradisional menuju peradaban modern. Perekaman, sinematisasi dan digitalisasi baik sastra lisan maupun sastra tulis sejalan dengan peralihan menuju peradaban posmodern.

Daftar isi

Genre Sastra

Dengan mengacu pada tiga paradigma peradaban menurut Alvin Toffler (1980), ranah sastra dapat dipilah ke dalam paradigma peradaban agraris, industrial, dan informasi. Sastra dalam peradaban agraris didominasi genre sastra lisan; sastra dalam peradaban industrial didominasi genre sastra tulis; dan sastra dalam peradaban informasi didominasi genre sastra elektronik. Berdasarkan hal ini objek penelitian sastra dapat diklasifikasikan ke dalam sastra lisan, sastra tulis, dan sastra elektronik.

Sastra Lisan

Menurut Wiget (lihat Lauter, 1994), sastra lisan dipertunjukkan di hadapan pendengar yang melakukan evaluasi baik cara maupun isi pertunjukan; evaluasi bukan merupakan kesimpulan dari pertunjukan tersebut, melainkan merupakan sebuah kegiatan yang berlangsung yang tercermin dalam tingkat perhatian dan komentar.
Terdapat varitas yang sangat mengejutkan dari sastra lisan yang bertahan hidup di antara orang-orang pra-aksara, dan sebagaimana kata-kata tertulis muncul dalam sejarah, menunjukkan bahwa semua genre penting sastra yang muncul pada awal masyarakat beradab adalah: epos heroik, nyanyian pujaan untuk pendeta dan raja, cerita misteri dan supernatural, lirik cinta, nyanyian pribadi hasil meditasi, kisah cinta, kisah petualangan dan heroisme rakyat jelata, yang berbeda dari epos heroik kelas atas, satir, satir pertempuran, balada, dogeng tragedi rakyat dan pembunuhan, cerita rakyat, fabel, teka-teki, pepatah, falsafah hidup, himne, mantra-mantra, nyanyian misteri para pendeta, dan mitologi.
Dari berbagai varitas di atas, genre sastra lisan dapat klasifikasikan ke dalam sub-sub genre yang terdiri atas puisi lisan, prosa lisan, dan drama lisan. Edi Sedyawati (lihat Pudentia, 1998) menyusun sebuah gradasi dari sastra lisan yang paling murni sastra hingga ke pertunjukan teater yang paling lengkap media pengungkapannya, yakni: murni pembacaan sastra (mebasan dan macapatan); pembacaan sastra disertai gerak sederhana dan atau iringan musik terbatas (cekepung dan kentrung); penyajian cerita disertai gerak tari (randai); dan penyajian cerita melalui aktualisasi adegan, dialog dan tarian pemeran, dan iringan musik (wayang wong, makyong, wayang gong, dan lain-lain).
Menurut Wiget, dalam banyak sastra lisan dunia, puisi lisan adalah nyanyian, seperti halnya mazmur-mazmur Daud, lirik-lirik Orpheus, maupun meditasi-meditasi Tecayahuatzin. Baik puisi lisan maupun prosa lisan Amerika terdapat dalam kesusastraan pribumi seperti puisi Zuni, Aztec, Inuit, Aleut, dan lain-lain; dan cerita-cerita dari suku-suku Indian Hitchiti, Zuni, Navajo, Lakota, Iroquois, dan lain-lain.
Perkembangan penelitian terhadap sastra lisan yang merupakan sastra rakyat dilakukan dengan menggunakan metode-metode historik-komparatif, historik-geografik, dan historik-struktural.
Menurut A Teeuw (1988), perkembangan dalam studi sastra lisan terutama yang menyangkut puisi rakyat antara lain dilakukan oleh Parry dan Lord. Hipotesis Parry dan Lord ternyata dapat dibuktikan dengan meneliti puluhan contoh epos rakyat seperti yang dinyanyikan oleh tukang cerita. Dengan meneliti teknik penciptaan epos rakyat, cara tradisi tersebut diturunkan dari guru kepada murid, dan bagaimana resepsinya oleh masyarakat, Parry dan Lord berkesimpulan bahwa epos rakyat tidak dihafalkan secara turun-temurun tetapi diciptakan kembali secara spontan, si penyanyi memiliki persediaan formula yang disebut stock-in-trade, terdapat adegan siap pakai yang oleh Lord disebut theme, dan variasi merupakan ciri khas puisi lisan.
Sedangkan untuk melakukan penelitian terhadap teater rakyat dapat menggunakan metodologi kajian tradisi lisan. Dengan menggunakan metodologi kajian tradisi lisan, penelitian teater rakyat dapat dilakukan secara menyeluruh tidak hanya terbatas pada aspek kesastraannya saja tetapi juga mencakup aspek-aspek kebudayaan yang melingkupinya. Hal ini penting karena teater rakyat tidak hanya merupakan bagian dari sastra lisan tetapi juga bagian dari seni pertunjukan rakyat yang memiliki jaringan dengan berbagai unsur kebudayaan.

Sastra Tulis

Menurut Wellek dan Warren (1989), salah satu batasan sastra adalah segala sesuatu yang tertulis. Hal ini menurut Teeuw sesuai dengan pengertian sastra (literature) dalam bahasa Barat yang umumnya berarti segala sesuatu yang tertulis, pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis. Lebih lanjut menurut Teeuw, bahasa tulis memiliki tujuh ciri, yakni: (1) dalam bahasa tulis antara penulis dan pembaca kehilangan sarana komunikasi suprasegmental; (2) dalam bahasa tulis tidak ada hubungan fisik antara penulis dan pembaca; (3) dalam teks-teks tertulis, penulis tidak hadir dalam situasi komunikasi; (4) teks-teks tertulis dapat lepas dari kerangka referensi aslinya; (5) bagi pembaca, tulisan dapat dibaca ulang; (6) teks-teks tertulis dapat diproduksi dalam berbagai bentuk dan jangkauan komunikasi yang lebih luas; dan (7)komunikasi menembus jarak ruang, waktu, dan kebudayaan.
Genre sastra tulis dapat dijabarkan ke dalam sub-sub genre yang terdiri atas puisi tulis, prosa tulis, dan drama tulis.Dewasa ini bentuk karya sastra yang paling diminat adalah cerpen dan novel. Waluyo (2002:28) membagi karya fiksi menjadi roman, cerita pendek, dan novel. Termasuk dalam klasifikasi novel adalah novelet. Novelet yaitu novel pendek yang lebih panjang dari cerita pendek, roman adalah jenis cerita rekaan yang paling dulu muncul, disusul oleh cerita pendek dan baru kemudian muncul novel dan novelet. Bentuk novel ataupun novelet dan cerita pendek pada akhirnya merajai sastra di Indonesia.

Sastra Elektronik

Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kesenian. Salah satu bidang teknologi yang mengalami perkembangan pesat adalah teknologi elektronik. Teknologi ini memiliki keterkaitan erat dengan dunia kesenian, baik sebagai alat produksi maupun sebagai media komunikasi. Bahkan teknologi elektronik berperan dalam menciptakan suatu genre baru dalam dunia kesenian yaitu seni elektronik. Frank Popper (1993) membahas lima kategori seni elektronik: (1) seni laser dan holografik, (2) seni video, (3) seni komputer, (4) seni komunikasi, dan (5) seni instalasi, demonstrasi dan pertunjukan. Fokus bahasan Popper adalah senirupa elektronik. Genre-genre seni elektronik terdapat dalam berbagai bidang kesenian seperti seni musik elektronik, seni rupa elektronik, sinema elektronik, dan sastra elektronik.
Dalam arti luas karya sastra yang diproduksi, dimodifikasi, dan dikemas dengan menggunakan peralatan elektronik dapat dinamakan sastra elektronik. Sesuai dengan media yang dipakai, sastra elektronik dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis: sastra audio, sastra audiovisual, dan sastra multimedia. Sedangkan sesuai dengan genrenya, sastra elektronik dapat dijabarkan ke dalam sub-sub genre seperti di bawah ini.

Media Sastra

Media: puisi elektronik, prosa elektronik, drama elektronik
Audio: puisi radio, dongeng/cerita radio, sandiwara/ drama radio
Audio-visual: puisi TV/puisi klip, film naratif/film dokumenter/film cerita TV, Sandiwara/fragmen/drama TV/film/drama/telenovela
Multi-media: puisi internet/puisi digital/E-mail/LD/VCD/CD-Rom, cerpen internet/ novel grafis/novel blog/novel interaktif/digital novel/LD/VCD/CD-Rom, fragmen/drama/ film drama/drama
internet/lakonet/drama digital/VCD/LD/CD-Rom
Klasifikasi di atas tidak menutup kemungkinan adanya genre campuran antara sastra lisan, sastra tulis, dan sastra elektronik.

Media Hibrida

Seringkali terdapat hibrida atau campuran antara sastra lisan dan sastra tulis dalam bentuk sastra lisan yang dituliskan dan sastra tulis yang dilisankan. Ada pula campuran antara sastra lisan dan sastra elektronik dalam bentuk sastra lisan yang dielektronikkan dan sastra elektronik yang dilisankan. Sedangkan campuran antara sastra tulis dan sastra elektronik terdapat dalam bentuk sastra tulis yang dielektronikkan dan sastra elektronik yang dituliskan. Percampuran tersebut menunjukkan adanya hubungan timbal-balik baik antargenre maupun lintasgenre.
Pada abad informasi dewasa ini, sastra elekronik mulai menjadi alternatif objek kajian sastra yang didominasi sastra lisan dan tulis. Terdapat deformasi media sastra, mulai dari layarnyata, layarperak, layarkaca sampai layarmaya. Dengan demikian patut disayangkan jika para pegiat sastra hanya berkutat dengan sastra lisan dan sastra tulis belaka. Sedangkan sastra elektronik tak terlirik samasekali. (Semarang 8 Nopember 2007. SiswoHarsono)

 

Judul: Struktur Sastra Lisan Simeulue

Penulis: Saifuddin Mahmud, Budiman Sulaiman, Nuriah T.A, dan A Murad E.Ajies

Abstrak

Penelitian ini mendeskripsikan struktur sastra lisan Simeulue terutama yang berbentuk prosa, yang meliputi mite, sage, legenda, dan fabel. Kajian yang dilakukan ditekankan pada tema, alur, penokohan, dan latar. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara. Wawancara dilakukan dengan informan sebagai nara sumber. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strutural yang merujuk pada beberapa ahli teori struktural, antara lain Esten (1987), Sudjiman (1988), Saad (1967), Tarigan (1984), dan Wellek dan Warren (1989).
Simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, antara lain (1) genre cerita berkisar pada legenda, sage, dan fable, hal ini menunjukan bahwa mite atau mitos tidak ditemukan dalam masyarakat Simeulue; (2) tema yang ditemukan dalam cerita sastra lisan Simeulue secara umum dimaksudkan untuk memberikan pengajaran atau petuah kepada masyarakat; (3) tokoh yang dominan ditampilkan adalah tokoh manusia dan binatang dan penokohan ditampilkan secara analitik-dramatik; (4) dalam sastra lisan Simeulue alur yang dominan digunakan adalah alur maju; dan (5) latar yang ditampilkan adalah daerah Pulau Simeulue sedangkan latar waktu yang digunakan meliputi zaman dahulu dan sekarang.

 

Judul: Bailau, Sastra Lisan Bayang Pesisir Selatan, Sumatra Barat

Penulis: Sastri Sunarti

Abstrak

Penelitian khazanah tradisi lisan di Indonesia pada awalnya digalakkan setelah muncul kesadaran akan semakin banyaknya penutur dan penikmat yang hilang. Salah satu ragam tradisi lisan yang dikhawatirkan kehilangan penutur dan penikmatnya adalah tradisi lisan bailau, yaitu ragam tradisi lisan dari daerah Bayang, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Pada mulanya bailau berangkat dari kebiasaan mendendangkan sisomba (pantun) bailau yang dilakukan oleh sekelompok perempuan yang sedang bekerja beramai-ramai di sawah. Mereka menyanyikan sisomba bailau dengan cara berbalas-balasan sebagai cara untuk membangkitkan semangat ketika bekerja di sawah.
Dalam perkembangannya, sisomba bailau juga dinyanyikan pada upacara menangkap harimau yang dilakukan oleh penduduk kampung secara beramai-ramai. Upacara menangkap harimau dikenal dengan istilah ilau rimau ‘memanggil harimau’, ilau datuak ‘merayakan penobatan datuk’, ialau urang mati ‘mengenang orang yang telah meninggal’, dan ilau urang ilang ‘memanggil sanak saudara yang hilang’. Dari bentuk teksnya, bailau termasuk ragam lisan Minangkabau yang berbentuk puisi yang biasanya terdiri atas 8—10 baris dalam satu bait. Di dalam barisnya terdapat bunyi sisipan yang memperindah irama nyanyian. Iramanya itu selalu dinyanyikan dengan irama yang sedih dan cenderung meratap. Hal itu disebabkan oleh orang yang menyanyikannya meyakini bahwa bailau juga suatu cara untuk menyampaikan parasaan penderitaan para perempuan penutur tradisi lisan bailau tersebut.
Dalam penelitian ini selain digambarkan faktor sosiologis dan antropologis, juga didedahkan prinsip kelisanan dalam kajian tradisi lisan. Formula dan komposisi formulaik adalah ciri atau hakikat kelisanan yang dapat ditemukan dalam teks kajian tradisi lisan seperti bailau. Berdasarkan hasil perekaman dan transliterasi teks bailau, ditemukan beberapa ragam teks bailau sesuai dengan fungsi pertunjukannya. Selain itu, kajian ini juga menghasilkan beberapa bentuk pengulangan yang sangat kaya yang terdapat dalam teks. Dalam hal itu, ancangan Lord merupakan suatu alternatif pendekatan teoretis yang sesuai untuk menelaah teks bailau.

 

Sastra Lisan di Suku Dayak Kanayatn

HERITAGE 0
SPORTOURISM— Sastra  lisan adalah cerita dan non-cerita yang hidup dalam keseharian Suku Dayak, yang dituturkan secara langsung oleh nenek moyang suku Dayak secara turun temurun.
Tradisi lisan ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat Dayak, sebab dari tradisi lisan inilah dapat diketahui pemikiran, sikap, dan perilaku masyarakat Dayak. Selain itu dalam tradisi lisan ini mengandung filsafat, etika, moral, estetika, sejarah, seperangkat aturan adat, ajaran-ajaran agama asli Dayak, ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, serta hiburan rakyat. Bagi suku Dayak tradisi lisan menghubungkan generasi masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.
Di bawah ini beberapa jenis sastra lisan Dayak dari kelompok cerita:
  1. Singara
 Singara adalah cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat. Cerita itu berupa cerita jenaka, cerita pelipur lara, cerita binatang, dan cerita kasih sayang.
Cerita jenaka, misalnya cerita tentang Pak Ali-ali yang bisa membuat tawa bagi yang mendengarkannya.
“Di musim hujan ketika air sedang pasang, Pak Ali-ali yang pemalas disuruh istrinya mencari ikan dengan menggunakan bubu. Awalnya Dia merasa enggan, tapi karena istrinya terus merengek-rengek akhirnya pak Ali-ali mengikuti keinginan istrinya.
Malam itu ia mulai memasang bubu. Pagi harinya ketika diangkat, tak satu pun ikan yang ia peroleh. Ia pun membawa bubunya ke rumah dan melaporkannya ke pada istrinya.
Istrinya marah-marah dan berkata : “ Dasar bodoooh kao Pak Ali-ali, seko’ saluakng buta’ pun kao na’ namu. Dah…..kao gago’ agi ikatn ka’ sunge. ”
Sambil menghukum Pak Ali-ali tidak diberi makan. Terpukul oleh kata-kata istrinya “sekok saluakng buta’ pun na’ namu”—seekor seluang buta pun tak dapat,  akhirnya ia pun pasang bubu lagi. Kali ini ia dapat ikan penuh satu bubu. Tapi begitu dicek satu persatu tidak satu seluangpun yang buta. Akhirnya semua ikan seluang dan ikan yang lain dilepaskannya lagi ke sungai. Ia pun pulang dan melaporkan bahwa ikan yang didapatnya sudah dibuang ke’ sungai semua, karena tidak ada yang buta”. 
  1. Gesah
 Gesah adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama lama suku Dayak, sosok kepahlawanan, asal usul benda atau  kehidupan manusia. Contoh gesah misalnya tentang Ne’ Baruakng Kulup dengan asal usul padi turun ke dunia. Gesah Ria Sinir yang terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Gesah Pak Kasih yang berjuang merebut kemerdekaan.
  1. Osolatn
 Osolath adalah kisah asal usul keturunan suatu suku, atau keluarga. Contoh Osolatn dapat dilihat pada asal usul kehidupan manusia di bumi menurut kepercayaan Dayak Kanayatn.
 “Pada mulanya, pada perkawinan kosmis di Pusat Ai’ Pauh Janggi kemudian tercipta Kulikng Langit dua Putar Tanah (Kubah langit dan Kubah bumi), yaitu Sino Nyandong dan Sino Nyoba memperanakan Si Nyati Anak Balo Bulatn Tapancar Anak Mataari (Nyati Putri Bulan dan Putra Matahari). Memperanakan Iro-iro man Angin-angin ( Kacau Balau dan Badai), memperanakan Uang-uang man Gantong Tali (udara mengawang dan Embun menggantung), memperanakan Tukang Nange man Malaekat (Pandai Besi dan Bidadari), memperanakan Sumarakng Ai’ man Sumarakng Sunge (segala air dan segala sungai), memperanakan Tunggur Batukng man Mara Puhutn (Bambu dan Pepohonan) memperanakan Antuyut man Marujut (Akar-akaran dan Umbi-umbian) memperanakan Popo’ man Rusuk (Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga).  
Kesejukan Lumpur adalah perempuan dan tulang iga adalah laki-laki. Selanjutnya Popo’ man Rusuk Memperanakan Anteber dan Guleber. Anteber dan Guleber inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang Dayak Kanayatn. Setelah menjadi manusia, selanjutnya, Anterber dan Guleber melahirkan anak-anaknya dan kemudian dalam waktu cukup lama melahirkan anak cucu, sehingga dengan demikian, semakin banyaklah anak manusia di bumi”.
  1. Batimang
 Batimang adalah kegiatan yang bersifat hiburan atau pelipur hati atau bujukan oleh para orang tua untuk anak-anak. Batimang dilakukan pada saat senggang atau saat mau tidur. Batimang dapat dilakukan pada ungkapan pepatah, pantun atau lagu.
 Berikut ini contoh pepatah:
  1. Abeh gi ka’ bahu, lajak udah bajalatn. Maksudnya Ia masih merencanakan sesuatu tapi rencananya sudah disebarluaskan.
  2. Jantek siku siku tulakng takar. Maksudnya Perbuatan yang serba salah.
Batimang dalam bentuk lagu dapat dilihat dari syair batimang padi berikut ini:
alinsikng papatn inge, tangilikng ka’ surambi
Nek Gasikng turutn pene, bakulilikng tangah sami’
Ansuit dalapm langko, nyingkubakng tongkoktn tanga’
Ne’ Ulit-ulit nyaru’ leko, Nek Baruakng maba pangka’
Nyingkubakng tongkotn tanga’, bakoro nangah sare
Nek Baruakng maba pangka’, baleko tangah pante
Bakoro nangah sare, tarad pulo bantatn
Baleko tangah pante, pangka’ tangah laman
Tarada pulo bantatn, barapi oncok limo
Pangka’ tangah laman, padi turutn ka talino
Barapi oncok limo, angkala’ pamumpunan
Padi turutn ka talino, pangka’ bakaturunan
Angkala’ pamumpunan, bajantok ka’ talidi
Pangka’ ba katurunan, Nek Tingkakok batimang padi
Bajantok ka talidi, satangkakng tama bubu
Nek Tingkakok batimang padi, padi atakng lalu baribu
Satangkakng tama’ bubu, baui raba pango’
Padi atakng lalu baribu, ia tama dalapm dango
Baui raba pongo, satangkakng batakng munukng
Padi tama’ dalapm dango, lalu atakng da’ Nek Untukng
Satangkakng batakng munukng, kandis bunga lada
Atakng da Nek Untukng, minta tulis ka Jubata
Kandis bunga lada, mampak kayunya raya
Minta’ tulis ka jubata, ia baranak menjadi raya
Karake’ ada sakojek, bajuntukng pucuk sangkuakng
Minta tele’ ka Nek Sijaek, minta unsur ka Nek Baruakng 
  1. Pantutn
 Pantutn atau pantun merupakan cerita yang berisi nasihat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun terdiri dari empat baris bersajak ab-ab, dua baris sampiran dan dua baris isi.
 Sampirannya menarik karena kata-katanya berasal dari lingkungan kehidupan. Pantun banyak dipraktekkan dalam kesenian jonggan, berkomunikasi di mototn dan menoreh getah. Tokoh pantun yang terkenal media elektronik yang berasal dari Desa Rees adalah Pak Namben dijuluki Si Raja Pantun.
 Berikut ini salah satu pantun hasil karyanya:
Tuhan dan Manusia
Beli gulamerah susah bawa galah
Ke sebuah lahan nabur palawija
Lagi muda gagah, Sudah tua lemah
Begitulah Tuhan mengatur manusia

Mahasiswa Tirakatan boleh jajan
Bahan gula sediakan niranya
Manusia diciptakan oleh Tuhan
Jangan lupa muliakan namaNya

Agar menarik dan merdu didengar, pantun juga dapat dinyanyikan saat melakukan pesta adat , atau upacara syukuran lainnya. Biasanya pantun dinyanyikan pada jenis kesenian jonggan yaitu musik tradisional Dayak Kanayatn menggunakan gong, dau, duma, dan suling.
Lagu-lagu yang sering dinyanyikan adalah Kayu ara, Kambang bapanggel, dan ma’inang serta banyak lagi lagu yang lain. Lagu-lagu itu merupakan lagu legendaris Dayak Kanayatn yang sangat digemari oleh semua kalangan baik tua maupun muda. Saat ini lagu-lagu itu dimodifikasi kedalam musik moderen.
  1. Sungkaatn
Cerita dalam bentuk perumpamaan/pepatah disebut dengan sungkaatn. Perumpamaan atau pepatah yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar tentang peringatan,penjelasan atau nasehat. Biasanya kata - kata yang digunakan adalah bahasa formal adat. Berikut ini adalah contoh sungkaatn.
  1. Saenek-enek udas, paling ina’ tupe jejek ka’ dalapmnya. Maksudnya pada sebuah komunitas paling tidak satu orang menjadi pemimpinnya.
  2. Suka mani’ ka’ Daya maksudnya sesorang yang selalu mengaku dirinya lebih hebat dari yang lain. Kebalikan dari pepatah ini adalah Suka mani ka’ ilir yang maknanya seseorang selalu merendahkan dirinya meskipun ia sesorang pemimpin. 

7        Salong 
Salong adalah cerita dalam bentuk sindiran atau ejekan terhadap suatu kebiasaan, atau perilaku yang kurang baik di masyarakat. Salong berusaha memperbaiki Sifat,perilaku, dan perbuatan yang tidak sesuai dengan adat atau kebiasaan yang berlaku umum. Contoh salong adalah sebagai berikut : 
1). Sayang istri, dipukul
Sayang ke anak di tinggalkan ; maksudnya bekerja keraslah mencari nafkah untuk anak istri.
2). Ujatna’ abut koa ; maksudnya salong untuk anak yang menangis.
3). Angus padakng dinunu ; maksudnya kebohongan yang disampaikan dipercaya pendengar.
4). Katungo ka’ jauh katele’atn, Babotn ka’ samaknya nana’ ia tele’’ : Maksudnya kesalahan orang orang dibesar-besarkan, kesalahan sendiri ditutupi. [  ]
Sumber  : akademidayak

 Bijbelgenootschap
 atau Lembaga Alkitab Belanda menugaskan para penyiar agama nasrani untuk menerjemahkan kitab injil dalam berbagai bahasa Nusantara dan meneliti bahasa dan kesusastraan suku bangsa di Nusantara. Selanjutnya pada awal abad 20, beberapa ahli antropologi dan ahli folklor seperti W. Schmidt, W.H Rasser, Jan de Vies, dan lain-lain, yang mengolah lebih lanjut bahan-bahan yang telah dikumpulkan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Setelah kemerdekaan, tulisan-tulisan cerita rakyat saling bermunculan di majalah, surat kabar, dan penulisan dalam bentuk buku. Oleh karena usaha tersebut kurang memuaskan, maka pemerintah membuat proyek
 Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan  Daerah
 yang dikerjakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nilai-nilai yang terkandung dalam sastra lisan
Sastra lisan biasanya dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya atau dituturkan oleh seorang tukang cerita kepada masyarakat. Oleh karena interaksi yang langsung antara  pencerita dan penikmat, maka membuat sastra lisan menjadi bersifat komunal, yaitu suatu rasa kepemilikan bersama. Hal ini berbeda dengan sastra tertulis yang bersifat individual, karena dinikmati sendiri dan tidak membutuhkan interaksi langsung antara pencerita dan  penikmat. Hutomo mengungkapkan (Hutomo, 1991:69-70) berbagai fungsi sastra lisan dalam masyarakat, yaitu:
 pertama
¸berfungsi sebagai sistem proyeksi pada bawah sadar manusia terhadap suatu angan. Pada fungsi ini, cerita memberikan jalan kepada pembaca untuk  bermimpi akan suatu hal.
 Kedua
¸ sastra lisan berfungsi sebagai pengesahan kebudayaan. Pada fungsi kedua ini, cerita memberikan suatu jalan keluar dari pertanyaan masyarakat tentang asal-usul dari suatu upacara, tempat, dan lain sebagainya.
 Ketiga,
 sastra lisan  berfungsi sebagai alat pemaksa berlakunya norma sosial dan sebagai alat pengendali sosial. Jadi sastra lisan berusaha membatasi atau bahkan mengendalikan suatu norma dalam masyarakat agar tidak terjadi disintergrasi di dalamnya.
 Keempat 
¸sebagai alat pendidikan anak. Di sini sastra lisan digunakan untuk mendidik dan membentuk anak agar memiliki kepribadian yang baik.
Pengaruh sastra lisan terhadap kesusastraan Indonesia modern
Kesusastraan Indonesia modern banyak dipengaruhi oleh kesusastraan barat, seperti kesusastraan periode Pujangga Baru yang dipengaruhi oleh kesusastraan Belanda angkatan
’80
(De Tachtigers).
Hal ini disebabkan karena adanya keinginan untuk berinovasi dan adanya kontak langsung dengan budaya baru. Akan tetapi, ada beberapa sastrawan yang mencoba menghidupkan kembali sastra lisan, misalnya Sutardji Calzoum Bachri. Pada tahun 1970-an Sutardji Calzoum Bachri mulai membuat puisi lisan lama yaitu mantra. Mantra adalah nyanyian suku primitif pada zaman pra-sejarah yang digunakan untuk
 
3
membangkitkan tenaga sihir dan magis. Berikut adalah salah satu sajak Sutardji Calzoum Bachri yang berbentuk mantra.
Amuk
…. aku bukan penyair sekedar 
 aku depan depan yang memburu membebaskan kata memanggilMu  pot pot pot  pot pot kalau pot tak mau pot biar pot semau pot mencari pot  pot hei Kau dengar manteraku kau dengar kucing memanggilMu izukalizu  pot hei Kau dengar manteraku kau dengar kucing memanggilMu izukalizu mapakazaba itasatali tutulita papaliko arukabazaku kodega  zuzukalibu tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco  zukuzangga
 zegezegeze zukuzangga zegezegeze aahh…!
 nama kalian bebas carilah tuhan semaumu
Rachmat Djoko Pradopo (Pradopo, 1995:51) menjelaskan bahwa ciri estetik suatu mantra mempergunakan sarana kepuitisan berupa: ulangan kata, ulangan frasa atau kalimat  berupa pararelisme, dikombinasikan dengan hiperbola, dan enumerasi untuk mendapatkan efek yang sebanyak-banyaknya. Di samping itu, juga digunakan kata-kata yang secara linguistik tak berarti. Dari sajak di atas, dapat dilihat bahwa Sutardji menggunakan ulangan kata seperti kata
“pot”,
 ulangan frase seperti frase
“kau dengar kucing memanggilMu”
, dan kata-kata tak berarti seperti
tutulita papaliko arukabazaku kodega”
. Selain puisi, dunia cerpen Indonesia juga terlihat adanya pengaruh dari sastra lisan. Hal ini terlihat pada cerpen berjudul
Teman Duduk 
 karya M. Kasim dan cerpen berjudul
 Kawan Bergelut 
 karya Suman HS. Kedua cerpen tersebut masih berakar pada khasanah sastra tradisional Indonesia yang bercirikan jujur, segar, jernih, optimis, dan sederhana. Selanjutnya, jenis sastra Indonesia modern lain yang dipengaruhi oleh sastra lisan adalah novel atau roman. Dalam perkembangannya yang relatif lamban, pengaruh sastra lisan terhadap novel atau roman Indonesia terletak pada alurnya yang bersifat kronologis. Taum (Taum, 2011:60) beranggapan bahwa hal ini dikarenakan novel Indonesia masih sukar menerima sesuatu yang baru

dan memilih untuk bertahan dengan konvensi
 
4
tradisional. Novel-novel yang bersifat kronologis banyak didominasi oleh periode Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Sebagai contoh novel yang beralur kronologis adalah novel
 Azab dan Sengsara
 karya Merari Siregar. Novel ini bercerita tentang cinta yang tak sampai antara dua anak muda yaitu Aminuddin dan Mariamin karena terhalang restu orang tua. Mereka saling mencintai sejak di bangku sekolah. Akan tetapi, akhirnya mereka harus kawin dengan orang yang bukan pilihannya sendiri. Keputusan ini berakibat tak ada kebahagiaan dalam hidup mereka. Tokoh Mariamin mati muda karena merana setelah cerai dengan suami yang tidak dia cintai. Dari sinopsis tersebut dapat dilihat bahwa alur dalam novel
 Azab dan Sengsara
 adalah kronologis. Hal ini dikarenakan tahapan dalam novel tersebut adalah perkenalan, permunculan masalah, konflik, klimaks, antiklimaks,  penyelesaian.
Simpulan
 Seni tradisi harus dipisahkan dari pikiran memperlawankan antara seni tradisi dan modern. Seni tradisi harus ditaruh sebagai seni yang didukung dan dikembangkan oleh masyarakat tradisional (pengekspresian dengan ungkapan baik suara, gerak, wacana lisan) (Sutrisno, 2013:109). Sastra lisan yang termasuk dalam seni tradisi memang harus didukung dan dilestarikan. Hal ini dikarenakan banyaknya nilai-nilai yang terkandung dan pengaruhnya terhadap kesusastraan Indonesia modern. Akan tetapi dukungan dan pengembangan sastra lisan maupun seni tradisi hendaknya berasal dari semua pihak. Mulai dari masyarakat hingga para pembuat kebijakan karena seni tradisi bukan hanya milik kelompok tertentu, tetapi milik semua masyarakat Indonesia.
Daftar Pustaka
Danandjaja, James. 1984.
 Folklor Indonesia: Ilmu gossip, dongeng, dan lain-lain
. Jakarta: Grafiti Pres Hutomo, Suripan Sadi. 1991.
 Mutiara yang terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan
. Surabaya : HISKI Jawa Timur 

Pradopo, Rachmat Djoko. 1995.
 Beberapa teori sastra, metode kritik, dan penerapannya
. Yogyakarta: Pustaka pelajar 

Sumardjo, Jakob. 1992.
Sinopsis Roman Indonesia.
 Cetakan ke-4. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti Sutrisno, Mudji. 2013.
 Ranah-ranah kebudayaan.
Cetakan ke-5. Yogyakarta: Kanisius Taum, Yoseph Yapi. 2011.
Studi sastra lisan: sejarah, teori, metode, dan pendekatan disertai contoh penerapannya.
Yogyakarta: Lamalera


Menyingkap Potensi Sastra Lisan di Indonesia

 SASTRA lisan merupakan inventaris berbagai fenomena budaya yang hidup dalam suatu komponen masyarakat. Pewarisan secara oral dalam sastra lisan berpotensi melahirkan banyak variasi dan versi. Hal inilah yang menjadikan sastra lisan hadir dengan eksistensi dan potensinya sendiri.
Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) mengeksplorasi potensi sastra lisan di Indonesia ini dalam seminar nasional sastra lisan 2017, Rabu (18/10) di Gedung Aula Fakultas Sasra E6 UM.
Sebagaimana dikatakan Prudentia MP, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Dosen FIPB Universitas Indonesia, banyak sekali potensi sastra lisan di Indonesia yang belum terjamah. Akan menjadi potensi dan peluang besar bagi para pegiat sastra untuk meneliti dan mengelaborasi hal ini lebih jauh.
Sastra lisan mengandung banyak sekali nilai luhur, baik secarai moral, spiritual, budi pekerti, dan pendidikan karakter. Sastra lisan hadir dengan ciri khas yang menjadi eksistensi dan keunikan tersendiri bagi masyarakatnya. Hal ini yang menjadikan masyarakat memiliki identitas yang kuat.
Lebih lanjut, guru besar UM, Maryaeni, menegaskan, sastra lisan harus mengalami perjalanan yang dinamis agar bisa berdaptasi dengan era global. Revitalisasi adalah salah satu cara mempertahankan eksistensi sastra lisan di Indonesia.
Selain konservasi, modernisasi juga menjadi salah satu tujuan bagi sastra lisan di era mendatang. Semua bergantung pada bagaimana upaya masyarakat melestarikan budaya lokal lisan di daerahnya dalam wujud yang bisa diterima dan dinikmati oleh masyarakat.
“Saya sepakat. Oleh karena itu, masyarakat harus berpikir sekreatif mungkin dalam mengangkat dan menggali lagi potensi sastra lisan ini. Masyarakat perlu terjun ke dalam industri kreatif dan membuat perubahan yang lebih lokal, orisinil, dan berkarakter,” tambah Novi Anggraeni, salah satu pembicara kunci dalam seminar tersebut.
Seminar ini juga menghadirkan beberapa pertunjukan seni khas Indonesia, di antaranya Tari Gandrung Banyuwangi yang diperagakan oleh mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia UM, penampilan Wayang Suluk, Wayang Golek, dan Prosesi Ikrar Kajat dengan pembacaan tembang macapat oleh Mbah Ngari, sesepuh Desa Gondowangi, Wagir.

Cerita pendek

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Text document with red question mark.svg
Artikel ini sudah memiliki daftar referensi, bacaan terkait atau pranala luar, tetapi sumbernya masih belum jelas karena tak memiliki kutipan pada kalimat (catatan kaki). Mohon tingkatkan kualitas artikel ini dengan memasukkan rujukan yang lebih mendetail bila perlu.
Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

Daftar isi

Sejarah

Asal usul

Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama. Adapun irama tersebut berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya.
Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.
Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.
Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongeng tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18.

Cerita-cerita pendek modern

Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824–1826), Evenings on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov.
Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.
Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.
Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.

Unsur dan ciri khas

Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya. Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu:

Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
  • Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber pada cerita.
  • Latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
  • Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
  1. Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
  2. Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
  3. Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
  1. Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
  2. Penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
  3. Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
  4. Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
  5. Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
  • Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
  1. Dialog tokoh
  2. Penjelasan tokoh
  3. Penggambaran fisik tokoh
  • Tokoh
Tokoh adalah orang orang yang diceritakan dalam cerita dan banyak mengambil peran dalam cerita. tokoh dibagi menjadi 3, yaitu:
  1. Tokoh Protagonis : tokoh utama pada cerita
  2. Tokoh Antagonis : tokoh penentang atau lawan dari tokoh utama
  3. Tokoh Tritagonis : penengah dari tokoh utama dan tokoh lawan
  • Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
  • Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
  • Latar belakang kehidupan pengarang
  • Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan

Ukuran

Menetapkan apa yang memisahkan cerita pendek dari format fiksi lainnya yang lebih panjang adalah sesuatu yang problematik. Sebuah definisi klasik dari cerita pendek ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (hal ini terutama sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe "The Philosophy of Composition" pada 1846). Definisi-definisi lainnya menyebutkan batas panjang fiksi dari jumlah kata-katanya, yaitu 7.500 kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita pendek umumnya merujuk kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.
Cerita yang pendeknya kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction). Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita pendek digolongkan ke dalam novelette, novella, atau novel.

Genre

Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa lirik dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme baru.

Cerita pendek terkenal

·  "Yours Truly, Jack the Ripper" oleh Robert Bloch
·  "Cathedral" oleh Raymond Carver
·  "The Overcoat" oleh Nikolai Gogol (teks online — terjemahan dari bahasa Rusia)
·  "In der Strafkolonie" oleh Franz Kafka (teks online terj. Inggris dari bahasa Jerman)
·  "A Good Man Is Hard to Find" oleh Flannery O'Connor (teks online)

 

WACANA PERUBAHAN DAN ADAPTASI SASTRA LISAN
DI INDONESIA
Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum.
Pengantar
Sastra lisan adalah salah satu perwujudan sastra yang memiliki kekhasan. Ciri khusus sastra lisan bahwa jenis sastra ini kehadirannya melekat dengan “artis”. Hal ini berbeda dengan sastra tulis yang setelah selesai di tulis, maka sastra tersebut akan menjadi sastra “yatim piatu” dan sang pengarang dianggap tewas sudah (the death of the author) (Barthes, 1987:8).
Dalam komunikasi sastra lisan ada empat unsur yang penting untuk tercapainya komunikasi tersebut. Keempat unsur komunikasi tersebut harus hadir secara serempat dalam penyajian sastra lisan (Sudardi, 2002:2). Keempat unsur tersebut ialah:
(a) artist;
(b) story;
(c) performance; dan
(d) audience.
Artist (artis/ seniman) adalah orang yang menyajikan sastra lisan tersebut. Artis ini dapat disejajarkan dengan pemancar dalam konsep Jakobson di atas. Artis ini dapat tunggal, namun dapat pula berkelompok. Dalam menyajikan seorang artis pada prinsipnya menggunakan sarana utama berupa lisan. Namun sarana tersebut dapat dilengkapi dan didukung dengan sarana lain seperti gerakan, iringan. Dengan demikian menjadi jelas perbedaan antara sastra tulis dan sastra lisan. Dalam sastra lisan, kehadiran artis adalah mutlak sementara dalam sastra tulis kehadiran artis (pengarang) sudah tereliminir. Dalam sastra elektronik (TV, radio, rekaman) kehadiran artis tersekat, tertunda, atau bahkan tertinggal) yang tidak memungkinkan lagi artis untuk berkomunikasi langsung dengan audience-nya.
Story identik dengan pesan yang disampaikan. Pesan ini disampaikan dalam bentuk kode-kode bahasa yang secara naluriah sudah dipahami baik oleh artis maupun audience. Story ini berupa cerita yang sumbernya dapat berasal dari berbagai macam. Sumber tersebut dapat berupa cerita turun-menurun, kitab-kitab bacaan, cerita yang berkembang di masyarakat, cerita karangan, dan sebagainya. Sumber-sumber penyusunan cerita tersebut dapat dikatakan sebagai bahan mentah (raw material). Namun, sumber-sumber tersebut belum dapat dikatakan sebagai sastra lisan sebelum diadakan suatu performance.
Wujud nyata dari suatu sastra lisan adalah performance. Tidak ada sastra lisan tanpa performance. Performance ini dapat berupa pertunjukkan yang sederhana sampai pada pementasan yang hingar bingar seperti dalam pementasan wayang, ketoprak, dan teater modern. Seorang ibu yang bercerita kepada anaknya dalam rangka menurunkan cerita sebenarnya juga mengadakan performance. Dalam bercerita tersebut si ibu menggunakan berbagai kemampuannya untuk bercerita seperti mengubah volume suara, membuat peragaan dengan tangannya, mengubah nada suara, membuat perumpamaan, dan sebagainya.
Audience adalah unsur yang harus dipenuhi adanya untuk tersajikannya sastra lisan. Audience ini adalah penonton atau penikmat. Peran audience tampak jelas pada point of view. Karya sastra lisan biasanya disajikan oleh artis dalam bentuk orang ke-3 (metode diaan). Hal ini berbeda dengan sastra tulis yang artisnya (pengarang) tidak kelihatan sehingga memungkinkan dipakainya point of view orang pertama. Aku dalam sastra tulis tidak identik dengan aku-pengarang. Dalam sastra lisan, karena adanya jalur komunikasi langsung antara artis dan audience, maka penggunaan kata aku akan berarti artis itu sendiri sehingga kata tersebut harus dihindari, kecuali dalam kasus artis memerankan salah satu tokoh dalam suatu cerita.
Audience bukanlah unsur yang harus hadir secara fisik untuk terselenggaranya performance sastra lisan. Audience ini dapat hadir secara imajiner di dalam khayal artis. Hal ini dapat terjadi, misalnya dalam pementasan sastra lisan melalui TV seorang artis dapat menyapa audience imajiner ini dengan sebutan “Wahai pemirsa”. Ketika seorang artis sastra lisan berlatih sendirian di dalam kamarnya, sebenarnya ia juga tampil di hadapan audience imajiner ini. Dalam realitas, audience ini dapat mengarahkan jalannya performance. Audience juga dapat secara langsung berkomunikasi, dalam arti luas, dengan artis.
Penonton yang beramai-ramai meninggalkan tempat pertunjukkan secara tiba-tiba, bersorak-sorak kegirangan, melempar rokok, berkomentar, nyeletuk, duduk khitmat, dan sebagainya akan mempengaruhi penampilan artis. Hal seperti ini yang tidak dapat dilakukan oleh audience imajiner. Namun, audience imajiner juga mempengaruhi artis. Dalam kasus tertentu, di hadapan audience imajiner ini seorang artis akan bertindak lebih tenang dan semaunnya.
Karena sastra lisan erat kaitannya dengan masyarakat, kadang-kadang jenis sastra ini tidak dikaji sebagai bentuk sastra. Sastra lisan sering menjadi anak tiri di dunia sastra kita. Yang banyak memperhatikan sastra lisan justru kajian seni pertunjukkan, antropologi, folklor, sementara para sarjana sastra justru mengabaikan, bahkan ada yang menganggap bukan sebagai sastra.
Kita memang terlalu lama terkungkung dengan pengertian sastra yang menganggap bahwa sastra adalah sesuatu yang tertulis. Di dalam bahasa Jawa, misalnya, arti sastra adalah “tulisan”. Entah bagaimana sejarahnya sampai dewasa ini pengertian sastra pada umumnya masih diartikan sebagai “karya tertulis”. Bahkan, Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai suatu kamus paling bergengsi di Indonesia masih mendudukkan sastra lisan sebagai bagian lain dari sastra (lihat Alwi dkk., 2001: 1002). Dalam kamus ini sastra lisan didefinisikan sebagai “hasil kebudayaan lisan dalam masyarakat tradisionil yang isinya dapat disejajarkan dengan sastra tulis dalam masyarakat modern”. Definisi ini memberi arti bahwa sastra lisan bukanlah sastra, melainkan mirip dengan sastra saja. Pengertian ini membatasi adanya sastra lisan hanya pada masyarakat tradisionil saja. Sementara masyarakat modern dianggap hanya memiliki sastra tulis, dan tidak memiliki sastra lisan.
Eksistensi sastra lisan akan selalu eksis selama masih diperlukan masyarakat pendukungnya. Sastra lisan adalah bagian dari dinamika kehidupan masyarakat dan masyarakat pemilik sastra lisan itu sendiri yang menentukan nasib suatu bentuk sastra lisan untuk tetap eksis atau pun ditinggalkan. Hal itu tampak nyata dari dinamika sastra lisan di Indonesia yang sebagian masih eksis dan melakukan suatu adaptasi dengan perubahan zaman, sebagian “gulung tikar” untuk lenyap selama-lamanya atau terdukumentasi dan tinggal menjadi kenangan bagi generasi selanjutnya.
Makalah ini berusaha mengangkat dinamika sastra lisan di Indonesia, lebih khusus lagi di Jawa mengingat bahwa sastra lisan di Jawa dewasa ini yang paling nyata menampakkan dinamika. Hal ini tidak berarti bahwa sastra lisan di Jawa yang paling dinamis, tetapi akibat sastra lisan di Jawa ini paling banyak dieksplorasi dan dimunculkan dalam media elektronik sehingga lebih dikenal masyarakat luas.
Sastra Tutur
Pada dasarnya sastra lisan dapat dibagi dua, yaitu sastra tutur dan sastra pertunjukkan. Salah satu contoh sastra tutur adalah kentrung. Kentrung adalah suatu jenis sastra lisan berupa penceritaan lisan yang dilakukan oleh dalang kentrung kadang-kadang dibantu oleh panjak atau pengiring dalang. Di dalam menyampaikan cerita, dalang kentrung sering mengiringinya dengan tabuhan rebana dan kendang. Kentrung ini memiliki penyebaran di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama di wilayah pesisir. Di dalam menyampaikan cerita, dalang kentrung tidak menggunakan peraga.
Model seni mirip kentrung juga terdapat di berbagai kelompok masyarakat. Jenis seni bercerita dan asalnya dapat dilihat di dalam tabel berikut:
Nama Seni Bercerita
Daerah Asal
Jemblung, Kentrung, Templing
Jawa Tengah/ Jawa Timur
Bakaba
Sumatra Barat
Jeilehim
Sumatra Selatan
Warahan
Lampung
Bapandung, Basyasyairan
Kalimantan Selatan
Cepung
Bali
Pantun
Jawa Barat
Awang Belanga/ Awang Batil
Perlis, Malaysia
Pelipur lara
Melayu
Tanggomo
Gorontalo
Kentrung biasanya menyampaikan cerita-cerita tradisionil yang diselingi dengan puisi-puisi Jawa (pantun). Pantun tersebut mengandung pesan yang bermacam-macam dan sering tidak ada kaitannya dengan jalan cerita. Isi pantun dapat berupa sindiran, nasihat, ratapan, dan sebagainya. Contoh pantun yang terdapat di dalam kentrung adalah sebagai berikut (lihat Hutomo, 1993).
Sore-sore menyang Semarang
Numpak sepur adoh parane
Nyambut gawe aja wedi wirang
Pokok jujur tindak lakune

Wayah magrib lak nyang kali
Lampu-lampu ndang sumetana
Mumpung ijik urip ayo ndang ngulir budi
Limang wektu ndang lakonana
Abang-abang ora luntura
Wong sing ijo malihe putih
Isih bujang ora ngluyura
Sing duwe bojo ora tau mulih
Tokoh yang secara intensif meneliti sastra lisan, khususnya kentrung adalah almarhum Suripan Sadi Hutomo. Menurut Suripan, isi cerita kentrung dapat dibagi menjadi delapan kelompok, yaitu:
(1) cerita tentang seorang nabi,
(2) cerita tentang kehidupan Nabi Muhammad,
(3) cerita pahlawan Islam dari Timur Tengah,
(4) cerita yang terjadi di salah satu negara di Timur tengah,
(5) cerIta tentang seorang Wali,
(6) cerita yang bersumber dari babad,
(7) cerita yang bermain di lingkungan pesantren, dan
cerita Murwakala (Sudikan, 2001:144).
Dewasa ini, kentrung tampak tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Kentrung menjadi ciri khas masyarakat agraris marginal di pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belum ditemukan terobosan baru untuk tetap menjaga kentrung ini eksis. Dalang kentrung rata-rata sudah tua dan mereka tidak memiliki kader penggantinya. Kentrung tampaknya akan segera memasuki era konservasi danm enjadi kenangan di dalam zaman yang berubah cepat ini. Hal senasib juga melanda jenis tradisi bertutur di daerah lainnya.
Wayang
Wayang adalah jenis sastra lisan yang dewasa ini paling menonjol, khususnya wayang kulit purwa. Bebeda dengan kesenian kentrung yang mengandalkan pada tuturan, maka kesenian wayang sudah menggunakan boneka sebagai alat peraganya. Bila diperhatikan dari bentuk penceritaan, tampaknya wayang merupakan pengembangan dari bentuk bercerita seperti kentrung (Sudardi, 2002:78).. Dalam sejarah tradisinya, wayang kemudian masuk ke dalam tradisi istana sehingga banyak mengalami penyempurnaan, baik dalam hal boneka, maupun dalam hal musik sebagai pengiringnya pertunjukkan.
Secara harfiah, kata wayang sebenarnya berasal dari kata bahasa Jawa Kuna wawayang yang dapat diartikan bayangan. Dalam bahasa Jawa Kuna, kata wayang kemudian mendapat arti khusus, yakni pertunjukkan cerita dengan boneka/ penari, tokoh dalam pertunjukkan wayang, dan boneka wayang. Di samping itu, wayang juga merupakan nama wuku (penanggalan tujuh harian) (Zoetmulder dan Robson, 1982:1406). Padanan kata wayang, dalam pengertian sebagai pertunjukkan, adalah ringgit.
Kata wayang setidaknya sudah sejak ada tahun 907 terbukti dengan disebutkannya istilah mawayang dalam prasasti dari zaman Raja Balitung (Holt, 1967:128). Karena ketuaannya tersebut, dalam sejarah perkembangannya kata wayang telah mengalami banyak perubahan dan perkembangan.
Sebagai bentuk pertunjukkan, wayang dapat diartikan sebagai suatu bentuk pementasan yang bahan-bahannya diambil dari kehidupan nyata. Jadi, wayang dapat diartikan sebagai bentuk teater sandiwara dalam pengertian dewasa ini. Sebenarnya wayang merupakan gambaran setidaknya harapan mengenai dunia nyata. Karena itu, pementasan wayang pada hakikatnya selalu mengandung hal-hal kontemporer. Jadi, teater wayang secara metaforis berarti bayang-bayang kehidupan nyata. Dengan demikian, ada tidaknya permainan bayang-bayang bukan menjadi hal mutlak dalam pertunjukkan wayang. Pementasan wayang yang dengan nyata memanfaatkan efek bayangan adalah wayang kulit/ wayang purwa. Dewasa ini setidaknya dikenal berbagai bentuk wayang yang tidak menggunakan efek bayangan seperti wayang orang, wayang golek, dan wayang klitik.
Karena cerita wayang merupakan bayangan metaforis kehidupan nyata, maka di dalam bagian tertentu cerita wayang selalu disisipkan hal-hal yang diidentikan dengan dunia nyata. Hal tersebut misalnya tampak dalam Arjunawiwaha. Kehebatan Arjuna dalam bertapa dan melawan musuh diidentikan dengan kehebatan Raja Airlangga dalam bertapa dan menumpas musuh-musuhnya. Bharatayudha yang ditulis pada masa Raja Jayabhaya dari Kediri tidak lain merupakan gambaran kehebatan raja tersebut dalam menaklukkan musuh-musuhnya yang sebagian sebenarnya saudaranya (Berg, 1974:67-70, Zoetmulder, 1985:310 & 364).
Tentang kapan munculnya wayang di Indonesia sampai saat ini masih menjadi bahan diskusi. Beberapa ahli menyatakan bahwa wayang sudah muncul sejak zaman prasejarah yang diperkirakan pada tahun 1500 sebelum Masehi (Mulyono, 1978b:3). Hal ini berdasarkan asumsi bahwa wayang merupakan tradisi asli bangsa Indonesia dan munculnya wayang sejalan dengan munculnya masyarakat di Nusantara ini. Namun demikian, pendapat ini kurang didukung bukti-bukti yang lengkap, masih berdasar dugaan.
Menurut bukti-bukti tertulis, wayang diperkirakan muncul pada tahun 840. Menurut prasasti Jaha yang dikeluarkan oleh Maharaja Sri Lokapala dalam sebuah piagam bagi pembebasan Kuti disebutkan adanya pegawai yang disebut aringgit yang diartikan sebagai para aktor (Holt, 2000:428). Kata ringgit adalah padanan kata wayang sehingga kata aringgit diduga merupakan aktor pemain wayang. Hanya saja di sini belum jelas model permainan wayang tersebut.
Berita tentang adanya istilah wayang ditemukan dari prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada tahun 907. Prasasti ini merupakan pengukuhan atas sebuah desa Sangsang sebagai sebuah perdikan (Holt, 2000:431). Di dalam prasasti tersebut ditemukan istilah “mawayang buat Hyang”. Disebutkan pula bahwa cerita-cerita yang diambil adalah cerita-cerita dari Ramayana dan Mahabharata.
Masyarakat Jawa merupakan masyarakat di Indonesia yang memiliki paling banyak jenis wayang dan mempunyai pengaruh yang luas. Berdasarkan peraga yang digunakan, wayang di dalam masyarakat Jawa dapat dibagi menjadi 5 jenis utama wayang, yaitu:
(1) wayang kulit;
(2) wayang klitik/ krucil (menceritakan Damarwulan);
(3) wayang golek (menceritakan Amir Hamzah);
(4) wayang beber;
(5) wayang wong dan;
(6) wayang batu (relief) (Holt, 1967, Mulyono, 1978:158).
Di samping lima jenis utama wayang tersebut masih terdapat beberapa jenis wayang lagi yang sifatnya permainan dan tidak disajikan secara profesional, di antaranya: wayang rumput (mainan penggembala), wayang kardus (mainan anak-anak), dan wayang gambar (mainan anak-anak).
Wayang kulit adalah wayang yang terbuat dari kulit binatang seperti kulit kerbau, sapi, dan kambing. Jenis wayang ini merupakan jenis wayang yang laing terkenal. Wayang kulit dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:
1. wayang kulit purwa (cerita Ramayana dan Bharata-yudhha),
  1. wayang gedhog (cerita Panji),
  2. wayang madya (menceritakan Raja Jayabaya, Kediri), dan
  3. wayang modern atau wayang wasana (akhir).
Wayang kulit purwa setidaknya sudah muncul pada zaman Airlangga terbukti dengan dideskripsikannya jenis wayang ini dalam Arjunawiwaha (Zoetmulder, 1985:264). Namun demikian, model pementasan wayang kulit di zaman Airlangga tersebut belum jelas benar. Istilah yang digunakan dalam Arjunawiwaha adalah ringgit sementara sebutan wayang purwa baru disebutkan dalam Serat Sastramiruda dari masa Paku Buwana IX yang bertahta 1863-1893 (Kusumadilaga, 1981: 158). Menurut serat ini, sebutan wayang purwa baru muncul pada masa kerajaan Demak 1893 (Kusumadilaga, 1981: 160).
Wayang gedhog adalah jenis wayang kulit, namun mengambil siklus cerita Panji, namun kadang-kadang cerita Damarwulan juga dimasukkan di dalamnya (Holt, 2000:156).
Sampai saat ini, sebutan gedhog masih belum jelas maknanya. Setidaknya ada dua pendapat mengenai makna gedhog tersebut:
(1) gedhog berarti batas antara zaman purwa (siklus cerita Mahabahrata/ Ramayana) dengan cerita selanjutnya (zaman Panji);
(2) kata gedhog merupakan bentuk Kawi dari kata kuda. Kuda adalah sebutan/ gelaran untuk tokoh-tokoh dalam cerita Panji (Mulyono, 1978:153).
Menurut Serat Sastramiruda, wayang gedhog diciptakan pada tahun 1485 Saka (1563 Masehi) oleh Sunan Giri . Yang menjadi pedoman penyusunan adalah wayang purwa Demak dengan menghilangkan tokoh raksasa, kera. Cerita yang diambil adalah cerita negara Jenggala, Kediri, Singasari, dan Ngurawan. Gamelan yang digunakan adalah pelog dengan suluk greget saut berbeda dengan wayang purwa. Yang menjadi dalang pertama adalah Widiyaka, abdi Sunan Kudus. Pakem wayang ini disempurnakan pada zaman Hadiwijaya dari Pajang yang disebut pakem wayang gedhog purwa (Kusumadilaga, 1981:161).
Dengan demikian, wayang gedhog adalah perkem-bangan lebih lanjut dari wayang purwa dengan mengambil cerita Panji.
Wayang madya berarti wayang zaman tengah. Wayang ini merupakan wayang kulit dengan cerita zaman tengah menurut kronologi sejarah visi orang Jawa. Jadi, wayang ini mengambil cerita setelah cerita Bharatayudha yang dianggap sebagai zaman kuna (purwa).
Wayang madya merupakan wayang hasil ciptaan Mangkenagara IV (1853-1881). Cerita wayang ini disusun berdasarkan Serat Pustaka Raja Madya dan Serat Witaradya karangan Ranggawarsita. Sumber lain cerita wayang madya adalah Serat Anglingdarma. Wayang madya dibuat dari kulit dengan penampilan bagian atas mirip wayang purwa sedang bagian bawah mirip wayang gedhog. Menurut Mangkunegara IV, wayang madya ini mengambil cerita dari tahun 785-1052 Saka (863-1130) dengan cerita masa Prabu Jayabhaya sampai dengan Prabu Jayalengkara (Haryanto, 1988:96).
Wayang modern adalah wayang yang muncul di zaman modern, yaitu sekitar abad XX. Bahan wayang biasanya dari kulit, namun kaang-kadang juga menggunakan bahan pengganti dari karton/ kardus.
Jenis wayang modern bermacam-macam serta mengalami perkembangan dan perubahan dari masa ke masa. Wayang modern ini sering merupakan kreasi perseorangan dan biasanya berusia pendek. Jenis-jenis wayang modern antara lain adalah:
(a) wayang wahana yang diciptakan oleh Sutarta Harjawahana dari Surakarta pada tahun 1920 dengan cerita diambil dari peristiwa kontemporer dan bentuk wayangnya dibuat seperti gambar manusia;
(b) wayang suluh adalah pengembangan dari wayang wahana yang digunakan oleh Departemen Penerangan untuk memberi penyuluhan; karena itu, wayang tersebut diberi nama wayang suluh dan digunakan pada tahun 1947;
(c) wayang perjuangan merupakan wayang yang sejenis dengan wayang suluh dan wayang wahana; wayang ini diciptakan oleh M.Sayid dari Surakarta pada tahun 1944 dengan mengambil cerita perjuangan bagsa Indonesia melawan penjajah;
(d) wayang Pancasila yang diciptakan oleh Suharsono Hadisuseno dari Yogyakarta (1948) dengan cerita sekitar perjuangan bangsa Indonesia, namun disajikan secara tidak langsung (melalui sindiran; sebagai contoh Jendral Spoor disebut Rata Dahana (dari kata spoor yang berarti kereta api);
(e) wayang budha merupakan wayang yang diciptakan tahun 1978 oleh Suprapto Suryadarma dengan cerita dari agama Budhha disajikan perpaduan antara wayang kulit purwa dengan wayang orang dengan menggunakan layar sepanjang 8 meter;
(f) wayang sadat merupakan wayang ciptaan Suryadi Warnosuharjo dari Klaten pada tahun 1985 dengan cerita para wali (Demak-Pajang) dan ditujukan untuk dakwah Islam;
(g) wayang dobel adalah jenis wayang lain yang digunakan untuk dakwah Islam; wayang ini diciptakan oleh Kyai Ahmad Kasman dari Yogyakarta; wayang ini disebut wayang dobel karena memiliki hal ganda, yakni cerita dari bahasa Arab (Islam), namun disajikan dalam bahasa Jawa; cerita dalam wayang dobel adalah cerita tentang malaikat dan para nabi (cerita Islam);
(h) wayang Jawa menceritakan babad seperti sejarah Demak, Pajang, perjuangan Pangeran Diponegara, dan lain-lain. Wayang ini diciptakan oleh Dutodiprojo dari Surakarta pada tahun 1940;
(i) wayang Kancil yang menceritakan kisah Kancil ini diciptakan oleh Lie Too Hien dan Bo Liem pada tahun 1925
(j) wayang Adam Ma’rifat adalah ciptaan Dwija Siswaya dari Magelang dan berisi ajaran-ajaran kebatinan, misalnya cerita Bima Racut;
(k) wayang wahyu atau wayang warta atau wayang Katolik adalah wayang yang digunakan untuk menyampaikan ajaran Katolik dengan cerita yang diambil dari Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru); ide penciptaan wayang wahyu terjadi Desember 1960 atas inisiatif broeder Marji Subroto di Malang sementara dalangnya adalah dalang wayang kulit biasa, khususnya dari umat Katolik;
(l) wayang wahyu Kristen adalah wayang mirip dengan wayang Katolik di atas, namun yang disampaikan adalah ajaran Kristen; pencetus wayang ini dalah Rusradi dari Surakarta pada bulan Oktober 1957 (Holt, 2000:158-159; Mulyono, 1978:160-163; Haryanto, 1988:117-127, Ismunandar, 1994:111).
Wayang dewasa ini tidak hanya dikenal di masyarakat Jawa saja. Berbagai masyarakat di Nusantara juga memiliki tradisi wayang. Jenis-jenis wayang yang berkembang di berbagai kelompok masyarakat di Nusantara dapat dilihat dalam tabel berikut:
Masyararakat
Jenis wayang
Sunda
Wayang kulit, dan wayang golek
Betawi
Wayang kulit
Bali
Wayang kulit dan wayang wong
Lombok
Wayang sasak (kulit)
Melayu
Kulit (Melayu, Jawa, Siam)
Dewasa ini wayang mengalami suatu perkembangan yang pesat yang sudah sangat berbeda dengan kondisi wayang pada masa-masa sebelumnya. Wayang saat ini berkembang dalam dua bentuk, yaitu wayang yang masih merupakan tradisi dan wayang yang sudah menjadi produk. Dua jenis perkembangan wayang ini dewasa ini bagaikan bumi dan langit.
Wayang yang masih merupakan suatu tradisi dapat dikatakan tersisih. Banyak dalang-dalang yang tidak memiliki penerus. Dalang-dalang di kampung-kampung saat ini banyak yang tidak pernah pentas lagi dan melelang kekayaan tradisinya berupa wayang dan seperangkat gamelan. Wayang sudah bukan menjadi tradisi masyarakat pedesaan. Mereka lebih senang memutar VCD atau kaset yang relatif lebih murah daripada menanggap wayang.
Di samping jenis wayang yang tersisih, di antara dalang-dalang tersebut beberapa di antaranya berhasil mengemas pertunjukkan wayang sebagai suatu produk entertainment dengan nilai tanggapan mencapai puluhan juta. Mereka juga mengembangkan suatu gaya pertunjukkan ke arah bentuk pertunjukkan populer dengan tata panggung model baru dan menghadirkan “bintang tamu” sebagai bentuk pementasan pertunjukkan boneka digabung pertunjukkan peraga manusia. Alat-alat pendukung yang digunakan juga melibatkan alat-alat elektronik. Belum lama ini seorang dalang kondang dari Tegal bernama Enthus Susmono memperkenalkan figur-figur wayang modifikasi yang disebutnya wayang planet (Susmono, 2002). Dalam kasus ini, wayang telah berubah dari pertunjukkan masyarakat agraris yang bernilai sakral menjadi produk masyarakat populer yang bersifat komersial. Tradisi nanggap wayang sebagai sarana ritual magis makin lama makin terkikis. Pertunjukkan-pertunjukkan wayang seperti untuk ruwatan, bersih desa, khitanan, tingkepan, dan sebagainya saat ini sudah sangat langka. Masyarakat dewasa ini menyadari bahwa zaman telah berubah dan mereka menyaksikan bagaimana wayang ikut menyesuaikan diri dengan perubahan zaman sementara dalang-dalang lainnya mundur dengan teratur, tak kuasa melawan zaman.
Ketoprak
Ketoprak adalah jenis sastra lisan yang menggunakan peraga manusia. Ketoprak berkembang khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun di beberapa tempat yang dihuni orang dari Jawa juga memiliki tradisi ketoprak. Sebagai misal, Lampung dan Sumatra Utara.
Ketoprak adalah suatu sastra lisan yang disajikan dengan manusia sebagai peraganya. Sastra lisan ini diiringi dengan musik gamelan dan disisipi dengan lagu-lagu macapatan pada awal adegan, tetapi ketoprak dewasa ini telah menghilangkan unsur lagu tersebut. Di dalam ketoprak tidak terdapat gerak tari yang baku. Namun, pada awal perkembangannya sebenarnya di dalam ketoprak terdapat gerak tari juga (Soedarsono, 1985:68). Jadi, sebenarnya dalam perjalanannya ketoprak telah mengalami berbagai perubahan.
Di Jawa ada beberapa jenis sastra lisan yang diperagakan manusia. Jenis-jenis sastra lisan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut
Nama Sastra lisan
Deskripsi
Wayang wong
Mengambil cerita Ramayana dan Bharatayuidha, diiringi gamelan, ada dialog, disajikan dengan tarian baku
Langendriyan
Mengambil cerita Majapahit, diiringi gamelan, dialog dalam wujud tembang, disajikan dengan tarian baku
Langen wanara
Mengambil cerita Ramayana, diiringi gamelan, tanpa dialog, disajikan dengan tarian baku

Mengambil cerita Panji, diiringi gamelan, tanpa dialog, disajikan dengan tarian baku
Srandul
Mengambil cerita keseharian, diiringi gamelan sederhana, dengan dialog
Ludruk
Cerita keseharian / legenda/ babad, diiringi gamelan, diselingin pantun, dengan dialog, berkembang di Jawa Timur.
Janger
Cerita babad/ legenda, diiringi gamelan, dengan dialog, khusus di Banyuwangi
Ketoprak dapat dimasukkan ke dalam kelompok seni drama. Sastra lisan yang berupa seni drama tersebut tersebar di berbagai tempat di Nusantara. Jenis-jenis seni drama yang sederajat dengan ketoprak (diperagakan manusia, ada dialog, diiringi musik) dapat dilihat dalam tabel berikut.
Nama sastra lisan
Asal
Bangsawan
Sumatra Utara
Dermuluk
Sumatra Selatan
Makyong/ Mendu
Riau, Kalimantan Barat
Mamanda
Kalimantan Selatandan Timur
Ubrug, Longser, Bonjet
Jawa Barat
Masres
Indramayu
Arja
Bali
Menurut sejarah perkembangannya, ketoprak pada mulanya berkembang di desa dengan instrumen sederhana berupa lesung (alat penumbuk padi) sehingga disebut ketoprak lesung. Cerita yang dibawakan pada umumnya cerita babad, Menak, dari Timur Tengah (cerita Parsi), legenda, dan lain-lain (Soedarsono, 1985:69). Dari sini, ketoprak kemudian berkembang menjadi seni yang diiringi gamelan kemudian berkembang menjadi seni rakyat dan seni komersial.
Ketoprak termasuk jenis sastra lisan yang relatif muda, namun berkembang cepat. Ketoprak mula-mula diciptakan oleh Raden Mas Tumenggung Wreksodiningrat pada tahun 1908 di Surakarta. Alat yang digunakan adalah lesung. Cerita yang diambil adalah kehidupan petani di desa. Ketoprak waktu itu dilakukan dengan tarian yang disebut sebagai joged gendro. Pada tahun 1909 ketoprak pertama kali pentas di istana Surakarta. Pada tahun 1925, ketoprak pertama kali dikenal di Yogyakarta yang kemudian dikembangkan di Yogyakarta sehingga pada tahun 1928 di Yogyakarta berdiri sekitar 300 kelompok ketoprak resmi (Satoto, 1989:196).
Ketoprak kemudian berkembang menjadi seni rakyat dan seni komersial. Ketoprak yang digunakan sebagai seni komersial mula-mula adalah ketoprak keliling yang mendapatkan uang dengan cara mbarang (ngamen) dengan peralatan musik dipikul (diongkek). Ketoprak jenis ini dikenal dengan nama ketoprak ongkek. Perkembangan selanjutnya ialah ketoprak dengan menetap di suatu tempat untuk beberapa lama di dalam tempat sementara yang disebut tobong. Karena itu, jenis ini disebut sebagai ketoprak tobong.
Ketoprak sebagai sastra lisan dewasa ini juga menghadapi tantangan yang berat. Ketoprak adalah jenis sastra lisan profan yang tidak terikat pada acara-acara tradisi. Beberapa jenis ketoprak komersiil saat ini satu demi satu bubar, beberapa di antaranya bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan di dalam konservasi tertentu yang biasanya dikelola oleh pemerintah daerah.
Salah satu jenis ketoprak yang menjadi fenomena yang menarik adalah ketoprak humor yang dimunculkan di RCTI. Ketoprak atas ide Timbul Cs. tersebut dewasa ini hadir di media elektronik dan digemari bukan saja orang Jawa, melainkan juga suku-suku lain dan ketoprak ini disajikan dengan bahasa campuran Jawa (disertai teks terjemahan) dan Indonesia. Sesuai namanya, ketoprak humor lebih menekankan aspek humor dan action dan menempel pada budaya populer dengan dimunculkan tokoh-tokoh bintang dari berbagai cabang seni (khususnya entertaiment).
Sastra Lisan dalam Tradisi
Sastra lisan juga hadir dalam suatu tradisi sebagai roh tradisi tersebut. Contoh satra lisan tersebut adalah Tradisi Penyembelihan Bebakak yang terjadi di desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Sleman.
Kata bekakak merupakan kata dari bahasa Jawa. Kata ini sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “ayam yang dimasak atau dipanggang secara utuh (tanpa dipotong-potong), biasanya untuk selamatan” (Alwi dkk, 2001:121). Kata lain yang dekat dengan penertian bekakak adalah ingkung. Dari pengertian di atas, jelas bahwa pengertian bekakak memang berkaitan dengan tradisi ritual (selamatan).
Bekakak diwujudkan sebagai sepasang boneka yang terbuat dari beras ketan yang dirupa sebagai sepasang pengantin. Sepasang boneka ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai bekakak lanang (laki-laki) dan bekakak wedok (perempuan). Kedua bebakak tersebut juga berkaitan dengan tradisi selamatan di desa tersebut. Dalam tradisi tersebut, kedua bekakak tersebut disembelih di suatu tempat tertentu dengan suatu upacara ritual.
Menurut tradisi, pelaksanaan tradisi penyembelihan bekakak dilakukan pada setiap hari Jumat, pada tanggal sebelum purnama (15), di bulan Sapar. Jadi, tradisi ini dilaksanakan ketika orang menyongsong bulan purnama. Hari Jumat menurut tradisi Jawa adalah hari ketika para makhluk halus banyak keluar untuk mencari mangsa. Saat purnama adalah saat ketika sinar bulan mencapai klimaksnya sehingga pada malam purnama efek bayangan menjadi nyata.
Bulan Sapar adalah bulan ketika kraton-kraton di dalam tradisi Jawa tidak memiliki acara perayaan. Biasanya kraton-kraton mengadakan acara perayaan pada bulan Sura (Muharam) untuk hajat-hajat seperti pernikahan dan bulan Mulud untuk acara muludan (perayaan kelahiran Nabi Muhammad). Dengan demikian, dipilihnya bulan Sapar untuk acara ini adalah dalam rangka tidak menyaingi acara yang terjadi di kraton.
Acara penyembelihan bekakak memang merupakan tradisi kecil atau tradisi rakyat sehingga dengan diadakan di luar acara rutin kraton akan menjadikan acara ini tidak dianggap menyaingi acara kraton sehingga eksistensinya tidak mendapat tantangan dari penguasa (kraton).
Akibat pariwisata dan globalisasi, ternyata tradisi juga ikut berubah. Dalam kasus bekakau, setidaknya dua hal telah berubah, yaitu waktu penyebelihan dan tempat penyebelihan. Pada tahun 2002, dalam penelitian kami ditemukan bahwa penyembelihan bekakak pada 3 Mei 2002 ternyata waktu penyembelihan tersebut mengalami pegeseran. Hari Jumat sebelum purnama sebenarnya jatuh pada tanggal 26 April 2002, namun karena Departemen Pariwisata sudah menjadwalkan acara tersebut pada tanggal 3 Mei, maka acara tersebut kemudian diundur sesuai dengan jadwal yang dibuat oleh Departemen Pariwisata. Hal ini berarti bahwa unsur komersial (bisnis) telah mempengaruhi tradisi ini, yakni disesuaikan dengan kalender wisata. Hal ini juga menunjukkan fleksibelitas masyarakat pendukung tradisi ini sekaligus sebagai tanda semakin kendornya keyakinan masyarakat tersebut terhadap tuah pada acara ini.
Hal kedu bahwa sebagian penyembelihan tersebut kemudian diadakan di Ring Road Yogya Barat dengan maksud ditonton banyak orang dan menyedot wisatawan. Hal ini pun berkaitan dengan tuntutan pariwisata dan bisnis wisata sehingga tradisi penyebelihan di Gunung Gamping telah dibelokkan ke tempat yang ramai pengunjung.
Demikian, bahwa sastra lisan selalu dinamis menyesuaikan zaman dan disesuaikan dengan ketuhan masyarakat pemiliknya
Refleksi sastra lisan dan tulisan
PENDAHULUAN 1.1

Latar Belakang Masalah
Sastra tidak terlepas dari kehidupan manusia karena sastra merupakan bentuk ungkapan pengarang atas kehidupan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan bentuk atau wujudnya karya sastra terdiri dari aspek isi dan aspek  bentuk. Aspek isi merupakan pengalaman tentang hidup manusia. Aspek bentuk merupakan hal-hal yang terkait cara pemakaian, cara pengarang memanfaatkan  bahasa untuk mewadahi isi dari karya sastra tersebut. Berdasarkan pengertian dari aspek bentuk atau wujudnya, sastra dapat disampaikan secara lisan dan tulisan. Penyampaian sastra secara lisan, langsung diungkapkan dari mulut ke mulut sedangkan penyampaian sastra secara tulisan diungkapkan melalui bahasa tulis. Sastra lisan merupakan bagian kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sastra lisan merupakan milik bersama, bersifat anonim  pada suatu daerah tertentu. Sastra lisan adalah salah satu gejala kebudayaan yang terdapat pada masyarakat terpelajar dan yang belum terpelajar. Ragamnya pun sangat banyak dan masing-masing ragam mempunyai variasi yang banyak pula. Isinya mungkin mengenai berbagai peristiwa yang terjadi atau kebudayaan masyarakat pemilik sastra tersebut (Finnegan dalam Armina, 2012:1).

ANALISIS BENTUK DAN MAKNA SASTRA LISAN SUMBAWA SAKECO
SUKU SAMAWA DI KABUPATEN SUMBAWADENGAN PENDEKATAN FOKLOR
Zekriady
SMP Sumbawa
Abstak
Berdasarkan seluruh hasil penelitian terhadap sakeco sebagai sastra lisan
Sumbawa yang berbentuk puisi, dapat disimpulkan sebgai berikut: a) Alur
yang digunakan adalah alur maju. b) Latar yang digunakan yaitu: Latar
tempat: istana sentris, daerah-daerah yang ada di Sumbawa dan daerah yang
ada di Goa (Sulawesi Selatan), Latar suasana: senang, sedih, bahagia,
tegang. C) Tokoh dan penokohan yang digunakan yaitu tokoh antagonis dan
prota gonis. Karakter yang diberikan kepada masing-masing tokoh sesuai
dengan peranan masing-masing. d) Tipografi yang digunakan dalam sakeco
berupa tipografi bebas tanpa atura, septima, stanze (octav), quartrain,
terzina, dan disitikom. e) Tipografi ini digunakan pada sakco yang yang
berbentuk puisi nasehat; Diksi pada sakeco sebagai sastra lisan Sumbawa
hanya digunakan pada sakeco bentuk puisi nasehat. f) diksi yang digunakan
adalah
tau, polak, boat, sirik, alam kubur, bunga, Korong batang, dan tau
peno.
g) Makna yang terkandung adalah makna kehidupan sosial pada
masyarakat Sumbawa dan Sulawesi Selatan memiliki kesamaan yaitu
menjodohkan putrinya dengan cara saembara atau adu kekuatan dan
kepandaian. Masyarakat Sumbawa memiliki nilai persahabatan yang tidak
pandang golongan. Perjuangan masyarakat Sumbawa untuk membela
kebenaran rela mempertaruhkan nyawa dan tidak memilih golongan yang
melakukan kesalahan.
Kata Kunci:
Bentuk, Makna, Sastra Lisan
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Budaya Indonesia terdiri atas
beraneka ragam budaya daerah yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Setiap
kebudayaan (culture) memiliki cara hidup
sendiri, terutama dalam melakukan
tindakan-tindakan sosial warganya, oleh
karena perbedaan kebutuhan, sistem
kepercayaan, warisan sosial, dan lingkungan
fisik.
Kenyataan yang tidak dapat
dipungkiri bahwa asal mula kebudayaan
yaitu dari hasil karya cipta manusia dari
zaman nenek moyang yang telah diwariskan
kepada generasi penerusnya secara turun
temurun. Penerusan kebudayaan ini
melingkupi kebudayaan tradisional yang
berupa konsep-konsep dari wujud
kebudayaan sebagai suatu rangkaian tindak
aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-
hari yang dilingkari dengan ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan
dan berupa benda-benda. Dari berbagai
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 296
prilaku seperti itulah yang dapat
menumbuhkan kebudayaan tradisional
rakyat.
Salah satu kekayaan budaya Indonesia
adalah memiliki banyak bahasa daerah.
Bahasa dengan budaya sulit ditolak karena
bahasa merupakan fenomena budaya.
Seperti halnya pada bahasa Jawa yang
memuat budaya Jawa, bahasa Sumbawa
yang memuat budaya Sumbawa, bahasa Bali
yang memuat budaya Bali, dan sebagainya.
Bahasa dapat dikatakan sebagai
ruh
dari
budaya itu sendiri. Bahasa sendiri adalah
alat komunikasi antara anggota masyarakat
berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh
alat ucap manusia (Keraf, 2001:1).
Komunikasi melalui bahasa ini
memungkinkan tiap orang untuk
menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
sosialnya. Sehingga, memungkinkan tiap
orang untuk mempelajari kebiasaan, adat
istiadat, kebudayaan serta latarbelakanginya
masing-masing.
Setiap budaya daerah dapat
menambah eratnya ikatan solidaritas
masyarakat yang bersangkutan. Menurut
Boscom dalam (Danandjaja 1997:19) bahwa
budaya daerah memiliki empat peranan
yaitu: (1) sebagai sistem proyeksi adalah
pencerminan angan-angan suatu kolektif; (2)
sebagai pengesahan pranata-pranata dan
lembaga-lembaga kebudayaan; (3) sebagai
alat pendidikan anak (
pedagogical device
),
dan (4) sebagai alat kontrol agar norma-
norma masyarakat akan selalu dipatuhi
anggota kolektifnya.
Berbicara masalah kebudayaan pada
suatu daerah, sudah tentu mempunyai
tradisi sendiri bila dibandingkan dengan
dengan tradisi daerah lainnya. Salah satu
contoh yang dapat dilihat yaitu tradisi khas
masyarakat Nusa Tenggara Barat khususnya
kabupaten Sumbawa, baik dari adat pakaian,
adat perkawinan, makanan, kesenian dan
maupun prilaku kehidupan sehari-hari jauh
berbeda dengan tradisi khasnya kebudayaan
yang ada di masyarakat Jawa. Hal itu
menandakan beraneka ragamnya
kebudayaan masing-masing daerah di
Indonesia memiliki ciri khas tersendiri.
Etnis Samawa memiliki tradisi lisan, bahkan
disebut-sebut sebagai pilar budaya yang
masih ada dari semenjak berabad-abad
lamanya sampai sekarang. Tradisi lisan pada
mulanya berinduk pada bahasa Samawa
dalam syair-syair yang di tembangkan
sebagai bentuk pengungkapan rasa cinta,
sedih, kritik, nasehat, dalam kehidupan
masyarakat, karena sudah menjadi bagian
dari cara mengekspresikan isi hatinya,
apalagi disampaikan dengan cara dilagukan
(temung)
dalam aktifitas keseharian dan
tradisi upacara adat etnis Samawa.
Sakeco adalah satu dari kesenian sastra lisan
Sumbawa. Seni ini melibatkan dua pemain
sebagai penutur sekaligus memainkan
rebana sebagai musik pengiring, yang
ditabuh saat penutur menyelesaikan satu
alinea cerita kemudian dilanjutkan cerita ke
bait berikutnya. Selain menghibur, seni ini
juga berisi nasihat hidup dan dahulu dipakai
untuk alat perjuangan.
Kesenian ini populer bagi etnis Samawa di
Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten
Sumbawa Barat, biasanya ditampilkan pada
acara hajatan warga seperti pernikahan,
khitanan, dan sejenisnya. Cerita
disampaikan dalam bentuk nyanyian
berbalas dan diringi dengan musik. Teman
yang sering diangkat menyangkut kisah
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 297
nyata pergaulan muda-mudi, kasus
pembunuhan, fenomena sosial, pemilihan
kepala daerah, kawin lari, kasus
pembunuhan, dan cerita lain yang menarik
diketahui masyarakat. Oleh karena itu
sakeco dianggap sebagai puisi yang
berbentuk narasi.
Cerita Sakeco umumnya terdiri atas
pembuka (samula) yang berisi ucapan
selamat datang dan terima kasih kepada
penonton. Kemudian disusul ringkasan kisah
yang akan diceritakan, selanjutnya bagian
inti cerita (isi sakeco), dan terakhir racik
atau penutup yang biasanya berupa cerita
jenaka. Akhir cerita bisa bahagia, sedih, atau
tragedi seperti kisah kawin lari (merari)
yang dilakukan oleh masyarakat setempat
dinilai tabu, bahkan acap mengundang
konflik horizontal.
Menelusuri lebih lanjut perjalanan
sejarah sasrta lisan/tulis khususnya di
kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa
Tenggara Barat memang sudah ada
semenjak zaman dahulu kala (zaman nenek
moyang). Akan tetapi keberadaan sastra
lisan atau tulisan ini sangat dikhawatirkan,
karena selama ini masih sangat sedikit usaha
yang dilakukan untuk menggali maupun
menyusunnya untuk dijadikan sebagai
dokumen yang lebih lengkap. Padahal
jumlah sastra lisan dan tulis di Sumbawa
masih cukup banyak. Ini merupakan gejala
yang timbul karena minat dan perhatian
masyarakat Sumbawa semakin berkurang
terhadap sastra lisan dan tulisan yang ada.
Selain itu, yang biasa dan bisa menggunakan
kembali sastra lisan dan tulis adalah orang-
orang yang sudah tua dan jumlahnyapun
sedikit. Berangkat dari itu perlu
dikhawatirkan dalam jangka waktu ke depan
sastra lisan dan tulis di Sumbawa akan
hilang dengan sendirinya sejalan dengan
arus perkembangan jaman yang terus
mengalir semakin lama semakin maju pesat.
Sudah jelas ini dapat merugikan
masyarakat pemiliknya dan lebih-lebih
merugikan lagi bagi bangsa Indonesia pada
umumnya. Maka dari itulah peneliti ingin
mengangkat masalah sastra khususnya sastra
lisan (foklor) yaitu cerita rakyat Sumbawa
yang biasa disebut
Sakeco
, agar masyarakat
umum juga mengetahui bahwa di Sumbawa
NTB juga terdapat sastra yang berbentuk
cerita rakyat yang memiliki kekhasan
tersendiri. Kekhasan inilah yang nantinya
akan dapat memperbanyak ragam sastra
nusantara.
Melalui penelitian ini, akan
diungkapkan kembali cerita rakyat
Tradisional Sumbawa yang ada di
Kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa
Tenggara Barat, agar dapat terwariskan
untuk generasi berikutnya dan dapat
dilestarikan. Selain itu, juga untuk
menumbuhkembangkan kembali
kebudayaan Sumbawa yang pada akhir-akhir
ini hampir punah keberadaanya. Yang lebih
besar lagi peneliti merasa ikut bertanggung
jawab sebagai masyarakat Sumbawa pada
khusunya atas kelestarian kebudayaan
tradisional Indonesia, serta dapat
memberikan manfaat dan masukan kepada
Departemen Pendidikan Nasional dalam
rangka upaya menggali dan menyelamatkan
khasanah kebudayaan tradisional untuk
pendidikan.
PERMASALAHAN
Sesuai dengan judul yang diangkat
dalam penelitian ini yaitu
Analisis Bentuk,
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 298
Dan Makna Sastra Lisan Sumbawa
(Sakeco) Suku Samawa Di Kabupaten
Sumbawadengan Pendekatan Foklor,
maka masalah yang dibahas adalah seni
sastra khususnya sastra lisan yang ada di
kabupaten Sumbawa propinsi Nusa
Tenggara Barat. Seni sastra khususnya puisi
ini yang nantinya akan ditelaah sesuai
dengan yang ada di perumusan masalah.
JANGKAUAN MASALAH
Penelitian ini hanya menekankan
pada analisis bentuk dan makna yang
terkadung di dalam Sakeco sebagai sastra
lisan Sumbawa. Berkaitan dengan bentuk
sastra lisan Sumbawa yang termasuk ke
dalam Puisi, maka peneliti menjabarkan
pendapat Sukada yang merangkum beberapa
konsep struktur yang ditulis oleh ahli sastra
berdasarkan proses kreatif dan cara
menganalisis karya sastra. Rangkuman
tersebut ialah alur sebuah cerita, latar atau
setting, penokohan, dan gaya bahasa. Selain
pendapat Sukada, ada pun pendapat Suroto
yang membentuk sebuah puisi adalah tema,
amanat, musikalitas, korespondensi, diksi,
simbolisasi, tipografi dan gaya bahasa. Dari
segi makna, penelitian ini menekankan pada
segi makna kognitif dan makna non kognitif.
BATASAN MASALAH
Mengingat begitu luasnya dalam
mambahas sastra lisan yang ada di
nusantara, maka pada penelitian ini perlu
adanya batasan masalah. Hal ini juga
mempertimbangkan waktu dan kemampuan
penulis yang masih sangat terbatas, serta
karya yang dijadikan bahan penelitian cukup
luas. Maka, pada penelitian ini peneliti
membatasi masalah hanya pada bentuk (alur,
latar/setting, penokohantifografi, diksi) dan
makna pada sastra lisan (sakeco) suku
Samawa pada masyarakat Sumabawa.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pembatasan masalah di
atas, maka masalah pada penelitian ini
meliputi:
a. Bagaimanakah bentuk sastra lisan
(sakeco) suku Samawa pada
masyarakat Sumabawa?
b. Bagaimankah makna sastra lisan
(sakeco) suku Samawa pada
masyarakat Sumabawa?
LANDASAN TEORI
Tinjauan tentang Folklor
Dundes (dalam Dananjaya 1991: 1-
4), kata folklor adalah pengindonesian dari
kata Ingris
“Folklore”
kata ini adalah kata
majemuk yang bersal dari dua kata dasar
Folk
dan
Lore
. Folk berarti kelompok orang-
orang yang memiliki ciri-ciri pengenal
kebudayaan yang membedakan dari
kelompok lain. Tetapi yang tergantung
dalam hal ini ialah bahwa merekalah yang
mempunyai tradisi, yaitu kebudayaan yang
telah diwariskan secara turun-temurun yang
mereka akui sebagai milik kelompok mereka
sendiri. Adapun yang dimaksud dengan lore
tradisi folk yang diwariskan turun-temurun
secara lisan atau tutur kata, ataupun melalui
contoh yang disertai dengan perbuatan dan
alat pembantu pengingat.
Berdasarkan dari uraian di atas dapat
disimpulkan, bahwa definisi folklor
sebagian dari kebudayaan yang disebarkan
dan diwariskan secara turun-temurun dan
tradisional, di antara anggota–anggota
kelompok apa saja, dalam versi yang
berbeda, baik dalam bentuk lisan, maupun
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 299
contoh disertai dengan perbuatan dan alat
pengingat, sedangkan Koentjaraningrat
(1984: 50) mendefinisikan folklor adalah
bagian kebudayan kolektif apa saja yang
diciptakan, disebarkan atau diwariskan
melalui media lisan, yang disertai dengan
perbuatan atau alat pengingat.
Agar dapat membedakan folklor dari
kebudayaan lainnya harus diketahui lebih
dahulu ciri-ciri folklor yang dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a) Penyebaran dan pewarisannya secara
lisan, yakni disebarkan melalui tutur
kata dari mulut kemulut atau dengan
suatu contoh yang disertai dengan
gerak isyarat, dan alat pembantu
pengingat dari suatu generasi ke
generasi berikutnya.
b) Folklor yang bersifat tradisional,
yakni disebarkan dalam bentuk
relatif atau standart.
c) Folklor yang bersifat anomim, yakni
nama penciptanya tidak di ketahui
lagi. Oleh karena itu, folklor milik
kita bersama.
d) Folklor mempunyai kegunaan dalam
kehidupan bersama suatu kolektif.
Cerita rakyat misalnya; mempunyai
kegunaan sebagai alat pendidikan,
pelipur lara, proses sosial dan
proyeksi keinginan terpendam.
e) Folklor mempunyai sifat pralogis,
yaitu mempunyai logika sendiri yang
sesuai dengan logika umum.
f) Fokllor menjadi milik kita bersama
dari kolektif tertentu, hal ini sudah
diketahui lagi, sehingga anggota
kolektif yang bersangkutan merasa
memilikinya.
Pengertian Sastra
Bagi ahli sosiologi, sastra merupakan
sumber informasi mengenai tingkah laku,
nilai-nilai dan cita-cita yang khas pada
anggota-anggota setiap lapisan yang ada di
dalam masyarakat, pada kelompok-
kelompok kekeluargaan atau pada generasi-
generasi (Ras, 1985: 1). Pengakuan para ahli
itu didasarkan pada sifat dan unsur-unsur
sastra yang merupakan refleksi dari
kehidupan manusia dan kepada karya sastra
yang merupakan wujud tertinggi suatu
kebudayaan di dalam masyarakat.
Sastra merupakan sebuah ciptaan,
sebuah kreasi bukan semata-mata sebuah
imitasi langsung dari kehidupan. Hal ini
terkait dengan proses penciptaan seniman
yang memerlukan perjuangan mencari dan
menuliskan ide untuk menciptakan dunia
baru (karya sastra) (Luxemburg, 1984:5).
Apabila suatu karya sastra menulis secara
langsung dan persis suatu peristiwa yang
terjadi di dalam kehidupan nyata, maka
karya sastra bukanlah karya sastra
melainkan suatu berita atau sejarah.
Selanjutnya Luxemburg (1984:9)
mengatakan bahwa sastra bukanlah sebuah
benda yang kita jumpai, sastra adalah
sebuah nama yang dengan alasan tertentu
diberikan kepada sejumlah hasil tertentu
dalam suatu lingkungan kebudayaan.
Konsep ini secara umum memberi
penekanan pada kesepakatan, pemberian
nama dan penggolongan oleh masyarakat
kepada hasil cipta seseorang yang berkaitan
dengan kebudayaan. Hal ini menunjukkan
bahwa karya sastra bersifat subjektif
sehingga memerlukan suatu kesepakatan
dalam pemberian definisi. Dalam KBBI
(2001: 1001-1002) karya sastra tidak hanya
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 300
berupa kesepakatan, melainkan lebih
dikonkritkan yaitu berupa kata-kata yang
memiliki nilai estetik dan etik secara terulis,
yang akan ditulis maupun yang berbentuk
ucapan.
Pengertian Puisi
Pendapat Wirjosoedarmo adalah
karangan yang terikat oleh (a) banyak baris
dalam tiap bait (kuplet/strofa, suku
karangan) (b) banyak kata dalam tiap baris;
(c) banyak suku kata dalam tiap baris (d)
rima (e) irama (Pradopo, 1990;5) sedangkan
pendapat Altenbernd (1970:2) puisi adalah
pendramaan pengalaman yang bersifat
penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa
beriram (bermetrum) (Pradopo, 1990:5)
berpendapat puisi adalah merupakan
pernyataan perasaan yang bercampur baur
(Pradopo, 1990:6)
Berbagai pendapat tersebut nampak
adanya perbedaan-perbedaan pemikiran
mengenai pengertian puisi. Jika dipadukan
pendapat-pendapat tentang pengetian puisi
yang sebenarnya. Ada tiga unsur pokok,
pertama: hal yang meliputi pemikiran, ide
atau emosi kedua bentuknya dan ketiga
kesannya yang semuanya itu terungkap
dengan media bahasa. Jadi puisi itu
mengekspresikan pemikiran yang
membangkitkan perasaan yang merangsang
imajinasi panca indera dalam susunan yang
berirama (Pradopo, 1990:7).
Selanjutnya fungsi puisi
dikemukakan oleh Jakobson (dalam
Pradopo, 2008:145) sebagai fungsi puitik
yaitu fungsi yang memproyeksikan prinsip
ekuivalensi dari poros pemilihan (parataksis)
ke poros kombinasi (sintaksis). Antara
bunyi, pemilihan kata, frase, kalimat, ide,
dan temanya diekuivalensikan dan disusun
dalam sebuah struktur yang kompak.
Adapun cara penulisan puisi
menurut Saini (1993:111-113) dengan
menggunakan akal (rasio) setinggi-tingginya
untuk memilih dan menyusun lambang-
lambang. Puisi digunakan logika intuisi atau
logika lambang, setiap kata atau lambang
memiliki banyak arti (polivalent). Kata atau
konsep dalam logika bisa mengungkapkan
arti denotatif, sedang kata atau lambang
dalam logika puisi mengungkapkan arti
konotatif. Dengan demikian, konsep hanya
mengungkapkan arti lugas, yakni arti
pikiran, sedang lambang mengungkapkan
sekaligus arti pikiran, perasaan dan khayal
(imajinasi).
Dari banyaknya pengertian
pendapat para ahli tentang puisi, maka
peneliti menyimpulkan bahwa puisi
merupakan hasil cipta manusia yang berupa
karya sastra yang diperoleh dari pengalaman
jiwa imajiner pengarang dengan
menggunakan kata-kata sebagai media
penyampaian yang mempunyai ciri
tersendiri. Jika dibandingan dengan bentuk
karya sastra lainnya. Bahasa dalam puisi
tidak sama dengan bahasa dalam prosa, puisi
dibentuk dari unsur intrinsik dan unsur
ekstrinsik.
Kajian Struktural
Ada beberapa teori dalam analisis
karya sastra, Olsen mengungkapkan teori
tersebut meliputi (1) teori tradisional, (2)
teori intensional, (3) teori ekstensional, (4)
teori struktural, (5) teori mimesis, (7) teori
emotif, (8) toeri ekspresif, dan (9) teori
kognitif (Aminuddin, 2004:56). Gaya bahasa
sebagai bagian dari diksi bertalian dengan
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 301
ungkapan-ungkapan yang individual atau
karakteristik, atau yang memiliki nilai
artistik yang tinggi (Keraf, 1988:23)
Pendekatan struktur (strukturalisme)
tidak dapat dilepaskan dengan kaum
Formalis yang dipandang sebagai peletak
dasar telaah sastra dengan pendekatan ilmu
modern. Ciri khas penelitian sastra kaum
formalisme adalah perhatiannya terhadap
sesuatu yang khas dalam subuah teks karya
sastra. Nilai estetik karya sastra didasarkan
pada
poetic function
yang diolah
berdasarkan kode metrum, rima, macam-
macam bentuk pararelisme, pertentangan,
kiasan dan sebagainya (Fananie, 2002:115).
Selanjutnya Fananie (2002:115)
menjelaskan bahwa pendekatan struktur
sebenarnya banyak dipengaruhi oleh konsep
struktur linguistik yang dikembangkan oleh
Ferdinand de Saussure yang intinya
berkaitan dengan
sign
dan
meaning
(bentuk
dan isi) atau bentuk bahasa adalah pemberi
arti dan yang diartikan. Ber-kaitan dengan
cara pemberian makna atau memahami
makna yang tertuang da-lam karya sastra,
penelaah harus mencarinya berdasarkan
struktur yang terefleksi melalui unsur
bahasa.
Bentuk Sastra Lisan Sumbawa (Sakeco)
Sebagai Puisi
Michael Lane (dalam Sukada, 1987:
52) menjelaskan bahwa struktur adalah
sesuatu yang memiliki elemen-elemen
(unsur). Elemen ini, memiliki hubungan
abstrak antara yang satu dengan yang
laninnya. Struktur memiliki isi yang tidak
tertentu, hanya dapat dipahami melalui
oraganisasi akal dan memberikan gambaran
mengenai sesuatu yang riil secara wajar.
Mengenai struktur karya sastra, ada
beberapa model yang dirumuskan oleh para
ahli sastra. Perumusan tersebut berpangkal
dari cara pandang dan bagaimana cara
penilaian yang dilakukan terhadap karya
sastra.
Menurut Aminuddin (1995: 66),
sebagai hasil suatu kreasi, karya sastra
memiliki unsur yang turut membangunnya
yaitu: (1) pengarang atau narator, (2) isi
penciptaan, (3) media penyampaian isi
berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen
fiksional atau unsur-unsur intrinsik yang
membangun karya sastra sehingga menjadi
wacana. Konsep ini, melihat karya sastra
dari segi hasil kreasi sehingga segala sesuatu
yang berkaitan dengan hasil mutlak harus
disebutkan, walaupun sebagain unsur
pembangun tersebut bukanlah karya sastra,
seperti pengarang atau narator.
Stanton (dalam Pradopo, 1988: 41)
membagi karya sastra menjadi tiga bagian
atau persoalan besar, yaitu fakta penceritaan,
tema dan sarana sastra. Fakta penceritaan
sering disebut struktur faktual merupakan
aspek yang harus ada dalam sebuah karya
sastra, aspek itu dapat dibagi menjadi
elemen yang lebih kecil yaitu, tokoh, alur
dan latar. Dalam hal ini sastra dipandang
sebagai bentuk yang kompleks dan dinamis.
Dalam karya sastra istilah struktur
ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-
kelompok gejala. Kaitan-kaitan tetap itu
berkenaan dengan aspek-aspek yang
membangun karya sastra, terutama aspek
intrinsik, sedangkan kelompok-kelompok
gejala berkaitan dengan perwatakan tokoh
sehingga muncul istilah tokoh utama, orang
yang menolongnya dan orang yang
melawannya (Luxemburg, 1984: 36).
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 306
tidak pandang golongan. Perjuangan
masyarakat Sumbawa untuk
membela kebenaran rela
mempertaruhkan nyawa dan tidak
memilih golongan yang melakukan
kesalahan. Masyarakat Sumbawa
sangat meyakini nilai-nilai
ketuhanan, sehingga mereka dari dini
mereka membentengi diri dengan
keimanan kepada tuhan sebab
dengan demikian mereka dapat
menghinadri ksirikan dan rasa tidak
percay bahwa adanya tuhan yang
maha esa.
SARAN KEPADA PENELITIAN
BERIKUTNYA
Penelitian yang berjudul “Analisis
Bentuk dan Makna sastra Lisan Sumbawa
(sakeco) Suku samawa di Kabupaten
Sumbawa dengan Pendekatan Folklor” ini
menjadi salah satu penelitian tentang sastra
klasik/daerah yang bermanfaat dan bisa
memberikan tambahan pengetahuan bagi
seluruh pembaca. Semoga dapat dijadikan
sebuah sebuah pedoman guna penelitian-
penelitian selanjutnya, karena sangat sedikit
sekali yang meneliti tentang sastra
klasik/daerah. Penelitian semacam ini dapat
dijadikan pelestarian kebudayaan nasional.
SARAN KEPADA PEMERINTAH
KABUPATEN SUMBAWA
Penulis sangat berharap agar dapat
melestarikan kebudayaan dan sastra
daerah/klasik terutama puisi tradisional
Sumbawa dengan rutin mengadakan
berbagai kegiatan seni berupa Parade
Budaya dan perlombaan-perlombaan yang
dapat mendukung kelestarian budaya
Sumbawa sekaligus budaya nasional.
SARAN KEPADA GURU BAHASA
DAERAH DAN BAHASA INDONESIA
Penulis sangat berharap penelitian ini
dapat berguna bagi pengetahuan tentang
sastra daerah/klasik yang terdapat di daerah
Sumbawa sehingga penelitin ini dapat
dijadikan literatur dalam pengajaran sastra
dan budaya. Peneliti juga berharap agar
sakeco
atau puisi tradisional ini agar lebih
diperkenalkan kepada siswa di sekolah
sebagai suatu karya sastra.
Penulis menyadari bahwa penelitaian
ini masih jauh dari kesempurnaan karena
sempitnya cakrawala keilmuan penulis,
keterbatasan pemahaman penulis terhadap
sastra klasik/daerah. Harapan penulis
semoga penelitian ini dapat berguna
bagiseluruh pembaca, pencinta seni,
masyarakat Sumbawa, dan Pemerintahan
Daerah Sumbawa, walaupun masih banyak
kekurangan-kekurangan yang terdapat pada
penelitian ini.
Penulis berharap saran-saran yang
sangat membangun tersebut dari berbagai
kalangan sehingga penulis mampu memberi
yang terbaik kepada seluruh pembaca.
Harapan terakhir dari penulis, semoga
laporan penelitian ini dapat bermanfaat bagi
peneliti khususnya dan pada seluruh
pembaca pada umunya.
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus 2008
| 308
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2004.
Pengantar Apresiasi Karya Sastra
. Bandung; Sinar Baru Algensindo
_________. 1995.
Pengantar Apresiasi Karya Sastra
. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Budiman. 1979.
Folklor Betawi
. Jakarta: Pustaka Jaya.
Dananjaja, James. 1991.
Folklor Indonesia
(Ilmu Gosip, dongen, dan lain-lain) Jakarta:
Pustaka Utama Grafitri.
______________. 1994.
Folklor Indonesia
. Jakarta: PT. Temprint.
Djojosuroto, Kinanti. 2005.
Puisi: Pendekatan dan Pembelajaran
. Bandung: Penerbit Nuansa
Fenanie, Zainuddin. 2003.
Telaah Sastra.
Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Keraf, Geroys. 1988.
Diksi dan Gaya Bahasa
. Jakarta; Gramedia.
Koentjaraningrat, 1984.
Kamus istilah Antropologi
. Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa
Depdikbud
Luxemburg, Jan Van dan Miekel Bal. 1982.
Pengantar Ilmu Sastra.
Dialihbahasakan oleh Dick
Hartoko. 1984. Jakarta: Gramedia.
Moleong, Lexy J. 2002.
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: CV Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995.
Teori Pengkajian Fiksi
. Yogyakarta; Gajah Mada University
Press.
Parera, J.D. 2004.
Teori Semantik
. Jakarta; Erlangga.
Pateda, Mansoer, Dr. Prof. 2001.
Semantik Leksikal
. Jakarta; Rineka Cipta.
Pradopo, Djoko Rachmat. 2000.
Pengkajian Puisi.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Pradopo, Sri Widati. 1988
. Struktur Cerita Rekaan Jawa Modern Berlatar Perang.
Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi
Ketiga
. Jakarta: Balai Pustaka.
Ras, J.J..1985.
Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir
. Jakarta: Grafiti Press.



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © GabKalitQueen - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -