Semoga suka ya!!
Senin, 22 Januari 2018
A. Seni Sastra Lisan
Seni sastra lisan di Indonesia berkembang secara
turun-temurun. Kebanyakan bercirikan menggunakan bahasa yang panjang lebar,
pola dan susunan teksnya baku, serta ceritanya tersusun dari beragam peristiwa
yang benar-benar terjadi, dongeng khayalan atau teks keagamaan. Masing-masing
pencerita mempunyai keleluasaan di dalam menampilkan tradisi lisan. Bentuk seni
sastra lisan yang berkembang di Indonesia, antara lain:
Berikut ini adalah contoh-contoh seni sastra lisan yang
hidup di Indonesia.
1) Pantun Sunda
Seni sastra lisan ini merupakan penceritaan bersyair orang
Sunda (Jawa Barat) dengan diiringi oleh musik kecapi. Tradisi ini biasanya
dilakukan sebelum atau sesudah upacara tradisional misalnya pernikahan dan
merupakan hiburan tunggal. Juru pantun menyanyi sesuai irama kecapi yang ia
petik dalam skala pentatonik (lima nada). Kecapi Sunda itu biasanya berbentuk
perahu dengan 18 senar. Pantun Sunda biasanya berisi kisah cerita dari masa
Kerajaan Hindu Pajajaran. Cerita ditampilkan secara bersamaan antara percakapan
dan nyanyian. Salah satu pantun Sunda yang terkenal adalah Lutung Kasarung,
syairnya terdiri atas 1.000 baris dan berasal dari abad XV. Semula, tradisi ini
disampaikan oleh pendongeng profesional yang berkelana dari desa ke desa. Maksudnya untuk mengajarkan
kepercayaan agama, sejarah, mitologi, sopan santun, dan lain-lain. Dalam
perkembangannya, tradisi ini berubah menjadi cerita anakanak.
2) Rabab Pariaman
Tradisi pertunjukan lisan ini berasal dari Sumatra Barat. Tukang rabab menyampaikan cerita dalam wujud
nyanyian dengan ciri dialek Pariaman. Tradisi ini biasa dipertunjukkan pada
pesta perkawinan, perayaan nagari, pesta pengangkatan penghulu, dan lain-lain.
Cerita yang disampaikan berisi perjuangan untuk mencapai keberhasilan hidup.
Tokoh dalam cerita itu menghadapi kesulitan dalam mencapai keberhasilan,
kemudian mendapat tanggapan dari penonton.
3) Makyong
Tradisi ini semula berasal dari Pattani, Muangthai, namun
berkembang ke selatan hingga pesisir Melayu. Makyong merupakan pertunjukan
teater di mana unsur-unsur drama, tari, musik, mimik, dan sebagainya tergabung
menjadi satu. Semula, tradisi ini dipertunjukkan di kalangan atas Istana
Kelantan dan Riau Lingga hingga tahun 1700-an. Fungsinya bukan untuk menghibur
tetapi penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sultan dan istrinya dianggap
wakil Tuhan, maka makyong dianggap persembahan kepada Tuhan. Dalam
perkembangannya, makyong berubah menjadi pertunjukan desa sebagai hiburan atau
upacara penyembuhan. Kisah yang dimainkan sebagian besar berasal dari warisan
cerita-cerita istana kerajaan Melayu, biasanya berbentuk prosa tanpa naskah.
Makyong antara lain terdiri atas punakawan
(pengasuh) yang mengenakan topeng, wak petanda (ahli pembintangan atau
orang bijak), serta para pemain yang semua diperankan oleh kaum perempuan.
Salah satu kisah yang paling disukai dalam tradisi makyong adalah dewa muda.
4) Wayang Kulit dan Wayang BeberTradisi ini merupakan
tradisi lisan yang lakonnya bersumber dari legenda serta kisah lisan sastra
tulis atas tradisi India dan Jawa. Wayang kulit dan wayang beber bisa ditemukan
di Jawa, Bali, Sumatra Selatan, dan Jawa Barat. Tradisi wayang berbentuk teater
boneka dengan menggunakan layar (kelir), gamelan, dan 400-an wayang. Hidup
tidaknya pertunjukan ini ditentukan oleh dalang, karena dialah yang menguasai
pertunjukan.
1) Mitos atau Mite
Mitos adalah seni sastra bersifat religius, namun memberi
rasio pada kepercayaan dan praktik keagamaan. Masalah pokok yang diulas di
dalam mitos adalah masalah kehidupan manusia, asal mula manusia dan makhluk
hidup lain, sebab manusia di bumi, dan tujuan akhir hidup manusia. Fungsi mitos
yaitu memberi penjelasan tentang alam semesta dan keteraturan hidup dan
perilaku.
Mite yang hidup di Indonesia biasanya bercerita tentang
proses terciptanya alam semesta (kosmogony), asal usul dan silsilah para dewa
(theogony), pencitaan manusia pertama dan pembawa kebudayaan, asal usul makanan
pokok (padi), dan sebagainya. Berikut salah satu mite yang hidup di Jawa.
"Konon, pada masa dahulu kala Pulau Jawa belum
berpenghuni sehingga mudah terombang-ambing terkena ombak laut. Hanya Bathara Guru
dan Bathari Parameswari yang berani menempatinya. Maka, agar Pulau Jawa menjadi
tenang, Bathara Guru memanggil para dewa untuk datang ke Jambudwipa. Intinya
mereka diperintah untuk memindahkan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa untuk
dijadikan pasak. Para dewa pun bergotong-royong mengangkat gunung tersebut.
Bathara Wisnu berubah menjadi tali untuk mengikat dan Bathara Brahma menjadi
kura-kura untuk kendaraannya. Separuh gunung ditinggal dan puncaknya bisa
sampai ke Jawa. Selama perjalanan, ada bagian-bagian gunung yang jatuh dan
membentuk Gunung Wilis, Gunung Kelud, serta Gunung Kawi. Puncaknya menjadi
Gunung Semeru dan menjadi pusat dunia seperti Gunung Mahameru di Jambudwipa.
2) Legenda
Legenda merupakan cerita yang bersifat semihistoris mengenai
pahlawan, terciptanya adat, perpindahan penduduk, dan selalu berisi percampuran
antara fakta dan supernatural. Legenda tidak banyak mengandung masalah, namun
lebih kompleks dari mitos. Fungsinya antara lain memberi pelajaran, ajaran
moral, meningkatkan rasa bangga terhadap suku bangsa atau moyangnya. Suatu
legenda yang lebih panjang berbentuk puisi atau prosa ritmis dikenal dengan
epik.
3) Epik
Epik merupakan cerita lisan yang panjang, kadang-kadang
dalam bentuk puisi atau prosa ritmis yang menceritakan perbuatan-perbuatan
besar dalam kehidupan orang yang sebenarnya atau yang ada dalam legenda.
4) Dongeng
Dongeng merupakan suatu cerita yang tidak nyata dan tidak
historis yang fungsinya untuk memberi hiburan dan memberi pelajaran atau
nasihat.
Nah, kamu telah mengetahui bentuk-bentuk seni sastra lisan
di Indonesia. Berikut ini adalah contoh-contoh seni sastra lisan yang hidup di
Indonesia.
1) Pantun Sunda
Pantun Sunda adalah penceritaan bersyair orang Sunda (Jawa
Barat) dengan diiringi oleh musik kecapi. Tradisi ini biasanya dilakukan
sebelum atau sesudah upacara tradisional misalnya pernikahan dan merupakan
hiburan tunggal. Juru pantun menyanyi sesuai irama kecapi yang ia petik dalam
skala pentatonik (lima nada). Kecapi Sunda itu biasanya berbentuk perahu dengan
18 senar. Pantun Sunda biasanya berisi kisah cerita dari masa Kerajaan Hindu
Pajajaran. Cerita ditampilkan secara bersamaan antara percakapan dan nyanyian.
Salah satu pantun Sunda yang terkenal adalah Lutung Kasarung, syairnya terdiri
atas 1.000 baris dan berasal dari abad XV. Semula, tradisi ini disampaikan oleh
pendongeng profesional yang berkelana dari desa ke desa. Maksudnya untuk
mengajarkan kepercayaan agama, sejarah, mitologi, sopan santun, dan lain-lain.
Dalam perkembangannya, tradisi ini berubah menjadi cerita anakanak.
2) Rabab Pariaman
Tradisi pertunjukan lisan ini berasal dari Sumatra Barat.
Tukang rabab menyampaikan cerita dalam wujud nyanyian dengan ciri dialek
Pariaman. Tradisi ini biasa dipertunjukkan pada pesta perkawinan, perayaan
nagari, pesta pengangkatan penghulu, dan lain-lain. Cerita yang disampaikan
berisi perjuangan untuk mencapai keberhasilan hidup. Tokoh dalam cerita itu
menghadapi kesulitan dalam mencapai keberhasilan, kemudian mendapat tanggapan
dari penonton.
3) Makyong
Tradisi ini semula berasal dari Pattani, Muangthai, namun
berkembang ke selatan hingga pesisir Melayu. Makyong merupakan pertunjukan
teater di mana unsur-unsur drama, tari, musik, mimik, dan sebagainya tergabung
menjadi satu. Semula, tradisi ini dipertunjukkan di kalangan atas Istana
Kelantan dan Riau Lingga hingga tahun 1700-an. Fungsinya bukan untuk menghibur
tetapi penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sultan dan istrinya dianggap
wakil Tuhan, maka makyong dianggap persembahan kepada Tuhan. Dalam
perkembangannya, makyong berubah menjadi pertunjukan desa sebagai hiburan atau
upacara penyembuhan.
Kisah yang dimainkan sebagian besar berasal dari warisan
cerita-cerita istana kerajaan Melayu, biasanya berbentuk prosa tanpa naskah.
Makyong antara lain terdiri atas punakawan (pengasuh) yang mengenakan topeng,
wak petanda (ahli pembintangan atau orang bijak), serta para pemain yang semua
diperankan oleh kaum perempuan. Salah satu kisah yang paling disukai dalam
tradisi makyong adalah dewa muda.
4) Wayang Kulit dan Wayang Beber
Tradisi ini merupakan tradisi lisan yang lakonnya bersumber
dari legenda serta kisah lisan sastra tulis atas tradisi India dan Jawa. Wayang
kulit dan wayang beber bisa ditemukan di Jawa, Bali, Sumatra Selatan, dan Jawa
Barat. Tradisi wayang berbentuk teater boneka dengan menggunakan layar (kelir),
gamelan, dan 400-an wayang. Hidup tidaknya pertunjukan ini ditentukan oleh
dalang, karena dialah yang menguasai pertunjukan.
B. Seni Sastra Tulisan
Seni sastra tulisan Indonesia menurut periodisasinya
digolongkan menjadi:
1) Pujangga Lama
Karya sastra Pujangga Lama di Indonesia dihasilkan sebelum
abad ke-20. Pada masa ini karya satra di Indonesia di dominasi oleh syair,
pantun, gurindam dan hikayat. Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk
terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri atas 4 baris, berirama
aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun,
2 baris terakhir yang mengandung maksud). Pantun merupakan sejenis puisi yang
terdiri atas 4 baris bersajak ab-ab atau aa-aa. Dua baris pertama merupakan
sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna). Dua baris terakhir
merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri
dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu
kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau
perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban nya atau akibat dari masalah atau
perjanjian pada baris pertama tadi. Hikayat adalah salah satu bentuk sastra
prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita,
dongeng, maupun sejarah.
Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan
seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.
Beberapa karya sastra pada masa pujangga lama diantaranya Hikayat Abdullah,
Hikayat Andaken Penurat, dan Hikayat Bayan Budiman.
2) Sastra Melayu Lama
Merupakan karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara
tahun 1870–1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatra seperti Langkat,
Tapanuli, Padang dan daerah Sumatra lainnya, Cina dan masyarakat Indo-Eropa.
Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair,
hikayat dan terjemahan novel barat. Beberapa contoh karya sastra Melayu lama
yaitu Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo), Bunga Rampai oleh A.F van Dewall,
Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe, Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan, Kisah
Pelayaran ke Makassar dan lain-lain
3) Angkatan Balai Pustaka
Karya sastra angkatan Balai Pustaka muncul di Indonesia
sejak tahun 1920–1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa
(roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan
syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada
masa ini. Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk
dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu rendah yang
banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis
(liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa
Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda dan dalam jumlah terbatas dalam
bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura. Contoh karya sastra angkatan Balai
Pustaka antara lain Azab dan Sengsara, Seorang Gadis oleh Merari Siregar,
Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis Sutan Sati, dan Siti Nurbaya oleh Marah
Rusli.
4) Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor
yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa
tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan
kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual,
nasionalistik dan elitis menjadi “bapak” sastra modern Indonesia. Pada masa itu,
terbit pula majalah “Poedjangga Baroe” yang dipimpin oleh Sutan Takdir
Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah
zaman Balai Pustaka (tahun 1930–1942), dipelopori oleh Sutan Takdir
Alisyahbana. Karya sastra Pujangga Baru di antaranya Layar Terkembang oleh
Sutan Takdir Alisjahbana dan Belenggu oleh Armijn Pane. Makna Pujangga atau
Bujangga adalah pemimpin agama atau pendeta. Tetapi, makna pujangga dalam
pujangga baru adalah ”pencipta”.
5) Angkatan ’45
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah
mewarnai karya sastrawan Angkatan ’45. Karya sastra angkatan ini lebih
realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik.
Misalnya, Surat Cinta Enday Rasidin, Simphoni oleh Subagio Sastrowardojo, dan
Balada Orangorang Tercinta oleh W.S.Rendra
6) Angkatan 66-70-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra
Horison. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran
sastranya. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok
ini seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur
Rasuanto, Gunawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hurip, Sutardji
Calzoum Bachri, dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B.Jassin.
Seorang sastrawan pada angkatan 50–60-an yang mendapat
tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya
berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian. Beberapa satrawan
pada angkatan ini antara lain Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C
Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Gunawan Mohammad, Budi Darma,
Hamsad Rangkuti, Putu Widjaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan
banyak lagi yang lainnya. Karya Sastra Angkatan ‘66 di antaranya Amuk, Kapak, Laut
Belum Pasang, Meditasi, Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur,
Tergantung Pada Angin, Dukamu Abadi, Aquarium, Mata Pisau dan Perahu Kertas.
7) Angkatan 80-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun
1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang
menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa
angkatan ini tersebar luas di berbagai majalah dan penerbitan umum. Beberapa
sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain Remy
Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, dan
Kurniawan Junaidi. Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80 antara lain Badai Pasti
Berlalu, Cintaku di Kampus Biru, Sajak Sikat Gigi, Arjuna Mencari Cinta,
Manusia Kamar, dan Karmila. Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita
Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel
mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak
belakang dengan novelnovel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra
Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa
romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu
mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga
tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra
dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel
populer yang dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari
kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian
tertarik membaca karya-karya yang lebih “berat”. Budaya barat dan
konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus mempengaruhi sastra
Indonesia sampai tahun 2000.
8) Angkatan 2000-an
Sastrawan angkatan 2000 mulai merefleksikan keadaan sosial
dan politik yang terjadi pada akhir tahun 90-an, seiring dengan jatuhnya Orde
Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak
melatarbelakangi kisah novel fiksi. Apakah kamu mengenal Ayu Utami dengan
karyanya Saman? Sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya
ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun.
Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol
dari pengarang-pengarang yang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung.
TERIMAKASIH