Semoga suka ya!!
Senin, 22 Januari 2018
Sastra lisan
\Sastra
lisan atau sastra
rakyat adalah karya sastra dalam bentuk ujaran (lisan), tetapi
sastra itu sendiri berkutat di bidang tulisan. Sastra lisan membentuk komponen budaya yang lebih mendasar, tetapi memiliki sifat-sifat sastra
pada umumnya. Cendekiawan Uganda Pio Zirimu
memperkenalkan kata orature
untuk menghindari oksimoron, namun sastra lisan (oral
literature) masih sering digunakan di lingkup akademik dan masyarakat.[butuh rujukan]
Masyarakat
yang belum mengenal huruf tidak punya sastra tertulis, tetapi mungkin memiliki tradisi lisan yang kaya dan beragam—seperti epik, cerita rakyat, peribahasa, dan lagu rakyat—yang secara efektif membentuk sastra lisan.
Sekalipun semuanya disatukan dan dicetak oleh para ahli cerita rakyat dan paremiografer,
hasilnya masih disebut "sastra lisan".
Masyarakat
yang mengenal huruf kemungkinan masih melanjutkan tradisi lisan, biasanya di
dalam keluarga (seperti pengantar tidur)
atau struktur sosial informal. Penyampaian legenda urban dapat dianggap sebagai contoh sastra
lisan, sebagaimana lelucon dan puisi lisan,
termasuk lomba puisi
yang ditayangkan di Def Poetry. Puisi pertunjukan adalah genre puisi yang menggantikan bentuk tertulisnya
Pemerhati Sastra Masih Fokus Sastra Lisan dan Tulis
Selama ini para peneliti dan pemerhati sastra
hanya mengambil fokus pada sastra lisan dan tulis meskipun dalam era digital
ini telah hadir sastra virtual dan elektornik. Untuk menyingkapi sastra
elektronik saja baru dimulai. Kini malah hadir jenis campuran karya sastra dari
ketiga jenis tersebut. Karya campuran (lisan,tulis dan elektronik) ini lazim
disebut dengan sastra hibrida. Dalam menghadapi persoalan sastra elektronik
dengan hibridanya itu tentu saja diperlukan pendekatan teori dan metodologi
penelitian yang spesifik. Oleh karena itu persoalan tersebut sangat perlu
dikaji secara mendalam oleh ahli sastra dan pemerhati sastra, pengajar sastra,
dan pembelajar sastra hal itu disampaikan oleh Dekan FIB Undip Dr. Redyanto
Noor, M.HUM saat membuka acara Seminar Internasional “Mengurai Persoalan Sastra
Hibrida” yang diselenggarakan oleh Program Magister susastra Fakultas Ilmu
Budaya Undip, Rabu,(15/11) di Hotel Kesambi Semarang.
Redyanto mengatakan bahawa pada awal abad XXI
perkembangan penulisan sastra telah jauh meninggalkan teori dan kritik sastra.
Para penilti dan kritikus sastra semakin kesulitan melakukan kajian terhadap
sastra modern yang kuantitas dan variabelnya berkembang amat cepat. Walaupun
teori dan kritik sastra modern telah ada dan dipelajari oleh para pemerhati
sastra sejak awal abad XX tetapi pengenalan dan penerapannya dimulai pada tahun
1950-an sejalan dengan dibukanya program ilmu sastra di beberapa perguruan
tinggi,” ujarnya.
“Persoalan utama yang dikaji dalam seminar ini
adalah fenomena lahirnya sastra hibrida, karakteristik dan batasan sastra
hibrida, pendekatan dan teori sastra yang sesuai untuk mengkajinya serta
metodologi yang sesuai untuk menghadapi persoalan sastra hibrida dalam
penelitian ilmiah yang berkualitas.
Hadir sebagai narasumber dalam seminar itu
Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono ( UI) , Dr.Aprinus Salam,M.Hum (UGM), Jonathan
Moore,MA (Easten Illinois University) dan Prof.Dr.Surasak Khamkhong (Ubon
Ratchathani University).
Dalam paparannya Prof.Sapardi mengatakan dalam
bahasa Indonesia hibriditas setidaknya memiliki dua padanan kata, yakni
‘blasteran’ dan ‘indo’. Kedua kata itu biasanya kita kenakan pada orang, tetapi
dalam pembicaraan ringkas ini akan saya kaitkan dengan sastra. Dalam KBBI daring,
‘blasteran’ berarti ‘hasil perkawinan campuran dari dua jenis yang berbeda;
hasil perkawinan silang. Dalam percakapan berarti juga peranakan – bukan
keturunan asli’. Kata ‘indo’ tidak kedapatan dalam kamus tersebut. Contoh yang
sering dipakai untuk menjelaskan konsep hibriditas adalah kata ‘dwifungsi’ –
kata yang berasal dari dua bahasa yang berbeda, dwi (Sansekerta) dan fungsi
(Inggris, Belanda),” ungkapnya.
“Di zaman yang semakin terbuka terhadap segala
sesuatu yang berasal dari mana saja, hibriditas alhmadulillah semakin
berkembang dalam semua segi kehidupan kita. Dalam New Oxford Amarican
Dictionary, hybrid adalah a thing made by combining two
different elements; a mixture. Bidang biologi atau ilmu tumbuh-tumbuhan
menyebutkan bahwa tanaman hibrida, hasil kawin silang antara dua spesies,
memiliki ciri dan kualitas yang lebih baik dari jika masing-masing tumbuhan
tidak mengalami kawin silang. Itu sebabnya kita sengaja menciptakan tanaman
hibrida meniru proses yang membentuk tanaman dan binatang hibrida di alam
bebas. Dan tentu itu juga sebabnya orang yang digolongkan sebagai indo memiliki
sejumlah ciri fisik dan kualitas pemikiran yang tidak jarang mengungguli yang
bukan indo.
Lebih jauh Prof. Sapardi mengatakan bahwa konsep
hibrida yang semakin meluas cakupannya itu kali ini kita kaitkan dengan
kesusastraan, menyangkut hubungan-hubungan yang ada antara penciptaan dan
pencipta serta pembaca dan pembacaan karya sastra. Dalam pengertian ini hibrida
menyangkut sastrawan dan karya sastra, yang tentunya juga mencakup proses
penciptaannya. Perkembangan bahasa yang sangat cepat menyebabkan munculnya
sejumlah besar kata yang dengan sengaja diciptakan, yang bisa dipakai untuk
menjelaskan konsep hibriditas. ‘Kids jaman now’ sering sekali terdengar tidak
hanya di kalangan orang-orang muda yang memang semakin menyukai segala sesuatu
yang campur-aduk, tetapi juga mulai masuk ke dalam kesadaran siapa pun yang
menggunakan bahasa tanpa merasa harus sepenuhnya tunduk pada tatanan bahasa
yang ‘baik dan benar’ – atau bahkan bisa dengan aman boleh dikatakan bahwa
proses yang demikian itu adalah bagian terciptanya bahasa yang ‘baik dan
benar’.
“Frasa ‘anak zaman sekarang’ rupanya tidak lagi
bisa memuaskan (mula-mula) atau setidaknya sudah dianggap lecek oleh anak-anak
muda dan untuk menjadikannya terdengar keren dimunculkanlah frasa ‘kids jaman
now’ – campuran antara bahasa Inggris dan Arab. Kita tahu tentunya bahwa hampir
semua kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain juga berasal dari
bahasa asing. Itu sebabnya juga bahasa Indonesia, yang menyerap kata dari
begitu banyak bahasa (asing dan daerah), berkembang sangat cepat – meskipun
hasil perkembangan itu tidak terekam dalam kamus kita yang saya anggap tidak
cekatan merekamnya antara lain karena disusun berdasarkan prinsip ‘baik dan
benar’ yang jelas memblokir konsep keragaman dalam penulisan dan pengucapan,”
pungkasnya.
Sastra elektronik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Sastra elektronik adalah sastra
di media elektronik. Sastra dalam peradaban tradisional didominasi sastra
lisan; dalam peradaban modern didominasi oleh sastra tulis;
dan dalam peradaban posmodern didominasi oleh sastra elektronik. Ambang
peralihan tiap peradaban tampak dalam deformasi genre sastra. Pendokumentasian
dan penulisan sastra lisan sejalan dengan peralihan dari peradaban tradisional
menuju peradaban modern. Perekaman, sinematisasi dan digitalisasi baik sastra
lisan maupun sastra tulis sejalan dengan peralihan menuju peradaban posmodern.
Daftar isi
- 1 Genre Sastra
- 2 Sastra Lisan
- 3 Sastra Tulis
- 4 Sastra Elektronik
- 5 Media Sastra
- 6 Media Hibrida
- 7 Daftar Pustaka
Genre Sastra
Dengan mengacu pada tiga paradigma peradaban
menurut Alvin Toffler (1980), ranah
sastra dapat dipilah ke dalam paradigma peradaban agraris, industrial, dan
informasi. Sastra dalam peradaban agraris didominasi genre sastra lisan; sastra
dalam peradaban industrial didominasi genre sastra tulis; dan sastra dalam
peradaban informasi didominasi genre sastra elektronik. Berdasarkan hal ini
objek penelitian sastra dapat diklasifikasikan ke dalam sastra lisan, sastra
tulis, dan sastra elektronik.
Sastra Lisan
Menurut Wiget (lihat Lauter, 1994), sastra lisan
dipertunjukkan di hadapan pendengar yang melakukan evaluasi baik cara maupun
isi pertunjukan; evaluasi bukan merupakan kesimpulan dari pertunjukan tersebut,
melainkan merupakan sebuah kegiatan yang berlangsung yang tercermin dalam
tingkat perhatian dan komentar.
Terdapat varitas yang sangat mengejutkan dari
sastra lisan yang bertahan hidup di antara orang-orang pra-aksara, dan
sebagaimana kata-kata tertulis muncul dalam sejarah, menunjukkan bahwa semua
genre penting sastra yang muncul pada awal masyarakat beradab adalah: epos
heroik, nyanyian pujaan untuk pendeta dan raja, cerita misteri dan
supernatural, lirik cinta, nyanyian pribadi hasil meditasi, kisah cinta, kisah
petualangan dan heroisme rakyat jelata, yang berbeda dari epos heroik kelas
atas, satir, satir pertempuran, balada, dogeng tragedi rakyat dan pembunuhan,
cerita rakyat, fabel, teka-teki, pepatah, falsafah hidup, himne, mantra-mantra,
nyanyian misteri para pendeta, dan mitologi.
Dari berbagai varitas di atas, genre sastra lisan
dapat klasifikasikan ke dalam sub-sub genre yang terdiri atas puisi lisan,
prosa lisan, dan drama lisan. Edi
Sedyawati (lihat Pudentia, 1998) menyusun sebuah gradasi dari sastra
lisan yang paling murni sastra hingga ke pertunjukan teater yang paling lengkap
media pengungkapannya, yakni: murni pembacaan sastra (mebasan dan macapatan);
pembacaan sastra disertai gerak sederhana dan atau iringan musik terbatas
(cekepung dan kentrung); penyajian cerita disertai gerak tari (randai); dan
penyajian cerita melalui aktualisasi adegan, dialog dan tarian pemeran, dan
iringan musik (wayang wong, makyong, wayang gong, dan lain-lain).
Menurut Wiget, dalam banyak sastra lisan dunia,
puisi lisan adalah nyanyian, seperti halnya mazmur-mazmur Daud, lirik-lirik
Orpheus, maupun meditasi-meditasi Tecayahuatzin. Baik puisi lisan maupun prosa
lisan Amerika terdapat dalam kesusastraan pribumi seperti puisi Zuni, Aztec,
Inuit, Aleut, dan lain-lain; dan cerita-cerita dari suku-suku Indian Hitchiti,
Zuni, Navajo, Lakota, Iroquois, dan lain-lain.
Perkembangan penelitian terhadap sastra lisan
yang merupakan sastra rakyat dilakukan dengan menggunakan metode-metode
historik-komparatif, historik-geografik, dan historik-struktural.
Menurut A Teeuw
(1988), perkembangan dalam studi sastra lisan terutama yang menyangkut puisi
rakyat antara lain dilakukan oleh Parry dan Lord. Hipotesis Parry dan Lord
ternyata dapat dibuktikan dengan meneliti puluhan contoh epos rakyat seperti
yang dinyanyikan oleh tukang cerita. Dengan meneliti teknik penciptaan epos
rakyat, cara tradisi tersebut diturunkan dari guru kepada murid, dan bagaimana
resepsinya oleh masyarakat, Parry dan Lord berkesimpulan bahwa epos rakyat
tidak dihafalkan secara turun-temurun tetapi diciptakan kembali secara spontan,
si penyanyi memiliki persediaan formula yang disebut stock-in-trade, terdapat
adegan siap pakai yang oleh Lord disebut theme, dan variasi merupakan ciri khas
puisi lisan.
Sedangkan untuk melakukan penelitian terhadap
teater rakyat dapat menggunakan metodologi kajian tradisi lisan. Dengan
menggunakan metodologi kajian tradisi lisan, penelitian teater
rakyat dapat dilakukan secara menyeluruh tidak hanya terbatas pada aspek
kesastraannya saja tetapi juga mencakup aspek-aspek kebudayaan yang
melingkupinya. Hal ini penting karena teater rakyat tidak hanya merupakan
bagian dari sastra lisan tetapi juga bagian dari seni pertunjukan rakyat yang
memiliki jaringan dengan berbagai unsur kebudayaan.
Sastra Tulis
Menurut Wellek dan Warren (1989), salah satu
batasan sastra adalah segala sesuatu yang tertulis. Hal ini menurut Teeuw
sesuai dengan pengertian sastra (literature) dalam bahasa Barat yang umumnya
berarti segala sesuatu yang tertulis, pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis.
Lebih lanjut menurut Teeuw, bahasa tulis memiliki tujuh ciri, yakni: (1) dalam
bahasa tulis antara penulis dan pembaca kehilangan sarana komunikasi
suprasegmental; (2) dalam bahasa tulis tidak ada hubungan fisik antara penulis
dan pembaca; (3) dalam teks-teks tertulis, penulis tidak hadir dalam situasi
komunikasi; (4) teks-teks tertulis dapat lepas dari kerangka referensi aslinya;
(5) bagi pembaca, tulisan dapat dibaca ulang; (6) teks-teks tertulis dapat
diproduksi dalam berbagai bentuk dan jangkauan komunikasi yang lebih luas; dan
(7)komunikasi menembus jarak ruang, waktu, dan kebudayaan.
Genre sastra tulis dapat dijabarkan ke dalam
sub-sub genre yang terdiri atas puisi tulis, prosa tulis, dan drama
tulis.Dewasa ini bentuk karya sastra yang paling diminat adalah cerpen dan
novel. Waluyo (2002:28) membagi karya fiksi menjadi roman, cerita pendek, dan
novel. Termasuk dalam klasifikasi novel adalah novelet. Novelet yaitu novel
pendek yang lebih panjang dari cerita pendek, roman adalah jenis cerita rekaan
yang paling dulu muncul, disusul oleh cerita pendek dan baru kemudian muncul
novel dan novelet. Bentuk novel ataupun novelet dan cerita pendek pada akhirnya
merajai sastra di Indonesia.
Sastra Elektronik
Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap
perkembangan kesenian. Salah satu bidang teknologi yang mengalami perkembangan
pesat adalah teknologi
elektronik. Teknologi ini memiliki keterkaitan erat dengan dunia kesenian, baik
sebagai alat produksi maupun sebagai media komunikasi. Bahkan teknologi
elektronik berperan dalam menciptakan suatu genre baru dalam dunia kesenian yaitu
seni elektronik. Frank Popper (1993) membahas lima kategori seni elektronik:
(1) seni laser dan holografik, (2) seni video, (3) seni komputer, (4) seni
komunikasi, dan (5) seni instalasi, demonstrasi dan pertunjukan. Fokus bahasan
Popper adalah senirupa elektronik. Genre-genre seni elektronik terdapat dalam
berbagai bidang kesenian seperti seni musik elektronik, seni rupa elektronik,
sinema elektronik, dan sastra elektronik.
Dalam arti luas karya sastra yang diproduksi,
dimodifikasi, dan dikemas dengan menggunakan peralatan elektronik dapat
dinamakan sastra elektronik. Sesuai dengan media yang dipakai, sastra elektronik
dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis: sastra audio,
sastra audiovisual,
dan sastra multimedia.
Sedangkan sesuai dengan genrenya, sastra elektronik dapat dijabarkan ke dalam
sub-sub genre seperti di bawah ini.
Media Sastra
Media: puisi elektronik, prosa elektronik,
drama elektronik
Audio: puisi radio, dongeng/cerita radio,
sandiwara/ drama radio
Audio-visual: puisi TV/puisi klip, film
naratif/film dokumenter/film cerita TV, Sandiwara/fragmen/drama
TV/film/drama/telenovela
Multi-media: puisi internet/puisi
digital/E-mail/LD/VCD/CD-Rom, cerpen internet/ novel grafis/novel blog/novel
interaktif/digital novel/LD/VCD/CD-Rom, fragmen/drama/ film drama/drama
internet/lakonet/drama digital/VCD/LD/CD-Rom
Klasifikasi di atas tidak menutup kemungkinan
adanya genre campuran antara sastra lisan, sastra tulis, dan sastra elektronik.
Media Hibrida
Seringkali terdapat hibrida atau campuran antara
sastra lisan dan sastra tulis dalam bentuk sastra lisan yang dituliskan dan
sastra tulis yang dilisankan. Ada pula campuran antara sastra lisan dan sastra
elektronik dalam bentuk sastra lisan yang dielektronikkan dan sastra elektronik
yang dilisankan. Sedangkan campuran antara sastra tulis dan sastra elektronik
terdapat dalam bentuk sastra tulis yang dielektronikkan dan sastra elektronik
yang dituliskan. Percampuran tersebut menunjukkan adanya hubungan timbal-balik
baik antargenre maupun lintasgenre.
Pada abad informasi dewasa ini, sastra elekronik
mulai menjadi alternatif objek kajian sastra yang didominasi sastra lisan dan
tulis. Terdapat deformasi media sastra,
mulai dari layarnyata, layarperak, layarkaca
sampai layarmaya.
Dengan demikian patut disayangkan jika para pegiat sastra hanya berkutat dengan
sastra lisan dan sastra tulis belaka. Sedangkan sastra elektronik tak terlirik
samasekali. (Semarang 8 Nopember 2007. SiswoHarsono)
Judul: Struktur Sastra Lisan Simeulue
Penulis: Saifuddin Mahmud, Budiman
Sulaiman, Nuriah T.A, dan A Murad E.Ajies
Abstrak
Penelitian ini mendeskripsikan
struktur sastra lisan Simeulue terutama yang berbentuk prosa, yang meliputi
mite, sage, legenda, dan fabel. Kajian yang dilakukan ditekankan pada tema,
alur, penokohan, dan latar. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan
teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara. Wawancara dilakukan dengan
informan sebagai nara sumber. Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian
ini adalah teori strutural yang merujuk pada beberapa ahli teori struktural,
antara lain Esten (1987), Sudjiman (1988), Saad (1967), Tarigan (1984), dan
Wellek dan Warren (1989).
Simpulan yang diperoleh dalam
penelitian ini, antara lain (1) genre cerita berkisar pada legenda, sage, dan
fable, hal ini menunjukan bahwa mite atau mitos tidak ditemukan dalam
masyarakat Simeulue; (2) tema yang ditemukan dalam cerita sastra lisan Simeulue
secara umum dimaksudkan untuk memberikan pengajaran atau petuah kepada
masyarakat; (3) tokoh yang dominan ditampilkan adalah tokoh manusia dan
binatang dan penokohan ditampilkan secara analitik-dramatik; (4) dalam sastra
lisan Simeulue alur yang dominan digunakan adalah alur maju; dan (5) latar yang
ditampilkan adalah daerah Pulau Simeulue sedangkan latar waktu yang digunakan
meliputi zaman dahulu dan sekarang.
Judul: Bailau, Sastra Lisan Bayang Pesisir Selatan, Sumatra Barat
Penulis: Sastri Sunarti
Abstrak
Penelitian khazanah tradisi
lisan di Indonesia pada awalnya digalakkan setelah muncul kesadaran akan
semakin banyaknya penutur dan penikmat yang hilang. Salah satu ragam tradisi
lisan yang dikhawatirkan kehilangan penutur dan penikmatnya adalah tradisi
lisan bailau, yaitu ragam tradisi lisan dari daerah Bayang, Pesisir Selatan,
Sumatra Barat. Pada mulanya bailau berangkat dari kebiasaan mendendangkan
sisomba (pantun) bailau yang dilakukan oleh sekelompok perempuan yang sedang
bekerja beramai-ramai di sawah. Mereka menyanyikan sisomba bailau dengan cara
berbalas-balasan sebagai cara untuk membangkitkan semangat ketika bekerja di
sawah.
Dalam perkembangannya, sisomba
bailau juga dinyanyikan pada upacara menangkap harimau yang dilakukan oleh
penduduk kampung secara beramai-ramai. Upacara menangkap harimau dikenal dengan
istilah ilau rimau ‘memanggil harimau’, ilau datuak ‘merayakan penobatan
datuk’, ialau urang mati ‘mengenang orang yang telah meninggal’, dan ilau urang
ilang ‘memanggil sanak saudara yang hilang’. Dari bentuk teksnya, bailau
termasuk ragam lisan Minangkabau yang berbentuk puisi yang biasanya terdiri
atas 8—10 baris dalam satu bait. Di dalam barisnya terdapat bunyi sisipan yang
memperindah irama nyanyian. Iramanya itu selalu dinyanyikan dengan irama yang
sedih dan cenderung meratap. Hal itu disebabkan oleh orang yang menyanyikannya
meyakini bahwa bailau juga suatu cara untuk menyampaikan parasaan penderitaan
para perempuan penutur tradisi lisan bailau tersebut.
Dalam penelitian ini selain
digambarkan faktor sosiologis dan antropologis, juga didedahkan prinsip
kelisanan dalam kajian tradisi lisan. Formula dan komposisi formulaik adalah
ciri atau hakikat kelisanan yang dapat ditemukan dalam teks kajian tradisi
lisan seperti bailau. Berdasarkan hasil perekaman dan transliterasi teks
bailau, ditemukan beberapa ragam teks bailau sesuai dengan fungsi
pertunjukannya. Selain itu, kajian ini juga menghasilkan beberapa bentuk
pengulangan yang sangat kaya yang terdapat dalam teks. Dalam hal itu, ancangan
Lord merupakan suatu alternatif pendekatan teoretis yang sesuai untuk menelaah
teks bailau.
Sastra Lisan di Suku Dayak Kanayatn
SPORTOURISM— Sastra lisan adalah
cerita dan non-cerita yang hidup dalam keseharian Suku Dayak, yang dituturkan
secara langsung oleh nenek moyang suku Dayak secara turun temurun.
Tradisi lisan ini sangat penting bagi kehidupan
masyarakat Dayak, sebab dari tradisi lisan inilah dapat diketahui pemikiran,
sikap, dan perilaku masyarakat Dayak. Selain itu dalam tradisi lisan ini
mengandung filsafat, etika, moral, estetika, sejarah, seperangkat aturan adat,
ajaran-ajaran agama asli Dayak, ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna,
serta hiburan rakyat. Bagi suku Dayak tradisi lisan menghubungkan generasi masa
lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.
Di bawah ini beberapa jenis sastra lisan Dayak
dari kelompok cerita:
- Singara
Singara adalah cerita rakyat biasa yang
berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat. Cerita itu berupa cerita
jenaka, cerita pelipur lara, cerita binatang, dan cerita kasih sayang.
Cerita jenaka, misalnya cerita tentang Pak
Ali-ali yang bisa membuat tawa bagi yang mendengarkannya.
“Di musim hujan ketika air sedang pasang, Pak
Ali-ali yang pemalas disuruh istrinya mencari ikan dengan menggunakan bubu.
Awalnya Dia merasa enggan, tapi karena istrinya terus merengek-rengek akhirnya
pak Ali-ali mengikuti keinginan istrinya.
Malam itu ia mulai memasang bubu. Pagi harinya
ketika diangkat, tak satu pun ikan yang ia peroleh. Ia pun membawa bubunya ke
rumah dan melaporkannya ke pada istrinya.
Istrinya marah-marah dan berkata : “ Dasar
bodoooh kao Pak Ali-ali, seko’ saluakng buta’ pun kao na’ namu. Dah…..kao gago’
agi ikatn ka’ sunge. ”
Sambil menghukum Pak Ali-ali tidak diberi makan.
Terpukul oleh kata-kata istrinya “sekok saluakng buta’ pun na’ namu”—seekor
seluang buta pun tak dapat, akhirnya ia pun pasang bubu lagi. Kali ini ia
dapat ikan penuh satu bubu. Tapi begitu dicek satu persatu tidak satu
seluangpun yang buta. Akhirnya semua ikan seluang dan ikan yang lain
dilepaskannya lagi ke sungai. Ia pun pulang dan melaporkan bahwa ikan yang
didapatnya sudah dibuang ke’ sungai semua, karena tidak ada yang buta”.
- Gesah
Gesah adalah cerita yang berhubungan dengan
kepercayaan atau agama lama suku Dayak, sosok kepahlawanan, asal usul benda
atau kehidupan manusia. Contoh gesah misalnya tentang Ne’ Baruakng Kulup
dengan asal usul padi turun ke dunia. Gesah Ria Sinir yang terkenal dengan
keberanian dan kesaktiannya. Gesah Pak Kasih yang berjuang merebut kemerdekaan.
- Osolatn
Osolath adalah kisah asal usul keturunan
suatu suku, atau keluarga. Contoh Osolatn dapat dilihat pada asal usul
kehidupan manusia di bumi menurut kepercayaan Dayak Kanayatn.
“Pada mulanya, pada perkawinan
kosmis di Pusat Ai’ Pauh Janggi kemudian tercipta Kulikng Langit dua Putar
Tanah (Kubah langit dan Kubah bumi), yaitu Sino Nyandong dan Sino Nyoba
memperanakan Si Nyati Anak Balo Bulatn Tapancar Anak Mataari (Nyati Putri Bulan
dan Putra Matahari). Memperanakan Iro-iro man Angin-angin ( Kacau Balau dan
Badai), memperanakan Uang-uang man Gantong Tali (udara mengawang dan Embun
menggantung), memperanakan Tukang Nange man Malaekat (Pandai Besi dan
Bidadari), memperanakan Sumarakng Ai’ man Sumarakng Sunge (segala air dan segala
sungai), memperanakan Tunggur Batukng man Mara Puhutn (Bambu dan Pepohonan)
memperanakan Antuyut man Marujut (Akar-akaran dan Umbi-umbian) memperanakan
Popo’ man Rusuk (Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga).
Kesejukan Lumpur adalah perempuan dan
tulang iga adalah laki-laki. Selanjutnya Popo’ man Rusuk Memperanakan Anteber
dan Guleber. Anteber dan Guleber inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang
Dayak Kanayatn. Setelah menjadi manusia, selanjutnya, Anterber dan Guleber
melahirkan anak-anaknya dan kemudian dalam waktu cukup lama melahirkan anak
cucu, sehingga dengan demikian, semakin banyaklah anak manusia di bumi”.
- Batimang
Batimang adalah kegiatan yang bersifat
hiburan atau pelipur hati atau bujukan oleh para orang tua untuk anak-anak.
Batimang dilakukan pada saat senggang atau saat mau tidur. Batimang dapat
dilakukan pada ungkapan pepatah, pantun atau lagu.
Berikut ini contoh pepatah:
- Abeh gi ka’ bahu, lajak udah bajalatn. Maksudnya Ia masih merencanakan sesuatu tapi rencananya sudah disebarluaskan.
- Jantek siku siku tulakng takar. Maksudnya Perbuatan yang serba salah.
Batimang dalam bentuk lagu dapat dilihat dari
syair batimang padi berikut ini:
alinsikng
papatn inge, tangilikng ka’ surambi
Nek Gasikng
turutn pene, bakulilikng tangah sami’
Ansuit dalapm
langko, nyingkubakng tongkoktn tanga’
Ne’
Ulit-ulit nyaru’ leko, Nek Baruakng maba pangka’
Nyingkubakng
tongkotn tanga’, bakoro nangah sare
Nek Baruakng
maba pangka’, baleko tangah pante
Bakoro
nangah sare, tarad pulo bantatn
Baleko
tangah pante, pangka’ tangah laman
Tarada pulo
bantatn, barapi oncok limo
Pangka’
tangah laman, padi turutn ka talino
Barapi oncok
limo, angkala’ pamumpunan
Padi turutn
ka talino, pangka’ bakaturunan
Angkala’
pamumpunan, bajantok ka’ talidi
Pangka’ ba
katurunan, Nek Tingkakok batimang padi
Bajantok ka
talidi, satangkakng tama bubu
Nek
Tingkakok batimang padi, padi atakng lalu baribu
Satangkakng
tama’ bubu, baui raba pango’
Padi atakng
lalu baribu, ia tama dalapm dango
Baui raba
pongo, satangkakng batakng munukng
Padi tama’
dalapm dango, lalu atakng da’ Nek Untukng
Satangkakng
batakng munukng, kandis bunga lada
Atakng da
Nek Untukng, minta tulis ka Jubata
Kandis bunga
lada, mampak kayunya raya
Minta’ tulis
ka jubata, ia baranak menjadi raya
Karake’ ada
sakojek, bajuntukng pucuk sangkuakng
Minta tele’
ka Nek Sijaek, minta unsur ka Nek Baruakng
- Pantutn
Pantutn atau pantun merupakan cerita yang
berisi nasihat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun terdiri dari empat baris
bersajak ab-ab, dua baris sampiran dan dua baris isi.
Sampirannya menarik karena kata-katanya
berasal dari lingkungan kehidupan. Pantun banyak dipraktekkan dalam kesenian
jonggan, berkomunikasi di mototn dan menoreh getah. Tokoh pantun yang terkenal
media elektronik yang berasal dari Desa Rees adalah Pak Namben dijuluki Si Raja
Pantun.
Berikut
ini salah satu pantun hasil karyanya:
Tuhan dan
Manusia
Beli
gulamerah susah bawa galah
Ke sebuah
lahan nabur palawija
Lagi muda
gagah, Sudah tua lemah
Begitulah
Tuhan mengatur manusia
Mahasiswa
Tirakatan boleh jajan
Bahan gula
sediakan niranya
Manusia
diciptakan oleh Tuhan
Jangan lupa
muliakan namaNya
Agar menarik dan
merdu didengar, pantun juga dapat dinyanyikan saat melakukan pesta adat , atau
upacara syukuran lainnya. Biasanya pantun dinyanyikan pada jenis kesenian jonggan
yaitu musik tradisional Dayak Kanayatn menggunakan gong, dau, duma, dan suling.
Lagu-lagu yang sering dinyanyikan adalah Kayu
ara, Kambang bapanggel, dan ma’inang serta banyak lagi lagu yang lain.
Lagu-lagu itu merupakan lagu legendaris Dayak Kanayatn yang sangat digemari
oleh semua kalangan baik tua maupun muda. Saat ini lagu-lagu itu dimodifikasi
kedalam musik moderen.
- Sungkaatn
Cerita dalam bentuk perumpamaan/pepatah disebut
dengan sungkaatn. Perumpamaan atau pepatah yang dikaitkan dengan lingkungan
sekitar tentang peringatan,penjelasan atau nasehat. Biasanya kata - kata yang
digunakan adalah bahasa formal adat. Berikut ini adalah contoh sungkaatn.
- Saenek-enek udas, paling ina’ tupe jejek ka’ dalapmnya. Maksudnya pada sebuah komunitas paling tidak satu orang menjadi pemimpinnya.
- Suka mani’ ka’ Daya maksudnya sesorang yang selalu mengaku dirinya lebih hebat dari yang lain. Kebalikan dari pepatah ini adalah Suka mani ka’ ilir yang maknanya seseorang selalu merendahkan dirinya meskipun ia sesorang pemimpin.
7
Salong
Salong adalah cerita dalam bentuk sindiran atau
ejekan terhadap suatu kebiasaan, atau perilaku yang kurang baik di masyarakat.
Salong berusaha memperbaiki Sifat,perilaku, dan perbuatan yang tidak sesuai
dengan adat atau kebiasaan yang berlaku umum. Contoh salong adalah sebagai
berikut :
1). Sayang istri, dipukul
Sayang ke anak di tinggalkan ; maksudnya bekerja
keraslah mencari nafkah untuk anak istri.
2). Ujatna’ abut koa ; maksudnya salong untuk
anak yang menangis.
3). Angus padakng dinunu ; maksudnya kebohongan
yang disampaikan dipercaya pendengar.
4). Katungo ka’ jauh katele’atn, Babotn ka’
samaknya nana’ ia tele’’ : Maksudnya kesalahan orang orang dibesar-besarkan,
kesalahan sendiri ditutupi. [ ]
Sumber : akademidayak
Bijbelgenootschap
atau Lembaga Alkitab Belanda
menugaskan para penyiar agama nasrani untuk menerjemahkan kitab injil dalam
berbagai bahasa Nusantara dan meneliti bahasa dan kesusastraan suku bangsa di
Nusantara. Selanjutnya pada awal abad 20, beberapa ahli antropologi dan ahli
folklor seperti W. Schmidt, W.H Rasser, Jan de Vies, dan lain-lain, yang
mengolah lebih lanjut bahan-bahan yang telah dikumpulkan oleh beberapa peneliti
sebelumnya. Setelah kemerdekaan, tulisan-tulisan cerita rakyat saling
bermunculan di majalah, surat kabar, dan penulisan dalam bentuk buku. Oleh
karena usaha tersebut kurang memuaskan, maka pemerintah membuat proyek
Penelitian dan Pencatatan
Kebudayaan Daerah
yang dikerjakan oleh Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Nilai-nilai
yang terkandung dalam sastra lisan
Sastra lisan biasanya dituturkan
oleh seorang ibu kepada anaknya atau dituturkan oleh seorang tukang cerita
kepada masyarakat. Oleh karena interaksi yang langsung antara pencerita
dan penikmat, maka membuat sastra lisan menjadi bersifat komunal, yaitu suatu
rasa kepemilikan bersama. Hal ini berbeda dengan sastra tertulis yang bersifat
individual, karena dinikmati sendiri dan tidak membutuhkan interaksi langsung
antara pencerita dan penikmat. Hutomo mengungkapkan (Hutomo, 1991:69-70)
berbagai fungsi sastra lisan dalam masyarakat, yaitu:
pertama
¸berfungsi sebagai sistem proyeksi
pada bawah sadar manusia terhadap suatu angan. Pada fungsi ini, cerita
memberikan jalan kepada pembaca untuk bermimpi akan suatu hal.
Kedua
¸ sastra lisan berfungsi sebagai
pengesahan kebudayaan. Pada fungsi kedua ini, cerita memberikan suatu jalan
keluar dari pertanyaan masyarakat tentang asal-usul dari suatu upacara, tempat,
dan lain sebagainya.
Ketiga,
sastra lisan berfungsi
sebagai alat pemaksa berlakunya norma sosial dan sebagai alat pengendali
sosial. Jadi sastra lisan berusaha membatasi atau bahkan mengendalikan suatu
norma dalam masyarakat agar tidak terjadi disintergrasi di dalamnya.
Keempat
¸sebagai alat pendidikan anak. Di
sini sastra lisan digunakan untuk mendidik dan membentuk anak agar memiliki
kepribadian yang baik.
Pengaruh
sastra lisan terhadap kesusastraan Indonesia modern
Kesusastraan Indonesia modern banyak
dipengaruhi oleh kesusastraan barat, seperti kesusastraan periode Pujangga Baru
yang dipengaruhi oleh kesusastraan Belanda angkatan
’80
(De Tachtigers).
Hal ini disebabkan karena adanya
keinginan untuk berinovasi dan adanya kontak langsung dengan budaya baru. Akan
tetapi, ada beberapa sastrawan yang mencoba menghidupkan kembali sastra lisan,
misalnya Sutardji Calzoum Bachri. Pada tahun 1970-an Sutardji Calzoum Bachri
mulai membuat puisi lisan lama yaitu mantra. Mantra adalah nyanyian suku
primitif pada zaman pra-sejarah yang digunakan untuk
3
membangkitkan tenaga sihir dan
magis. Berikut adalah salah satu sajak
Sutardji Calzoum Bachri yang berbentuk mantra.
Amuk
…. aku bukan penyair sekedar
aku depan depan yang memburu
membebaskan kata memanggilMu pot pot pot pot pot kalau pot tak mau
pot biar pot semau pot mencari pot pot hei Kau dengar manteraku kau
dengar kucing memanggilMu izukalizu pot hei Kau dengar manteraku kau
dengar kucing memanggilMu izukalizu mapakazaba itasatali tutulita papaliko
arukabazaku kodega zuzukalibu tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco
zukuzangga
zegezegeze zukuzangga
zegezegeze aahh…!
nama kalian bebas carilah
tuhan semaumu
Rachmat Djoko Pradopo (Pradopo, 1995:51)
menjelaskan bahwa ciri estetik suatu mantra mempergunakan sarana kepuitisan
berupa: ulangan kata, ulangan frasa atau kalimat berupa pararelisme,
dikombinasikan dengan hiperbola, dan enumerasi untuk mendapatkan efek yang
sebanyak-banyaknya. Di samping itu, juga digunakan kata-kata yang secara
linguistik tak berarti. Dari sajak di atas,
dapat dilihat bahwa Sutardji menggunakan ulangan kata seperti kata
“pot”,
ulangan frase seperti frase
“kau dengar kucing memanggilMu”
, dan kata-kata tak berarti seperti
“
tutulita papaliko arukabazaku
kodega”
. Selain puisi, dunia cerpen
Indonesia juga terlihat adanya pengaruh dari sastra lisan. Hal ini terlihat
pada cerpen berjudul
Teman Duduk
karya M. Kasim dan cerpen
berjudul
Kawan Bergelut
karya Suman HS. Kedua cerpen
tersebut masih berakar pada khasanah sastra tradisional Indonesia yang
bercirikan jujur, segar, jernih, optimis, dan sederhana. Selanjutnya, jenis
sastra Indonesia modern lain yang dipengaruhi oleh sastra lisan adalah novel
atau roman. Dalam perkembangannya yang relatif lamban, pengaruh sastra lisan
terhadap novel atau roman Indonesia terletak pada alurnya yang bersifat
kronologis. Taum (Taum, 2011:60) beranggapan bahwa hal ini dikarenakan novel
Indonesia masih sukar menerima sesuatu yang baru
dan memilih untuk bertahan dengan
konvensi
4
tradisional. Novel-novel yang
bersifat kronologis banyak didominasi oleh periode Balai Pustaka dan Pujangga
Baru. Sebagai contoh novel yang beralur kronologis adalah novel
Azab dan Sengsara
karya Merari Siregar. Novel
ini bercerita tentang cinta yang tak sampai antara dua anak muda yaitu
Aminuddin dan Mariamin karena terhalang restu orang tua. Mereka saling
mencintai sejak di bangku sekolah. Akan tetapi, akhirnya mereka harus kawin
dengan orang yang bukan pilihannya sendiri. Keputusan ini berakibat tak ada
kebahagiaan dalam hidup mereka. Tokoh Mariamin mati muda karena merana setelah
cerai dengan suami yang tidak dia cintai. Dari sinopsis tersebut dapat dilihat
bahwa alur dalam novel
Azab dan Sengsara
adalah kronologis. Hal ini
dikarenakan tahapan dalam novel tersebut adalah perkenalan, permunculan
masalah, konflik, klimaks, antiklimaks, penyelesaian.
Simpulan
Seni tradisi harus dipisahkan
dari pikiran memperlawankan antara seni tradisi dan modern. Seni tradisi harus
ditaruh sebagai seni yang didukung dan dikembangkan oleh masyarakat tradisional
(pengekspresian dengan ungkapan baik suara, gerak, wacana lisan) (Sutrisno,
2013:109). Sastra lisan yang termasuk dalam seni tradisi memang harus didukung
dan dilestarikan. Hal ini dikarenakan banyaknya nilai-nilai yang terkandung dan
pengaruhnya terhadap kesusastraan Indonesia modern. Akan tetapi dukungan dan
pengembangan sastra lisan maupun seni tradisi hendaknya berasal dari semua
pihak. Mulai dari masyarakat hingga para pembuat kebijakan karena seni tradisi
bukan hanya milik kelompok tertentu, tetapi milik semua masyarakat Indonesia.
Daftar Pustaka
Danandjaja, James. 1984.
Folklor Indonesia: Ilmu
gossip, dongeng, dan lain-lain
. Jakarta: Grafiti Pres Hutomo,
Suripan Sadi. 1991.
Mutiara yang terlupakan:
Pengantar Studi Sastra Lisan
. Surabaya : HISKI Jawa Timur
Pradopo, Rachmat Djoko. 1995.
Beberapa teori sastra, metode
kritik, dan penerapannya
. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Sumardjo, Jakob. 1992.
Sinopsis Roman Indonesia.
Cetakan ke-4. Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti Sutrisno, Mudji. 2013.
Ranah-ranah kebudayaan.
Cetakan ke-5. Yogyakarta: Kanisius
Taum, Yoseph Yapi. 2011.
Studi sastra lisan: sejarah, teori,
metode, dan pendekatan disertai contoh penerapannya.
Yogyakarta: Lamalera
Menyingkap Potensi Sastra Lisan di Indonesia
SASTRA lisan merupakan inventaris berbagai fenomena budaya yang hidup dalam suatu komponen masyarakat. Pewarisan secara oral dalam sastra lisan berpotensi melahirkan banyak variasi dan versi. Hal inilah yang menjadikan sastra lisan hadir dengan eksistensi dan potensinya sendiri.Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) mengeksplorasi potensi sastra lisan di Indonesia ini dalam seminar nasional sastra lisan 2017, Rabu (18/10) di Gedung Aula Fakultas Sasra E6 UM.
Sebagaimana dikatakan Prudentia MP, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Dosen FIPB Universitas Indonesia, banyak sekali potensi sastra lisan di Indonesia yang belum terjamah. Akan menjadi potensi dan peluang besar bagi para pegiat sastra untuk meneliti dan mengelaborasi hal ini lebih jauh.
Sastra lisan mengandung banyak sekali nilai luhur, baik secarai moral, spiritual, budi pekerti, dan pendidikan karakter. Sastra lisan hadir dengan ciri khas yang menjadi eksistensi dan keunikan tersendiri bagi masyarakatnya. Hal ini yang menjadikan masyarakat memiliki identitas yang kuat.
Lebih lanjut, guru besar UM, Maryaeni, menegaskan, sastra lisan harus mengalami perjalanan yang dinamis agar bisa berdaptasi dengan era global. Revitalisasi adalah salah satu cara mempertahankan eksistensi sastra lisan di Indonesia.
Selain konservasi, modernisasi juga menjadi salah satu tujuan bagi sastra lisan di era mendatang. Semua bergantung pada bagaimana upaya masyarakat melestarikan budaya lokal lisan di daerahnya dalam wujud yang bisa diterima dan dinikmati oleh masyarakat.
“Saya sepakat. Oleh karena itu, masyarakat harus berpikir sekreatif mungkin dalam mengangkat dan menggali lagi potensi sastra lisan ini. Masyarakat perlu terjun ke dalam industri kreatif dan membuat perubahan yang lebih lokal, orisinil, dan berkarakter,” tambah Novi Anggraeni, salah satu pembicara kunci dalam seminar tersebut.
Seminar ini juga menghadirkan beberapa pertunjukan seni khas Indonesia, di antaranya Tari Gandrung Banyuwangi yang diperagakan oleh mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia UM, penampilan Wayang Suluk, Wayang Golek, dan Prosesi Ikrar Kajat dengan pembacaan tembang macapat oleh Mbah Ngari, sesepuh Desa Gondowangi, Wagir.
Cerita pendek
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Artikel
ini sudah memiliki daftar referensi, bacaan terkait atau pranala luar,
tetapi sumbernya masih belum jelas karena tak memiliki kutipan pada kalimat (catatan kaki). Mohon tingkatkan kualitas artikel ini dengan
memasukkan rujukan yang lebih mendetail bila perlu.
|
Cerita pendek atau sering disingkat
sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif
fiktif.
Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan
karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella
(dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang
sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa
dan insight
secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa
dalam berbagai jenis.
Cerita pendek berasal dari anekdot,
sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya,
dengan paralel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan
munculnya novel yang realistis,
cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam
cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann
dan Anton
Chekhov.
Daftar isi
- 1 Sejarah
- 2 Unsur dan ciri khas
- 3 Ukuran
- 4 Genre
- 5 Cerita pendek terkenal
- 6 Lihat pula
- 7 Pranala luar
Sejarah
Asal usul
Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan
lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad
dan Odyssey
karya Homer.
Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang
berirama. Adapun irama tersebut berfungsi sebagai alat untuk menolong orang
untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini
dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu
kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan
bagian cerita tersebut telah disampaikan.
Fabel, yang umumnya berupa cerita
rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh
sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan
seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad
ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari
bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini
dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada
pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah
Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai
pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan
sebagainya.
Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi
sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko
Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita yang terkait dengan
kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul.
Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita mengenai asal
usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.
Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni
anekdot, populer pada masa Kekaisaran
Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan,
sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan.
Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta Romanorum
pada abad
ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di
Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat
anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan.
Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai
berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali
dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales
dan karya Giovanni Boccaccio Decameron.
Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang
dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan
di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka),
meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada
akhir abad
ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di
Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello
(khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella
digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek.
Pada pertengahan abad
ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus,
"nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette.
Pada 1690-an, dongeng-dongeng
tradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal
adalah karya Charles Perrault). Munculnya
terjemahan modern pertama Seribu
Satu Malam karya Antoine Galland
(dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang
hebat terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire,
Diderot
dan lain-lainnya pada abad ke-18.
Cerita-cerita pendek modern
Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya
sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal
dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongeng-dongeng Grimm
Bersaudara (1824–1826), Evenings
on a Farm Near Dikanka (1831-1832) karya Nikolai
Gogol, Tales of the Grotesque and Arabesque (1836), karya Edgar
Allan Poe dan Twice Told Tales (1842) karya Nathaniel Hawthorne. Pada
akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar
yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di
antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah
"Kamar No. 6" karya Anton
Chekhov.
Pada paruhan pertama abad
ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly,
Scribner's,
dan The
Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam
setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu
besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald
berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya.
Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah
mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life
menerbitkan long cerita pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut.
Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari.
Sejak itu, jumlah majalah komersial yang
menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah
terkenal seperti The New Yorker terus
memuatnya. Majalah sastra juga memberikan
tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan
ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat
ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir
menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog.
Unsur dan ciri khas
Cerita pendek cenderung kurang kompleks
dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada
satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang
terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.
Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang,
ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis:
eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi
(peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat,
krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap
suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan
titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian
(bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.
Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat
pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern
hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak,
dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang
lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik
balik. Namun, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan
dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis.
Seperti banyak bentuk seni
manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya.
Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu:
Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya
itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
- Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber pada cerita.
- Latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
- Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita.
Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
- Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
- Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
- Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
- Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
- Penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
- Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
- Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
- Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
- Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh
yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
- Dialog tokoh
- Penjelasan tokoh
- Penggambaran fisik tokoh
- Tokoh
Tokoh adalah orang orang yang diceritakan dalam
cerita dan banyak mengambil peran dalam cerita. tokoh dibagi menjadi 3, yaitu:
- Tokoh Protagonis : tokoh utama pada cerita
- Tokoh Antagonis : tokoh penentang atau lawan dari tokoh utama
- Tokoh Tritagonis : penengah dari tokoh utama dan tokoh lawan
- Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.
Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada
di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau
sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
- Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
- Latar belakang kehidupan pengarang
- Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan
Ukuran
Menetapkan apa yang memisahkan cerita pendek dari
format fiksi lainnya yang lebih panjang adalah sesuatu yang problematik. Sebuah
definisi klasik dari cerita pendek ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam
waktu sekali duduk (hal ini terutama sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe
"The
Philosophy of Composition" pada 1846). Definisi-definisi
lainnya menyebutkan batas panjang fiksi dari jumlah kata-katanya, yaitu 7.500
kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita pendek umumnya merujuk
kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak
kurang dari 1.000 kata.
Cerita yang pendeknya kurang dari 1.000 kata
tergolong pada genre fiksi kilat
(flash
fiction). Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita
pendek digolongkan ke dalam novelette, novella, atau novel.
Genre
Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk
karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi
seperti fiksi ilmiah, fiksi
horor, fiksi detektif, dan lain-lain.
Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi
seperti catatan perjalanan,
prosa lirik
dan varian-varian pasca modern
serta non-fiksi seperti fikto-kritis atau jurnalisme
baru.
Cerita pendek terkenal
- lx
- "The Red Room" oleh H.G. Wells
- "The Last Question" oleh Isaac Asimov
WACANA PERUBAHAN DAN ADAPTASI SASTRA
LISAN
DI INDONESIA
Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum.
Pengantar
Sastra lisan adalah salah satu perwujudan sastra
yang memiliki kekhasan. Ciri khusus sastra lisan bahwa jenis sastra ini
kehadirannya melekat dengan “artis”. Hal ini berbeda dengan sastra tulis yang
setelah selesai di tulis, maka sastra tersebut akan menjadi sastra “yatim
piatu” dan sang pengarang dianggap tewas sudah (the death of the author)
(Barthes, 1987:8).
Dalam komunikasi sastra lisan ada empat unsur
yang penting untuk tercapainya komunikasi tersebut. Keempat unsur komunikasi
tersebut harus hadir secara serempat dalam penyajian sastra lisan (Sudardi,
2002:2). Keempat unsur tersebut ialah:
(a) artist;
(b) story;
(c) performance;
dan
(d) audience.
Artist (artis/ seniman)
adalah orang yang menyajikan sastra lisan tersebut. Artis ini dapat
disejajarkan dengan pemancar dalam konsep Jakobson di atas. Artis ini dapat
tunggal, namun dapat pula berkelompok. Dalam menyajikan seorang artis pada
prinsipnya menggunakan sarana utama berupa lisan. Namun sarana tersebut dapat
dilengkapi dan didukung dengan sarana lain seperti gerakan, iringan. Dengan
demikian menjadi jelas perbedaan antara sastra tulis dan sastra lisan. Dalam
sastra lisan, kehadiran artis adalah mutlak sementara dalam sastra tulis
kehadiran artis (pengarang) sudah tereliminir. Dalam sastra elektronik (TV,
radio, rekaman) kehadiran artis tersekat, tertunda, atau bahkan tertinggal) yang
tidak memungkinkan lagi artis untuk berkomunikasi langsung dengan audience-nya.
Story identik dengan pesan
yang disampaikan. Pesan ini disampaikan dalam bentuk kode-kode bahasa yang
secara naluriah sudah dipahami baik oleh artis maupun audience.
Story ini berupa cerita yang sumbernya dapat berasal
dari berbagai macam. Sumber tersebut dapat berupa cerita turun-menurun,
kitab-kitab bacaan, cerita yang berkembang di masyarakat, cerita karangan, dan
sebagainya. Sumber-sumber penyusunan cerita tersebut dapat dikatakan sebagai
bahan mentah (raw material). Namun,
sumber-sumber tersebut belum dapat dikatakan sebagai sastra lisan sebelum
diadakan suatu performance.
Wujud nyata dari suatu sastra lisan adalah performance.
Tidak ada sastra lisan tanpa performance. Performance
ini dapat berupa pertunjukkan yang sederhana sampai pada pementasan yang hingar
bingar seperti dalam pementasan wayang, ketoprak, dan teater modern. Seorang
ibu yang bercerita kepada anaknya dalam rangka menurunkan cerita sebenarnya
juga mengadakan performance. Dalam bercerita
tersebut si ibu menggunakan berbagai kemampuannya untuk bercerita seperti
mengubah volume suara, membuat peragaan dengan tangannya, mengubah nada suara,
membuat perumpamaan, dan sebagainya.
Audience adalah unsur yang
harus dipenuhi adanya untuk tersajikannya sastra lisan. Audience
ini adalah penonton atau penikmat. Peran audience
tampak jelas pada point of view. Karya sastra
lisan biasanya disajikan oleh artis dalam bentuk orang ke-3 (metode diaan). Hal
ini berbeda dengan sastra tulis yang artisnya (pengarang) tidak kelihatan
sehingga memungkinkan dipakainya point of view orang pertama.
Aku dalam sastra tulis tidak identik dengan aku-pengarang. Dalam sastra lisan,
karena adanya jalur komunikasi langsung antara artis dan audience,
maka penggunaan kata aku akan berarti artis itu sendiri sehingga kata tersebut
harus dihindari, kecuali dalam kasus artis memerankan salah satu tokoh dalam
suatu cerita.
Audience bukanlah unsur yang
harus hadir secara fisik untuk terselenggaranya performance
sastra lisan. Audience ini dapat hadir
secara imajiner di dalam khayal artis. Hal ini dapat terjadi, misalnya dalam
pementasan sastra lisan melalui TV seorang artis dapat menyapa audience
imajiner ini dengan sebutan “Wahai pemirsa”. Ketika seorang artis sastra lisan
berlatih sendirian di dalam kamarnya, sebenarnya ia juga tampil di hadapan
audience imajiner ini. Dalam realitas, audience
ini dapat mengarahkan jalannya performance. Audience
juga dapat secara langsung berkomunikasi, dalam arti luas, dengan artis.
Penonton yang beramai-ramai meninggalkan tempat
pertunjukkan secara tiba-tiba, bersorak-sorak kegirangan, melempar rokok,
berkomentar, nyeletuk, duduk khitmat, dan sebagainya akan mempengaruhi
penampilan artis. Hal seperti ini yang tidak dapat dilakukan oleh audience
imajiner. Namun, audience imajiner juga
mempengaruhi artis. Dalam kasus tertentu, di hadapan audience
imajiner ini seorang artis akan bertindak lebih tenang dan semaunnya.
Karena sastra lisan erat kaitannya dengan
masyarakat, kadang-kadang jenis sastra ini tidak dikaji sebagai bentuk sastra.
Sastra lisan sering menjadi anak tiri di dunia sastra kita. Yang banyak
memperhatikan sastra lisan justru kajian seni pertunjukkan, antropologi,
folklor, sementara para sarjana sastra justru mengabaikan, bahkan ada yang
menganggap bukan sebagai sastra.
Kita memang terlalu lama terkungkung dengan
pengertian sastra yang menganggap bahwa sastra adalah sesuatu yang tertulis. Di
dalam bahasa Jawa, misalnya, arti sastra adalah “tulisan”. Entah bagaimana
sejarahnya sampai dewasa ini pengertian sastra pada umumnya masih diartikan
sebagai “karya tertulis”. Bahkan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia sebagai suatu kamus paling bergengsi di Indonesia masih
mendudukkan sastra lisan sebagai bagian lain dari sastra (lihat Alwi dkk.,
2001: 1002). Dalam kamus ini sastra lisan didefinisikan sebagai “hasil
kebudayaan lisan dalam masyarakat tradisionil yang isinya dapat disejajarkan
dengan sastra tulis dalam masyarakat modern”. Definisi ini memberi arti bahwa
sastra lisan bukanlah sastra, melainkan mirip dengan sastra saja. Pengertian
ini membatasi adanya sastra lisan hanya pada masyarakat tradisionil saja.
Sementara masyarakat modern dianggap hanya memiliki sastra tulis, dan tidak
memiliki sastra lisan.
Eksistensi sastra lisan akan selalu eksis selama
masih diperlukan masyarakat pendukungnya. Sastra lisan adalah bagian dari
dinamika kehidupan masyarakat dan masyarakat pemilik sastra lisan itu sendiri
yang menentukan nasib suatu bentuk sastra lisan untuk tetap eksis atau pun ditinggalkan.
Hal itu tampak nyata dari dinamika sastra lisan di Indonesia yang sebagian
masih eksis dan melakukan suatu adaptasi dengan perubahan zaman, sebagian
“gulung tikar” untuk lenyap selama-lamanya atau terdukumentasi dan tinggal
menjadi kenangan bagi generasi selanjutnya.
Makalah ini berusaha mengangkat dinamika sastra
lisan di Indonesia, lebih khusus lagi di Jawa mengingat bahwa sastra lisan di
Jawa dewasa ini yang paling nyata menampakkan dinamika. Hal ini tidak berarti
bahwa sastra lisan di Jawa yang paling dinamis, tetapi akibat sastra lisan di
Jawa ini paling banyak dieksplorasi dan dimunculkan dalam media elektronik
sehingga lebih dikenal masyarakat luas.
Sastra Tutur
Pada dasarnya sastra lisan dapat dibagi dua,
yaitu sastra tutur dan sastra pertunjukkan. Salah satu contoh sastra tutur
adalah kentrung. Kentrung
adalah suatu jenis sastra lisan berupa penceritaan lisan yang dilakukan oleh
dalang kentrung kadang-kadang dibantu oleh panjak atau
pengiring dalang. Di dalam menyampaikan cerita, dalang kentrung sering
mengiringinya dengan tabuhan rebana dan kendang. Kentrung ini memiliki
penyebaran di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama di wilayah pesisir. Di dalam
menyampaikan cerita, dalang kentrung tidak menggunakan peraga.
Model seni mirip kentrung juga terdapat di
berbagai kelompok masyarakat. Jenis seni bercerita dan asalnya dapat dilihat di
dalam tabel berikut:
Nama Seni Bercerita
|
Daerah Asal
|
Jemblung, Kentrung, Templing
|
Jawa Tengah/ Jawa Timur
|
Bakaba
|
Sumatra Barat
|
Jeilehim
|
Sumatra Selatan
|
Warahan
|
Lampung
|
Bapandung,
Basyasyairan
|
Kalimantan Selatan
|
Cepung
|
Bali
|
Pantun
|
Jawa Barat
|
Awang
Belanga/ Awang Batil
|
Perlis, Malaysia
|
Pelipur
lara
|
Melayu
|
Tanggomo
|
Gorontalo
|
Kentrung biasanya menyampaikan cerita-cerita
tradisionil yang diselingi dengan puisi-puisi Jawa (pantun).
Pantun tersebut mengandung pesan yang bermacam-macam dan sering tidak ada
kaitannya dengan jalan cerita. Isi pantun dapat berupa sindiran, nasihat, ratapan,
dan sebagainya. Contoh pantun yang terdapat di dalam kentrung adalah sebagai
berikut (lihat Hutomo, 1993).
Sore-sore menyang Semarang
Numpak sepur adoh parane
Nyambut gawe aja wedi wirang
Pokok jujur tindak lakune
Wayah magrib lak nyang kali
Lampu-lampu ndang sumetana
Mumpung ijik urip ayo ndang ngulir budi
Limang wektu ndang lakonana
Abang-abang ora luntura
Wong sing ijo malihe putih
Isih bujang ora ngluyura
Sing duwe bojo ora tau mulih
Tokoh yang secara intensif meneliti sastra lisan,
khususnya kentrung adalah almarhum Suripan Sadi Hutomo. Menurut Suripan, isi
cerita kentrung dapat dibagi menjadi delapan kelompok, yaitu:
(1) cerita tentang seorang nabi,
(2) cerita tentang kehidupan Nabi Muhammad,
(3) cerita pahlawan Islam dari Timur Tengah,
(4) cerita yang terjadi di salah satu negara di
Timur tengah,
(5) cerIta tentang seorang Wali,
(6) cerita yang bersumber dari babad,
(7) cerita yang bermain di lingkungan pesantren,
dan
cerita Murwakala (Sudikan, 2001:144).
Dewasa ini, kentrung tampak tidak mampu
menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Kentrung menjadi ciri khas masyarakat
agraris marginal di pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belum ditemukan
terobosan baru untuk tetap menjaga kentrung ini eksis. Dalang kentrung
rata-rata sudah tua dan mereka tidak memiliki kader penggantinya. Kentrung
tampaknya akan segera memasuki era konservasi danm enjadi kenangan di dalam
zaman yang berubah cepat ini. Hal senasib juga melanda jenis tradisi bertutur
di daerah lainnya.
Wayang
Wayang adalah jenis sastra lisan yang dewasa ini
paling menonjol, khususnya wayang kulit purwa. Bebeda dengan kesenian kentrung
yang mengandalkan pada tuturan, maka kesenian wayang sudah menggunakan boneka
sebagai alat peraganya. Bila diperhatikan dari bentuk penceritaan, tampaknya
wayang merupakan pengembangan dari bentuk bercerita seperti kentrung (Sudardi,
2002:78).. Dalam sejarah tradisinya, wayang kemudian masuk ke dalam tradisi
istana sehingga banyak mengalami penyempurnaan, baik dalam hal boneka, maupun
dalam hal musik sebagai pengiringnya pertunjukkan.
Secara harfiah, kata wayang
sebenarnya berasal dari kata bahasa Jawa Kuna wawayang
yang dapat diartikan bayangan. Dalam bahasa Jawa Kuna, kata wayang kemudian
mendapat arti khusus, yakni pertunjukkan cerita dengan boneka/ penari, tokoh
dalam pertunjukkan wayang, dan boneka wayang. Di samping itu, wayang juga
merupakan nama wuku (penanggalan tujuh
harian) (Zoetmulder dan Robson, 1982:1406). Padanan kata wayang, dalam
pengertian sebagai pertunjukkan, adalah ringgit.
Kata wayang
setidaknya sudah sejak ada tahun 907 terbukti dengan disebutkannya istilah mawayang
dalam prasasti dari zaman Raja Balitung (Holt, 1967:128). Karena ketuaannya
tersebut, dalam sejarah perkembangannya kata wayang telah mengalami banyak
perubahan dan perkembangan.
Sebagai bentuk pertunjukkan, wayang dapat
diartikan sebagai suatu bentuk pementasan yang bahan-bahannya diambil dari
kehidupan nyata. Jadi, wayang dapat diartikan sebagai bentuk teater sandiwara
dalam pengertian dewasa ini. Sebenarnya wayang merupakan gambaran setidaknya
harapan mengenai dunia nyata. Karena itu, pementasan wayang pada hakikatnya
selalu mengandung hal-hal kontemporer. Jadi, teater wayang secara metaforis
berarti bayang-bayang kehidupan nyata. Dengan demikian, ada tidaknya permainan
bayang-bayang bukan menjadi hal mutlak dalam pertunjukkan wayang. Pementasan
wayang yang dengan nyata memanfaatkan efek bayangan adalah wayang kulit/ wayang
purwa. Dewasa ini setidaknya dikenal berbagai bentuk wayang yang tidak
menggunakan efek bayangan seperti wayang orang, wayang golek, dan wayang
klitik.
Karena cerita wayang merupakan bayangan metaforis
kehidupan nyata, maka di dalam bagian tertentu cerita wayang selalu disisipkan
hal-hal yang diidentikan dengan dunia nyata. Hal tersebut misalnya tampak dalam
Arjunawiwaha. Kehebatan Arjuna dalam bertapa dan
melawan musuh diidentikan dengan kehebatan Raja Airlangga dalam bertapa dan
menumpas musuh-musuhnya. Bharatayudha yang ditulis pada masa Raja Jayabhaya
dari Kediri tidak lain merupakan gambaran kehebatan raja tersebut dalam
menaklukkan musuh-musuhnya yang sebagian sebenarnya saudaranya (Berg,
1974:67-70, Zoetmulder, 1985:310 & 364).
Tentang kapan munculnya wayang di Indonesia
sampai saat ini masih menjadi bahan diskusi. Beberapa ahli menyatakan bahwa
wayang sudah muncul sejak zaman prasejarah yang diperkirakan pada tahun 1500
sebelum Masehi (Mulyono, 1978b:3). Hal ini berdasarkan asumsi bahwa wayang
merupakan tradisi asli bangsa Indonesia dan munculnya wayang sejalan dengan
munculnya masyarakat di Nusantara ini. Namun demikian, pendapat ini kurang
didukung bukti-bukti yang lengkap, masih berdasar dugaan.
Menurut bukti-bukti tertulis, wayang diperkirakan
muncul pada tahun 840. Menurut prasasti Jaha yang dikeluarkan oleh Maharaja Sri
Lokapala dalam sebuah piagam bagi pembebasan Kuti disebutkan adanya pegawai
yang disebut aringgit yang diartikan
sebagai para aktor (Holt, 2000:428). Kata ringgit
adalah padanan kata wayang sehingga kata aringgit
diduga merupakan aktor pemain wayang. Hanya saja di sini belum jelas model permainan
wayang tersebut.
Berita tentang adanya istilah wayang ditemukan
dari prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada tahun 907. Prasasti ini
merupakan pengukuhan atas sebuah desa Sangsang sebagai sebuah perdikan (Holt,
2000:431). Di dalam prasasti tersebut ditemukan istilah “mawayang
buat Hyang”. Disebutkan pula bahwa cerita-cerita yang diambil
adalah cerita-cerita dari Ramayana dan Mahabharata.
Masyarakat Jawa merupakan masyarakat di Indonesia
yang memiliki paling banyak jenis wayang dan mempunyai pengaruh yang luas.
Berdasarkan peraga yang digunakan, wayang di dalam masyarakat Jawa dapat dibagi
menjadi 5 jenis utama wayang, yaitu:
(1) wayang kulit;
(2) wayang klitik/ krucil (menceritakan
Damarwulan);
(3) wayang golek (menceritakan Amir Hamzah);
(4) wayang beber;
(5) wayang wong dan;
(6) wayang batu (relief) (Holt, 1967, Mulyono,
1978:158).
Di samping lima jenis utama wayang tersebut masih
terdapat beberapa jenis wayang lagi yang sifatnya permainan dan tidak disajikan
secara profesional, di antaranya: wayang rumput (mainan penggembala), wayang
kardus (mainan anak-anak), dan wayang gambar (mainan anak-anak).
Wayang kulit adalah wayang yang terbuat dari
kulit binatang seperti kulit kerbau, sapi, dan kambing. Jenis wayang ini
merupakan jenis wayang yang laing terkenal. Wayang kulit dapat dibagi menjadi
empat jenis, yaitu:
1. wayang kulit purwa (cerita
Ramayana dan Bharata-yudhha),
- wayang gedhog (cerita Panji),
- wayang madya (menceritakan Raja Jayabaya, Kediri), dan
- wayang modern atau wayang wasana (akhir).
Wayang kulit
purwa setidaknya sudah muncul pada zaman Airlangga terbukti dengan
dideskripsikannya jenis wayang ini dalam Arjunawiwaha
(Zoetmulder, 1985:264). Namun demikian, model
pementasan wayang kulit di zaman Airlangga tersebut belum jelas benar. Istilah
yang digunakan dalam Arjunawiwaha adalah ringgit
sementara sebutan wayang purwa baru disebutkan dalam Serat
Sastramiruda dari masa Paku Buwana IX yang bertahta 1863-1893
(Kusumadilaga, 1981: 158). Menurut serat ini, sebutan wayang purwa baru muncul
pada masa kerajaan Demak 1893 (Kusumadilaga, 1981: 160).
Wayang gedhog adalah jenis wayang kulit, namun
mengambil siklus cerita Panji, namun kadang-kadang cerita Damarwulan juga
dimasukkan di dalamnya (Holt, 2000:156).
Sampai saat ini, sebutan gedhog
masih belum jelas maknanya. Setidaknya ada dua pendapat mengenai
makna gedhog tersebut:
(1) gedhog berarti
batas antara zaman purwa (siklus cerita Mahabahrata/ Ramayana)
dengan cerita selanjutnya (zaman Panji);
(2) kata gedhog merupakan bentuk Kawi dari kata
kuda. Kuda adalah sebutan/ gelaran untuk tokoh-tokoh dalam cerita Panji
(Mulyono, 1978:153).
Menurut Serat Sastramiruda,
wayang gedhog diciptakan pada tahun 1485 Saka (1563 Masehi)
oleh Sunan Giri . Yang menjadi pedoman penyusunan adalah wayang purwa Demak
dengan menghilangkan tokoh raksasa, kera. Cerita yang diambil adalah cerita
negara Jenggala, Kediri, Singasari, dan Ngurawan. Gamelan yang digunakan adalah
pelog dengan suluk greget saut berbeda
dengan wayang purwa. Yang menjadi dalang pertama adalah Widiyaka, abdi Sunan
Kudus. Pakem wayang ini disempurnakan pada zaman Hadiwijaya dari Pajang yang
disebut pakem wayang gedhog purwa (Kusumadilaga, 1981:161).
Dengan demikian, wayang gedhog
adalah perkem-bangan lebih lanjut dari wayang purwa dengan mengambil cerita
Panji.
Wayang madya berarti wayang zaman tengah. Wayang
ini merupakan wayang kulit dengan cerita zaman tengah menurut kronologi sejarah
visi orang Jawa. Jadi, wayang ini mengambil cerita setelah cerita Bharatayudha
yang dianggap sebagai zaman kuna (purwa).
Wayang madya merupakan wayang
hasil ciptaan Mangkenagara IV (1853-1881). Cerita wayang ini disusun
berdasarkan Serat Pustaka Raja Madya dan Serat
Witaradya karangan Ranggawarsita. Sumber lain cerita wayang
madya adalah Serat Anglingdarma. Wayang
madya dibuat dari kulit dengan penampilan bagian atas mirip wayang
purwa sedang bagian bawah mirip wayang gedhog. Menurut Mangkunegara IV, wayang
madya ini mengambil cerita dari tahun 785-1052 Saka (863-1130)
dengan cerita masa Prabu Jayabhaya sampai dengan Prabu Jayalengkara (Haryanto,
1988:96).
Wayang modern adalah wayang yang muncul di zaman
modern, yaitu sekitar abad XX. Bahan wayang biasanya dari kulit, namun
kaang-kadang juga menggunakan bahan pengganti dari karton/ kardus.
Jenis wayang modern bermacam-macam serta
mengalami perkembangan dan perubahan dari masa ke masa. Wayang modern ini
sering merupakan kreasi perseorangan dan biasanya berusia pendek. Jenis-jenis
wayang modern antara lain adalah:
(a) wayang wahana yang diciptakan oleh Sutarta
Harjawahana dari Surakarta pada tahun 1920 dengan cerita diambil dari peristiwa
kontemporer dan bentuk wayangnya dibuat seperti gambar manusia;
(b) wayang suluh adalah pengembangan dari wayang
wahana yang digunakan oleh Departemen Penerangan untuk memberi penyuluhan;
karena itu, wayang tersebut diberi nama wayang suluh dan digunakan pada tahun
1947;
(c) wayang perjuangan merupakan wayang yang
sejenis dengan wayang suluh dan wayang wahana; wayang ini diciptakan oleh
M.Sayid dari Surakarta pada tahun 1944 dengan mengambil cerita perjuangan bagsa
Indonesia melawan penjajah;
(d) wayang Pancasila yang diciptakan oleh
Suharsono Hadisuseno dari Yogyakarta (1948) dengan cerita sekitar perjuangan
bangsa Indonesia, namun disajikan secara tidak langsung (melalui sindiran;
sebagai contoh Jendral Spoor disebut Rata Dahana (dari kata spoor
yang berarti kereta api);
(e) wayang budha merupakan wayang yang diciptakan
tahun 1978 oleh Suprapto Suryadarma dengan cerita dari agama Budhha disajikan
perpaduan antara wayang kulit purwa dengan wayang orang dengan menggunakan
layar sepanjang 8 meter;
(f) wayang sadat merupakan wayang ciptaan Suryadi
Warnosuharjo dari Klaten pada tahun 1985 dengan cerita para wali (Demak-Pajang)
dan ditujukan untuk dakwah Islam;
(g) wayang dobel adalah jenis wayang lain yang
digunakan untuk dakwah Islam; wayang ini diciptakan oleh Kyai Ahmad Kasman dari
Yogyakarta; wayang ini disebut wayang dobel karena memiliki hal ganda, yakni
cerita dari bahasa Arab (Islam), namun disajikan dalam bahasa Jawa; cerita
dalam wayang dobel adalah cerita tentang malaikat dan para nabi (cerita Islam);
(h) wayang Jawa menceritakan babad seperti
sejarah Demak, Pajang, perjuangan Pangeran Diponegara, dan lain-lain. Wayang
ini diciptakan oleh Dutodiprojo dari Surakarta pada tahun 1940;
(i) wayang Kancil yang menceritakan kisah Kancil
ini diciptakan oleh Lie Too Hien dan Bo Liem pada tahun 1925
(j) wayang Adam Ma’rifat adalah ciptaan Dwija
Siswaya dari Magelang dan berisi ajaran-ajaran kebatinan, misalnya cerita Bima
Racut;
(k) wayang wahyu atau wayang warta atau wayang
Katolik adalah wayang yang digunakan untuk menyampaikan ajaran Katolik dengan
cerita yang diambil dari Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru); ide penciptaan wayang wahyu terjadi Desember 1960 atas
inisiatif broeder Marji Subroto di Malang sementara dalangnya adalah dalang
wayang kulit biasa, khususnya dari umat Katolik;
(l) wayang wahyu Kristen adalah wayang mirip
dengan wayang Katolik di atas, namun yang disampaikan adalah ajaran Kristen;
pencetus wayang ini dalah Rusradi dari Surakarta pada bulan Oktober 1957 (Holt,
2000:158-159; Mulyono, 1978:160-163; Haryanto, 1988:117-127, Ismunandar,
1994:111).
Wayang dewasa ini tidak hanya dikenal di
masyarakat Jawa saja. Berbagai masyarakat di Nusantara juga memiliki tradisi
wayang. Jenis-jenis wayang yang berkembang di berbagai kelompok masyarakat di
Nusantara dapat dilihat dalam tabel berikut:
Masyararakat
|
Jenis wayang
|
Sunda
|
Wayang kulit, dan wayang golek
|
Betawi
|
Wayang kulit
|
Bali
|
Wayang kulit dan wayang wong
|
Lombok
|
Wayang sasak (kulit)
|
Melayu
|
Kulit (Melayu, Jawa, Siam)
|
Dewasa ini wayang mengalami suatu perkembangan
yang pesat yang sudah sangat berbeda dengan kondisi wayang pada masa-masa
sebelumnya. Wayang saat ini berkembang dalam dua bentuk, yaitu wayang yang
masih merupakan tradisi dan wayang yang sudah menjadi produk. Dua jenis
perkembangan wayang ini dewasa ini bagaikan bumi dan langit.
Wayang yang masih merupakan suatu tradisi dapat
dikatakan tersisih. Banyak dalang-dalang yang tidak memiliki penerus.
Dalang-dalang di kampung-kampung saat ini banyak yang tidak pernah pentas lagi
dan melelang kekayaan tradisinya berupa wayang dan seperangkat gamelan. Wayang
sudah bukan menjadi tradisi masyarakat pedesaan. Mereka lebih senang memutar
VCD atau kaset yang relatif lebih murah daripada menanggap wayang.
Di samping jenis wayang yang tersisih, di antara
dalang-dalang tersebut beberapa di antaranya berhasil mengemas pertunjukkan
wayang sebagai suatu produk entertainment dengan nilai tanggapan mencapai
puluhan juta. Mereka juga mengembangkan suatu gaya pertunjukkan ke arah bentuk
pertunjukkan populer dengan tata panggung model baru dan menghadirkan “bintang
tamu” sebagai bentuk pementasan pertunjukkan boneka digabung pertunjukkan
peraga manusia. Alat-alat pendukung yang digunakan juga melibatkan alat-alat
elektronik. Belum lama ini seorang dalang kondang dari Tegal bernama Enthus
Susmono memperkenalkan figur-figur wayang modifikasi yang disebutnya wayang
planet (Susmono, 2002). Dalam kasus ini, wayang telah berubah dari pertunjukkan
masyarakat agraris yang bernilai sakral menjadi produk masyarakat populer yang
bersifat komersial. Tradisi nanggap wayang sebagai sarana ritual magis makin
lama makin terkikis. Pertunjukkan-pertunjukkan wayang seperti untuk ruwatan,
bersih desa, khitanan, tingkepan, dan sebagainya saat ini sudah sangat langka.
Masyarakat dewasa ini menyadari bahwa zaman telah berubah dan mereka
menyaksikan bagaimana wayang ikut menyesuaikan diri dengan perubahan zaman
sementara dalang-dalang lainnya mundur dengan teratur, tak kuasa melawan zaman.
Ketoprak
Ketoprak adalah jenis sastra lisan yang
menggunakan peraga manusia. Ketoprak berkembang khususnya di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, namun di beberapa tempat yang dihuni orang dari Jawa juga memiliki
tradisi ketoprak. Sebagai misal, Lampung dan Sumatra Utara.
Ketoprak adalah suatu sastra lisan yang disajikan
dengan manusia sebagai peraganya. Sastra lisan ini diiringi dengan musik
gamelan dan disisipi dengan lagu-lagu macapatan pada awal adegan, tetapi
ketoprak dewasa ini telah menghilangkan unsur lagu tersebut. Di dalam ketoprak
tidak terdapat gerak tari yang baku. Namun, pada awal perkembangannya
sebenarnya di dalam ketoprak terdapat gerak tari juga (Soedarsono, 1985:68).
Jadi, sebenarnya dalam perjalanannya ketoprak telah mengalami berbagai
perubahan.
Di Jawa ada beberapa jenis sastra lisan yang
diperagakan manusia. Jenis-jenis sastra lisan tersebut dapat dilihat dalam
tabel berikut
Nama Sastra lisan
|
Deskripsi
|
Wayang wong
|
Mengambil cerita Ramayana dan Bharatayuidha, diiringi gamelan,
ada dialog, disajikan dengan tarian baku
|
Langendriyan
|
Mengambil cerita Majapahit,
diiringi gamelan, dialog dalam wujud tembang, disajikan dengan tarian baku
|
Langen wanara
|
Mengambil cerita Ramayana,
diiringi gamelan, tanpa dialog, disajikan dengan tarian baku
|
Mengambil cerita Panji,
diiringi gamelan, tanpa dialog, disajikan dengan tarian baku
|
|
Srandul
|
Mengambil cerita keseharian,
diiringi gamelan sederhana, dengan dialog
|
Ludruk
|
Cerita keseharian / legenda/
babad, diiringi gamelan, diselingin pantun, dengan dialog, berkembang di Jawa
Timur.
|
Janger
|
Cerita babad/ legenda, diiringi
gamelan, dengan dialog, khusus di Banyuwangi
|
Ketoprak dapat dimasukkan ke dalam kelompok seni
drama. Sastra lisan yang berupa seni drama tersebut tersebar di berbagai tempat
di Nusantara. Jenis-jenis seni drama yang sederajat dengan ketoprak
(diperagakan manusia, ada dialog, diiringi musik) dapat dilihat dalam tabel
berikut.
Nama sastra lisan
|
Asal
|
Bangsawan
|
Sumatra Utara
|
Dermuluk
|
Sumatra Selatan
|
Makyong/ Mendu
|
Riau, Kalimantan Barat
|
Mamanda
|
Kalimantan Selatandan Timur
|
Ubrug, Longser, Bonjet
|
Jawa Barat
|
Masres
|
Indramayu
|
Arja
|
Bali
|
Menurut sejarah perkembangannya, ketoprak pada
mulanya berkembang di desa dengan instrumen sederhana berupa lesung (alat
penumbuk padi) sehingga disebut ketoprak lesung. Cerita yang dibawakan pada
umumnya cerita babad, Menak, dari Timur Tengah (cerita Parsi), legenda, dan
lain-lain (Soedarsono, 1985:69). Dari sini, ketoprak kemudian berkembang
menjadi seni yang diiringi gamelan kemudian berkembang menjadi seni rakyat dan
seni komersial.
Ketoprak termasuk jenis sastra lisan yang relatif
muda, namun berkembang cepat. Ketoprak mula-mula diciptakan oleh Raden Mas
Tumenggung Wreksodiningrat pada tahun 1908 di Surakarta. Alat yang digunakan
adalah lesung. Cerita yang diambil adalah kehidupan petani di desa. Ketoprak
waktu itu dilakukan dengan tarian yang disebut sebagai joged gendro. Pada tahun
1909 ketoprak pertama kali pentas di istana Surakarta. Pada tahun 1925,
ketoprak pertama kali dikenal di Yogyakarta yang kemudian dikembangkan di
Yogyakarta sehingga pada tahun 1928 di Yogyakarta berdiri sekitar 300 kelompok
ketoprak resmi (Satoto, 1989:196).
Ketoprak kemudian berkembang menjadi seni rakyat
dan seni komersial. Ketoprak yang digunakan sebagai seni komersial mula-mula
adalah ketoprak keliling yang mendapatkan uang dengan cara mbarang
(ngamen) dengan peralatan musik dipikul (diongkek).
Ketoprak jenis ini dikenal dengan nama ketoprak ongkek.
Perkembangan selanjutnya ialah ketoprak dengan menetap di suatu tempat untuk
beberapa lama di dalam tempat sementara yang disebut tobong.
Karena itu, jenis ini disebut sebagai ketoprak tobong.
Ketoprak sebagai sastra lisan dewasa ini juga
menghadapi tantangan yang berat. Ketoprak adalah jenis sastra lisan profan yang
tidak terikat pada acara-acara tradisi. Beberapa jenis ketoprak komersiil saat
ini satu demi satu bubar, beberapa di antaranya bertahan dalam kondisi yang
memprihatinkan di dalam konservasi tertentu yang biasanya dikelola oleh
pemerintah daerah.
Salah satu jenis ketoprak yang menjadi fenomena
yang menarik adalah ketoprak humor yang dimunculkan di RCTI. Ketoprak atas ide
Timbul Cs. tersebut dewasa ini hadir di media elektronik dan digemari bukan
saja orang Jawa, melainkan juga suku-suku lain dan ketoprak ini disajikan
dengan bahasa campuran Jawa (disertai teks terjemahan) dan Indonesia. Sesuai
namanya, ketoprak humor lebih menekankan aspek humor dan action dan menempel
pada budaya populer dengan dimunculkan tokoh-tokoh bintang dari berbagai cabang
seni (khususnya entertaiment).
Sastra Lisan dalam Tradisi
Sastra lisan juga hadir dalam suatu tradisi
sebagai roh tradisi tersebut. Contoh satra lisan tersebut adalah Tradisi
Penyembelihan Bebakak yang terjadi di desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping,
Sleman.
Kata bekakak merupakan kata dari bahasa Jawa.
Kata ini sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “ayam
yang dimasak atau dipanggang secara utuh (tanpa dipotong-potong), biasanya
untuk selamatan” (Alwi dkk, 2001:121). Kata lain yang dekat dengan penertian
bekakak adalah ingkung. Dari pengertian di atas, jelas bahwa pengertian bekakak
memang berkaitan dengan tradisi ritual (selamatan).
Bekakak diwujudkan sebagai sepasang boneka yang
terbuat dari beras ketan yang dirupa sebagai sepasang pengantin. Sepasang
boneka ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai bekakak lanang
(laki-laki) dan bekakak wedok (perempuan).
Kedua bebakak tersebut juga berkaitan dengan tradisi selamatan di desa
tersebut. Dalam tradisi tersebut, kedua bekakak tersebut disembelih di suatu
tempat tertentu dengan suatu upacara ritual.
Menurut tradisi, pelaksanaan tradisi penyembelihan
bekakak dilakukan pada setiap hari Jumat, pada tanggal sebelum purnama (15), di
bulan Sapar. Jadi, tradisi ini dilaksanakan ketika orang menyongsong bulan
purnama. Hari Jumat menurut tradisi Jawa adalah hari ketika para makhluk halus
banyak keluar untuk mencari mangsa. Saat purnama adalah saat ketika sinar bulan
mencapai klimaksnya sehingga pada malam purnama efek bayangan menjadi nyata.
Bulan Sapar adalah bulan ketika kraton-kraton di
dalam tradisi Jawa tidak memiliki acara perayaan. Biasanya kraton-kraton
mengadakan acara perayaan pada bulan Sura (Muharam) untuk hajat-hajat seperti
pernikahan dan bulan Mulud untuk acara muludan (perayaan kelahiran Nabi
Muhammad). Dengan demikian, dipilihnya bulan Sapar untuk acara ini adalah dalam
rangka tidak menyaingi acara yang terjadi di kraton.
Acara penyembelihan bekakak memang merupakan
tradisi kecil atau tradisi rakyat sehingga dengan diadakan di luar acara rutin
kraton akan menjadikan acara ini tidak dianggap menyaingi acara kraton sehingga
eksistensinya tidak mendapat tantangan dari penguasa (kraton).
Akibat pariwisata dan globalisasi, ternyata
tradisi juga ikut berubah. Dalam kasus bekakau, setidaknya dua hal telah
berubah, yaitu waktu penyebelihan dan tempat penyebelihan. Pada tahun 2002,
dalam penelitian kami ditemukan bahwa penyembelihan bekakak pada 3 Mei 2002
ternyata waktu penyembelihan tersebut mengalami pegeseran. Hari Jumat sebelum
purnama sebenarnya jatuh pada tanggal 26 April 2002, namun karena Departemen
Pariwisata sudah menjadwalkan acara tersebut pada tanggal 3 Mei, maka acara
tersebut kemudian diundur sesuai dengan jadwal yang dibuat oleh Departemen
Pariwisata. Hal ini berarti bahwa unsur komersial (bisnis) telah mempengaruhi
tradisi ini, yakni disesuaikan dengan kalender wisata. Hal ini juga menunjukkan
fleksibelitas masyarakat pendukung tradisi ini sekaligus sebagai tanda semakin
kendornya keyakinan masyarakat tersebut terhadap tuah pada acara ini.
Hal kedu bahwa sebagian penyembelihan tersebut
kemudian diadakan di Ring Road Yogya Barat dengan maksud ditonton banyak orang
dan menyedot wisatawan. Hal ini pun berkaitan dengan tuntutan pariwisata dan
bisnis wisata sehingga tradisi penyebelihan di Gunung Gamping telah dibelokkan
ke tempat yang ramai pengunjung.
Demikian, bahwa sastra lisan selalu dinamis
menyesuaikan zaman dan disesuaikan dengan ketuhan masyarakat pemiliknya
Refleksi sastra lisan dan tulisan
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Sastra tidak terlepas dari kehidupan
manusia karena sastra merupakan bentuk ungkapan pengarang atas kehidupan yang
terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan bentuk atau wujudnya karya
sastra terdiri dari aspek isi dan aspek bentuk. Aspek isi merupakan
pengalaman tentang hidup manusia. Aspek bentuk merupakan hal-hal yang terkait
cara pemakaian, cara pengarang memanfaatkan bahasa untuk mewadahi isi
dari karya sastra tersebut. Berdasarkan pengertian dari aspek bentuk atau
wujudnya, sastra dapat disampaikan secara lisan dan tulisan. Penyampaian sastra
secara lisan, langsung diungkapkan dari mulut ke mulut sedangkan penyampaian
sastra secara tulisan diungkapkan melalui bahasa tulis. Sastra lisan merupakan
bagian kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Sastra lisan merupakan milik bersama, bersifat anonim pada suatu daerah
tertentu. Sastra lisan adalah salah satu gejala kebudayaan yang terdapat pada
masyarakat terpelajar dan yang belum terpelajar. Ragamnya pun sangat banyak dan
masing-masing ragam mempunyai variasi yang banyak pula. Isinya mungkin mengenai
berbagai peristiwa yang terjadi atau kebudayaan masyarakat pemilik sastra
tersebut (Finnegan dalam Armina, 2012:1).
ANALISIS BENTUK DAN MAKNA SASTRA
LISAN SUMBAWA SAKECO
SUKU SAMAWA DI KABUPATEN
SUMBAWADENGAN PENDEKATAN FOKLOR
Zekriady
SMP Sumbawa
Abstak
Berdasarkan seluruh hasil penelitian
terhadap sakeco sebagai sastra lisan
Sumbawa yang berbentuk puisi, dapat
disimpulkan sebgai berikut: a) Alur
yang digunakan adalah alur maju. b)
Latar yang digunakan yaitu: Latar
tempat: istana sentris,
daerah-daerah yang ada di Sumbawa dan daerah yang
ada di Goa (Sulawesi Selatan), Latar
suasana: senang, sedih, bahagia,
tegang. C) Tokoh dan penokohan yang
digunakan yaitu tokoh antagonis dan
prota gonis. Karakter yang diberikan
kepada masing-masing tokoh sesuai
dengan peranan masing-masing. d)
Tipografi yang digunakan dalam sakeco
berupa tipografi bebas tanpa atura,
septima, stanze (octav), quartrain,
terzina, dan disitikom. e) Tipografi
ini digunakan pada sakco yang yang
berbentuk puisi nasehat; Diksi pada
sakeco sebagai sastra lisan Sumbawa
hanya digunakan pada sakeco bentuk
puisi nasehat. f) diksi yang digunakan
adalah
tau, polak, boat, sirik, alam kubur,
bunga, Korong batang, dan tau
peno.
g) Makna yang terkandung adalah
makna kehidupan sosial pada
masyarakat Sumbawa dan Sulawesi
Selatan memiliki kesamaan yaitu
menjodohkan putrinya dengan cara
saembara atau adu kekuatan dan
kepandaian. Masyarakat Sumbawa
memiliki nilai persahabatan yang tidak
pandang golongan. Perjuangan
masyarakat Sumbawa untuk membela
kebenaran rela mempertaruhkan nyawa
dan tidak memilih golongan yang
melakukan kesalahan.
Kata Kunci:
Bentuk, Makna, Sastra Lisan
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Budaya Indonesia terdiri atas
beraneka ragam budaya daerah yang
tersebar di seluruh wilayah
Indonesia. Setiap
kebudayaan (culture) memiliki cara
hidup
sendiri, terutama dalam melakukan
tindakan-tindakan sosial warganya,
oleh
karena perbedaan kebutuhan, sistem
kepercayaan, warisan sosial, dan
lingkungan
fisik.
Kenyataan yang tidak dapat
dipungkiri bahwa asal mula
kebudayaan
yaitu dari hasil karya cipta manusia
dari
zaman nenek moyang yang telah
diwariskan
kepada generasi penerusnya secara
turun
temurun. Penerusan kebudayaan ini
melingkupi kebudayaan tradisional
yang
berupa konsep-konsep dari wujud
kebudayaan sebagai suatu rangkaian
tindak
aktivitas manusia dalam kehidupan
sehari-
hari yang dilingkari dengan ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma,
peraturan
dan berupa benda-benda. Dari
berbagai
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 296
prilaku seperti itulah yang dapat
menumbuhkan kebudayaan tradisional
rakyat.
Salah satu kekayaan budaya Indonesia
adalah memiliki banyak bahasa
daerah.
Bahasa dengan budaya sulit ditolak
karena
bahasa merupakan fenomena budaya.
Seperti halnya pada bahasa Jawa yang
memuat budaya Jawa, bahasa Sumbawa
yang memuat budaya Sumbawa, bahasa
Bali
yang memuat budaya Bali, dan
sebagainya.
Bahasa dapat dikatakan sebagai
ruh
dari
budaya itu sendiri. Bahasa sendiri
adalah
alat komunikasi antara anggota
masyarakat
berupa simbol bunyi yang dihasilkan
oleh
alat ucap manusia (Keraf, 2001:1).
Komunikasi melalui bahasa ini
memungkinkan tiap orang untuk
menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan
sosialnya. Sehingga, memungkinkan
tiap
orang untuk mempelajari kebiasaan,
adat
istiadat, kebudayaan serta
latarbelakanginya
masing-masing.
Setiap budaya daerah dapat
menambah eratnya ikatan solidaritas
masyarakat yang bersangkutan.
Menurut
Boscom dalam (Danandjaja 1997:19)
bahwa
budaya daerah memiliki empat peranan
yaitu: (1) sebagai sistem proyeksi
adalah
pencerminan angan-angan suatu
kolektif; (2)
sebagai pengesahan pranata-pranata
dan
lembaga-lembaga kebudayaan; (3)
sebagai
alat pendidikan anak (
pedagogical device
),
dan (4) sebagai alat kontrol agar
norma-
norma masyarakat akan selalu
dipatuhi
anggota kolektifnya.
Berbicara masalah kebudayaan pada
suatu daerah, sudah tentu mempunyai
tradisi sendiri bila dibandingkan
dengan
dengan tradisi daerah lainnya. Salah
satu
contoh yang dapat dilihat yaitu
tradisi khas
masyarakat Nusa Tenggara Barat
khususnya
kabupaten Sumbawa, baik dari adat
pakaian,
adat perkawinan, makanan, kesenian
dan
maupun prilaku kehidupan sehari-hari
jauh
berbeda dengan tradisi khasnya
kebudayaan
yang ada di masyarakat Jawa. Hal itu
menandakan beraneka ragamnya
kebudayaan masing-masing daerah di
Indonesia memiliki ciri khas
tersendiri.
Etnis Samawa memiliki tradisi lisan,
bahkan
disebut-sebut sebagai pilar budaya
yang
masih ada dari semenjak berabad-abad
lamanya sampai sekarang. Tradisi
lisan pada
mulanya berinduk pada bahasa Samawa
dalam syair-syair yang di tembangkan
sebagai bentuk pengungkapan rasa
cinta,
sedih, kritik, nasehat, dalam
kehidupan
masyarakat, karena sudah menjadi
bagian
dari cara mengekspresikan isi
hatinya,
apalagi disampaikan dengan cara
dilagukan
(temung)
dalam aktifitas keseharian dan
tradisi upacara adat etnis Samawa.
Sakeco adalah satu dari kesenian
sastra lisan
Sumbawa. Seni ini melibatkan dua
pemain
sebagai penutur sekaligus memainkan
rebana sebagai musik pengiring, yang
ditabuh saat penutur menyelesaikan
satu
alinea cerita kemudian dilanjutkan
cerita ke
bait berikutnya. Selain menghibur,
seni ini
juga berisi nasihat hidup dan dahulu
dipakai
untuk alat perjuangan.
Kesenian ini populer bagi etnis
Samawa di
Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten
Sumbawa Barat, biasanya ditampilkan
pada
acara hajatan warga seperti
pernikahan,
khitanan, dan sejenisnya. Cerita
disampaikan dalam bentuk nyanyian
berbalas dan diringi dengan musik.
Teman
yang sering diangkat menyangkut
kisah
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 297
nyata pergaulan muda-mudi, kasus
pembunuhan, fenomena sosial,
pemilihan
kepala daerah, kawin lari, kasus
pembunuhan, dan cerita lain yang
menarik
diketahui masyarakat. Oleh karena
itu
sakeco dianggap sebagai puisi yang
berbentuk narasi.
Cerita Sakeco umumnya terdiri atas
pembuka (samula) yang berisi ucapan
selamat datang dan terima kasih
kepada
penonton. Kemudian disusul ringkasan
kisah
yang akan diceritakan, selanjutnya
bagian
inti cerita (isi sakeco), dan
terakhir racik
atau penutup yang biasanya berupa
cerita
jenaka. Akhir cerita bisa bahagia,
sedih, atau
tragedi seperti kisah kawin lari
(merari)
yang dilakukan oleh masyarakat
setempat
dinilai tabu, bahkan acap mengundang
konflik horizontal.
Menelusuri lebih lanjut perjalanan
sejarah sasrta lisan/tulis khususnya
di
kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa
Tenggara Barat memang sudah ada
semenjak zaman dahulu kala (zaman
nenek
moyang). Akan tetapi keberadaan
sastra
lisan atau tulisan ini sangat
dikhawatirkan,
karena selama ini masih sangat
sedikit usaha
yang dilakukan untuk menggali maupun
menyusunnya untuk dijadikan sebagai
dokumen yang lebih lengkap. Padahal
jumlah sastra lisan dan tulis di
Sumbawa
masih cukup banyak. Ini merupakan
gejala
yang timbul karena minat dan
perhatian
masyarakat Sumbawa semakin berkurang
terhadap sastra lisan dan tulisan
yang ada.
Selain itu, yang biasa dan bisa
menggunakan
kembali sastra lisan dan tulis
adalah orang-
orang yang sudah tua dan
jumlahnyapun
sedikit. Berangkat dari itu perlu
dikhawatirkan dalam jangka waktu ke
depan
sastra lisan dan tulis di Sumbawa
akan
hilang dengan sendirinya sejalan
dengan
arus perkembangan jaman yang terus
mengalir semakin lama semakin maju
pesat.
Sudah jelas ini dapat merugikan
masyarakat pemiliknya dan
lebih-lebih
merugikan lagi bagi bangsa Indonesia
pada
umumnya. Maka dari itulah peneliti
ingin
mengangkat masalah sastra khususnya
sastra
lisan (foklor) yaitu cerita rakyat
Sumbawa
yang biasa disebut
Sakeco
, agar masyarakat
umum juga mengetahui bahwa di
Sumbawa
NTB juga terdapat sastra yang
berbentuk
cerita rakyat yang memiliki kekhasan
tersendiri. Kekhasan inilah yang
nantinya
akan dapat memperbanyak ragam sastra
nusantara.
Melalui penelitian ini, akan
diungkapkan kembali cerita rakyat
Tradisional Sumbawa yang ada di
Kabupaten Sumbawa Propinsi Nusa
Tenggara Barat, agar dapat
terwariskan
untuk generasi berikutnya dan dapat
dilestarikan. Selain itu, juga untuk
menumbuhkembangkan kembali
kebudayaan Sumbawa yang pada
akhir-akhir
ini hampir punah keberadaanya. Yang
lebih
besar lagi peneliti merasa ikut
bertanggung
jawab sebagai masyarakat Sumbawa
pada
khusunya atas kelestarian kebudayaan
tradisional Indonesia, serta dapat
memberikan manfaat dan masukan
kepada
Departemen Pendidikan Nasional dalam
rangka upaya menggali dan
menyelamatkan
khasanah kebudayaan tradisional
untuk
pendidikan.
PERMASALAHAN
Sesuai dengan judul yang diangkat
dalam penelitian ini yaitu
Analisis Bentuk,
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 298
Dan Makna Sastra Lisan Sumbawa
(Sakeco) Suku Samawa Di Kabupaten
Sumbawadengan Pendekatan Foklor,
maka masalah yang dibahas adalah
seni
sastra khususnya sastra lisan yang
ada di
kabupaten Sumbawa propinsi Nusa
Tenggara Barat. Seni sastra
khususnya puisi
ini yang nantinya akan ditelaah
sesuai
dengan yang ada di perumusan
masalah.
JANGKAUAN MASALAH
Penelitian ini hanya menekankan
pada analisis bentuk dan makna yang
terkadung di dalam Sakeco sebagai
sastra
lisan Sumbawa. Berkaitan dengan
bentuk
sastra lisan Sumbawa yang termasuk
ke
dalam Puisi, maka peneliti
menjabarkan
pendapat Sukada yang merangkum
beberapa
konsep struktur yang ditulis oleh
ahli sastra
berdasarkan proses kreatif dan cara
menganalisis karya sastra. Rangkuman
tersebut ialah alur sebuah cerita,
latar atau
setting, penokohan, dan gaya bahasa.
Selain
pendapat Sukada, ada pun pendapat
Suroto
yang membentuk sebuah puisi adalah
tema,
amanat, musikalitas, korespondensi,
diksi,
simbolisasi, tipografi dan gaya
bahasa. Dari
segi makna, penelitian ini
menekankan pada
segi makna kognitif dan makna non
kognitif.
BATASAN MASALAH
Mengingat begitu luasnya dalam
mambahas sastra lisan yang ada di
nusantara, maka pada penelitian ini
perlu
adanya batasan masalah. Hal ini juga
mempertimbangkan waktu dan kemampuan
penulis yang masih sangat terbatas,
serta
karya yang dijadikan bahan
penelitian cukup
luas. Maka, pada penelitian ini
peneliti
membatasi masalah hanya pada bentuk
(alur,
latar/setting, penokohantifografi,
diksi) dan
makna pada sastra lisan (sakeco)
suku
Samawa pada masyarakat Sumabawa.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pembatasan masalah di
atas, maka masalah pada penelitian
ini
meliputi:
a. Bagaimanakah bentuk sastra lisan
(sakeco) suku Samawa pada
masyarakat Sumabawa?
b. Bagaimankah makna sastra lisan
(sakeco) suku Samawa pada
masyarakat Sumabawa?
LANDASAN TEORI
Tinjauan tentang Folklor
Dundes (dalam Dananjaya 1991: 1-
4), kata folklor adalah
pengindonesian dari
kata Ingris
“Folklore”
kata ini adalah kata
majemuk yang bersal dari dua kata
dasar
Folk
dan
Lore
. Folk berarti kelompok orang-
orang yang memiliki ciri-ciri
pengenal
kebudayaan yang membedakan dari
kelompok lain. Tetapi yang
tergantung
dalam hal ini ialah bahwa merekalah
yang
mempunyai tradisi, yaitu kebudayaan
yang
telah diwariskan secara
turun-temurun yang
mereka akui sebagai milik kelompok
mereka
sendiri. Adapun yang dimaksud dengan
lore
tradisi folk yang diwariskan
turun-temurun
secara lisan atau tutur kata,
ataupun melalui
contoh yang disertai dengan
perbuatan dan
alat pembantu pengingat.
Berdasarkan dari uraian di atas
dapat
disimpulkan, bahwa definisi folklor
sebagian dari kebudayaan yang
disebarkan
dan diwariskan secara turun-temurun
dan
tradisional, di antara
anggota–anggota
kelompok apa saja, dalam versi yang
berbeda, baik dalam bentuk lisan,
maupun
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 299
contoh disertai dengan perbuatan dan
alat
pengingat, sedangkan
Koentjaraningrat
(1984: 50) mendefinisikan folklor
adalah
bagian kebudayan kolektif apa saja
yang
diciptakan, disebarkan atau
diwariskan
melalui media lisan, yang disertai
dengan
perbuatan atau alat pengingat.
Agar dapat membedakan folklor dari
kebudayaan lainnya harus diketahui
lebih
dahulu ciri-ciri folklor yang dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a) Penyebaran dan pewarisannya
secara
lisan, yakni disebarkan melalui
tutur
kata dari mulut kemulut atau dengan
suatu contoh yang disertai dengan
gerak isyarat, dan alat pembantu
pengingat dari suatu generasi ke
generasi berikutnya.
b) Folklor yang bersifat
tradisional,
yakni disebarkan dalam bentuk
relatif atau standart.
c) Folklor yang bersifat anomim,
yakni
nama penciptanya tidak di ketahui
lagi. Oleh karena itu, folklor milik
kita bersama.
d) Folklor mempunyai kegunaan dalam
kehidupan bersama suatu kolektif.
Cerita rakyat misalnya; mempunyai
kegunaan sebagai alat pendidikan,
pelipur lara, proses sosial dan
proyeksi keinginan terpendam.
e) Folklor mempunyai sifat pralogis,
yaitu mempunyai logika sendiri yang
sesuai dengan logika umum.
f) Fokllor menjadi milik kita
bersama
dari kolektif tertentu, hal ini
sudah
diketahui lagi, sehingga anggota
kolektif yang bersangkutan merasa
memilikinya.
Pengertian Sastra
Bagi ahli sosiologi, sastra
merupakan
sumber informasi mengenai tingkah
laku,
nilai-nilai dan cita-cita yang khas
pada
anggota-anggota setiap lapisan yang
ada di
dalam masyarakat, pada kelompok-
kelompok kekeluargaan atau pada
generasi-
generasi (Ras, 1985: 1). Pengakuan
para ahli
itu didasarkan pada sifat dan
unsur-unsur
sastra yang merupakan refleksi dari
kehidupan manusia dan kepada karya
sastra
yang merupakan wujud tertinggi suatu
kebudayaan di dalam masyarakat.
Sastra merupakan sebuah ciptaan,
sebuah kreasi bukan semata-mata
sebuah
imitasi langsung dari kehidupan. Hal
ini
terkait dengan proses penciptaan
seniman
yang memerlukan perjuangan mencari
dan
menuliskan ide untuk menciptakan
dunia
baru (karya sastra) (Luxemburg,
1984:5).
Apabila suatu karya sastra menulis
secara
langsung dan persis suatu peristiwa
yang
terjadi di dalam kehidupan nyata,
maka
karya sastra bukanlah karya sastra
melainkan suatu berita atau sejarah.
Selanjutnya Luxemburg (1984:9)
mengatakan bahwa sastra bukanlah
sebuah
benda yang kita jumpai, sastra
adalah
sebuah nama yang dengan alasan
tertentu
diberikan kepada sejumlah hasil
tertentu
dalam suatu lingkungan kebudayaan.
Konsep ini secara umum memberi
penekanan pada kesepakatan,
pemberian
nama dan penggolongan oleh
masyarakat
kepada hasil cipta seseorang yang
berkaitan
dengan kebudayaan. Hal ini
menunjukkan
bahwa karya sastra bersifat
subjektif
sehingga memerlukan suatu
kesepakatan
dalam pemberian definisi. Dalam KBBI
(2001: 1001-1002) karya sastra tidak
hanya
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 300
berupa kesepakatan, melainkan lebih
dikonkritkan yaitu berupa kata-kata
yang
memiliki nilai estetik dan etik
secara terulis,
yang akan ditulis maupun yang
berbentuk
ucapan.
Pengertian Puisi
Pendapat Wirjosoedarmo adalah
karangan yang terikat oleh (a)
banyak baris
dalam tiap bait (kuplet/strofa, suku
karangan) (b) banyak kata dalam tiap
baris;
(c) banyak suku kata dalam tiap
baris (d)
rima (e) irama (Pradopo, 1990;5)
sedangkan
pendapat Altenbernd (1970:2) puisi
adalah
pendramaan pengalaman yang bersifat
penafsiran (menafsirkan) dalam
bahasa
beriram (bermetrum) (Pradopo,
1990:5)
berpendapat puisi adalah merupakan
pernyataan perasaan yang bercampur
baur
(Pradopo, 1990:6)
Berbagai pendapat tersebut nampak
adanya perbedaan-perbedaan pemikiran
mengenai pengertian puisi. Jika
dipadukan
pendapat-pendapat tentang pengetian
puisi
yang sebenarnya. Ada tiga unsur
pokok,
pertama: hal yang meliputi
pemikiran, ide
atau emosi kedua bentuknya dan
ketiga
kesannya yang semuanya itu terungkap
dengan media bahasa. Jadi puisi itu
mengekspresikan pemikiran yang
membangkitkan perasaan yang merangsang
imajinasi panca indera dalam susunan
yang
berirama (Pradopo, 1990:7).
Selanjutnya fungsi puisi
dikemukakan oleh Jakobson (dalam
Pradopo, 2008:145) sebagai fungsi
puitik
yaitu fungsi yang memproyeksikan
prinsip
ekuivalensi dari poros pemilihan
(parataksis)
ke poros kombinasi (sintaksis).
Antara
bunyi, pemilihan kata, frase,
kalimat, ide,
dan temanya diekuivalensikan dan
disusun
dalam sebuah struktur yang kompak.
Adapun cara penulisan puisi
menurut Saini (1993:111-113) dengan
menggunakan akal (rasio)
setinggi-tingginya
untuk memilih dan menyusun lambang-
lambang. Puisi digunakan logika
intuisi atau
logika lambang, setiap kata atau
lambang
memiliki banyak arti (polivalent).
Kata atau
konsep dalam logika bisa
mengungkapkan
arti denotatif, sedang kata atau
lambang
dalam logika puisi mengungkapkan
arti
konotatif. Dengan demikian, konsep
hanya
mengungkapkan arti lugas, yakni arti
pikiran, sedang lambang
mengungkapkan
sekaligus arti pikiran, perasaan dan
khayal
(imajinasi).
Dari banyaknya pengertian
pendapat para ahli tentang puisi,
maka
peneliti menyimpulkan bahwa puisi
merupakan hasil cipta manusia yang
berupa
karya sastra yang diperoleh dari
pengalaman
jiwa imajiner pengarang dengan
menggunakan kata-kata sebagai media
penyampaian yang mempunyai ciri
tersendiri. Jika dibandingan dengan
bentuk
karya sastra lainnya. Bahasa dalam
puisi
tidak sama dengan bahasa dalam
prosa, puisi
dibentuk dari unsur intrinsik dan
unsur
ekstrinsik.
Kajian Struktural
Ada beberapa teori dalam analisis
karya sastra, Olsen mengungkapkan
teori
tersebut meliputi (1) teori
tradisional, (2)
teori intensional, (3) teori
ekstensional, (4)
teori struktural, (5) teori mimesis,
(7) teori
emotif, (8) toeri ekspresif, dan (9)
teori
kognitif (Aminuddin, 2004:56). Gaya
bahasa
sebagai bagian dari diksi bertalian
dengan
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 301
ungkapan-ungkapan yang individual
atau
karakteristik, atau yang memiliki
nilai
artistik yang tinggi (Keraf, 1988:23)
Pendekatan struktur (strukturalisme)
tidak dapat dilepaskan dengan kaum
Formalis yang dipandang sebagai
peletak
dasar telaah sastra dengan
pendekatan ilmu
modern. Ciri khas penelitian sastra
kaum
formalisme adalah perhatiannya
terhadap
sesuatu yang khas dalam subuah teks
karya
sastra. Nilai estetik karya sastra
didasarkan
pada
poetic function
yang diolah
berdasarkan kode metrum, rima,
macam-
macam bentuk pararelisme,
pertentangan,
kiasan dan sebagainya (Fananie,
2002:115).
Selanjutnya Fananie (2002:115)
menjelaskan bahwa pendekatan
struktur
sebenarnya banyak dipengaruhi oleh
konsep
struktur linguistik yang
dikembangkan oleh
Ferdinand de Saussure yang intinya
berkaitan dengan
sign
dan
meaning
(bentuk
dan isi) atau bentuk bahasa adalah
pemberi
arti dan yang diartikan. Ber-kaitan
dengan
cara pemberian makna atau memahami
makna yang tertuang da-lam karya
sastra,
penelaah harus mencarinya
berdasarkan
struktur yang terefleksi melalui
unsur
bahasa.
Bentuk Sastra Lisan Sumbawa (Sakeco)
Sebagai Puisi
Michael Lane (dalam Sukada, 1987:
52) menjelaskan bahwa struktur
adalah
sesuatu yang memiliki elemen-elemen
(unsur). Elemen ini, memiliki
hubungan
abstrak antara yang satu dengan yang
laninnya. Struktur memiliki isi yang
tidak
tertentu, hanya dapat dipahami
melalui
oraganisasi akal dan memberikan
gambaran
mengenai sesuatu yang riil secara
wajar.
Mengenai struktur karya sastra, ada
beberapa model yang dirumuskan oleh
para
ahli sastra. Perumusan tersebut
berpangkal
dari cara pandang dan bagaimana cara
penilaian yang dilakukan terhadap
karya
sastra.
Menurut Aminuddin (1995: 66),
sebagai hasil suatu kreasi, karya
sastra
memiliki unsur yang turut
membangunnya
yaitu: (1) pengarang atau narator,
(2) isi
penciptaan, (3) media penyampaian
isi
berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen
fiksional atau unsur-unsur intrinsik
yang
membangun karya sastra sehingga
menjadi
wacana. Konsep ini, melihat karya
sastra
dari segi hasil kreasi sehingga
segala sesuatu
yang berkaitan dengan hasil mutlak
harus
disebutkan, walaupun sebagain unsur
pembangun tersebut bukanlah karya
sastra,
seperti pengarang atau narator.
Stanton (dalam Pradopo, 1988: 41)
membagi karya sastra menjadi tiga
bagian
atau persoalan besar, yaitu fakta
penceritaan,
tema dan sarana sastra. Fakta
penceritaan
sering disebut struktur faktual
merupakan
aspek yang harus ada dalam sebuah
karya
sastra, aspek itu dapat dibagi
menjadi
elemen yang lebih kecil yaitu,
tokoh, alur
dan latar. Dalam hal ini sastra
dipandang
sebagai bentuk yang kompleks dan
dinamis.
Dalam karya sastra istilah struktur
ialah kaitan-kaitan tetap antara
kelompok-
kelompok gejala. Kaitan-kaitan tetap
itu
berkenaan dengan aspek-aspek yang
membangun karya sastra, terutama
aspek
intrinsik, sedangkan
kelompok-kelompok
gejala berkaitan dengan perwatakan
tokoh
sehingga muncul istilah tokoh utama,
orang
yang menolongnya dan orang yang
melawannya (Luxemburg, 1984: 36).
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 306
tidak pandang golongan. Perjuangan
masyarakat Sumbawa untuk
membela kebenaran rela
mempertaruhkan nyawa dan tidak
memilih golongan yang melakukan
kesalahan. Masyarakat Sumbawa
sangat meyakini nilai-nilai
ketuhanan, sehingga mereka dari dini
mereka membentengi diri dengan
keimanan kepada tuhan sebab
dengan demikian mereka dapat
menghinadri ksirikan dan rasa tidak
percay bahwa adanya tuhan yang
maha esa.
SARAN KEPADA PENELITIAN
BERIKUTNYA
Penelitian yang berjudul “Analisis
Bentuk dan Makna sastra Lisan
Sumbawa
(sakeco) Suku samawa di Kabupaten
Sumbawa dengan Pendekatan Folklor”
ini
menjadi salah satu penelitian
tentang sastra
klasik/daerah yang bermanfaat dan
bisa
memberikan tambahan pengetahuan bagi
seluruh pembaca. Semoga dapat
dijadikan
sebuah sebuah pedoman guna
penelitian-
penelitian selanjutnya, karena
sangat sedikit
sekali yang meneliti tentang sastra
klasik/daerah. Penelitian semacam
ini dapat
dijadikan pelestarian kebudayaan
nasional.
SARAN KEPADA PEMERINTAH
KABUPATEN SUMBAWA
Penulis sangat berharap agar dapat
melestarikan kebudayaan dan sastra
daerah/klasik terutama puisi
tradisional
Sumbawa dengan rutin mengadakan
berbagai kegiatan seni berupa Parade
Budaya dan perlombaan-perlombaan
yang
dapat mendukung kelestarian budaya
Sumbawa sekaligus budaya nasional.
SARAN KEPADA GURU BAHASA
DAERAH DAN BAHASA INDONESIA
Penulis sangat berharap penelitian
ini
dapat berguna bagi pengetahuan
tentang
sastra daerah/klasik yang terdapat
di daerah
Sumbawa sehingga penelitin ini dapat
dijadikan literatur dalam pengajaran
sastra
dan budaya. Peneliti juga berharap
agar
sakeco
atau puisi tradisional ini agar
lebih
diperkenalkan kepada siswa di
sekolah
sebagai suatu karya sastra.
Penulis menyadari bahwa penelitaian
ini masih jauh dari kesempurnaan
karena
sempitnya cakrawala keilmuan
penulis,
keterbatasan pemahaman penulis
terhadap
sastra klasik/daerah. Harapan
penulis
semoga penelitian ini dapat berguna
bagiseluruh pembaca, pencinta seni,
masyarakat Sumbawa, dan Pemerintahan
Daerah Sumbawa, walaupun masih
banyak
kekurangan-kekurangan yang terdapat
pada
penelitian ini.
Penulis berharap saran-saran yang
sangat membangun tersebut dari
berbagai
kalangan sehingga penulis mampu
memberi
yang terbaik kepada seluruh pembaca.
Harapan terakhir dari penulis,
semoga
laporan penelitian ini dapat
bermanfaat bagi
peneliti khususnya dan pada seluruh
pembaca pada umunya.
Jurnal Artikulasi Vo.6 No.2 Agustus
2008
| 308
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2004.
Pengantar Apresiasi Karya Sastra
. Bandung; Sinar Baru Algensindo
_________. 1995.
Pengantar Apresiasi Karya Sastra
. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Budiman. 1979.
Folklor Betawi
. Jakarta: Pustaka Jaya.
Dananjaja, James. 1991.
Folklor Indonesia
(Ilmu Gosip, dongen, dan lain-lain)
Jakarta:
Pustaka Utama Grafitri.
______________. 1994.
Folklor Indonesia
. Jakarta: PT. Temprint.
Djojosuroto, Kinanti. 2005.
Puisi: Pendekatan dan Pembelajaran
. Bandung: Penerbit Nuansa
Fenanie, Zainuddin. 2003.
Telaah Sastra.
Surakarta: Muhammadiyah University
Press.
Keraf, Geroys. 1988.
Diksi dan Gaya Bahasa
. Jakarta; Gramedia.
Koentjaraningrat, 1984.
Kamus istilah Antropologi
. Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa
Depdikbud
Luxemburg, Jan Van dan Miekel Bal.
1982.
Pengantar Ilmu Sastra.
Dialihbahasakan oleh Dick
Hartoko. 1984. Jakarta: Gramedia.
Moleong, Lexy J. 2002.
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: CV Remaja Rosdakarya.
Nurgiyantoro, Burhan. 1995.
Teori Pengkajian Fiksi
. Yogyakarta; Gajah Mada University
Press.
Parera, J.D. 2004.
Teori Semantik
. Jakarta; Erlangga.
Pateda, Mansoer, Dr. Prof. 2001.
Semantik Leksikal
. Jakarta; Rineka Cipta.
Pradopo, Djoko Rachmat. 2000.
Pengkajian Puisi.
Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Pradopo, Sri Widati. 1988
. Struktur Cerita Rekaan Jawa Modern
Berlatar Perang.
Jakarta:
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional. 2001.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi
Ketiga
. Jakarta: Balai Pustaka.
Ras, J.J..1985.
Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir
. Jakarta: Grafiti Press.