Recent Blog post
Semoga suka ya!!
Archive for Januari 2018
SASTRA LISAN SRANDUL
KATA PENGANTAR
Pertama
saya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya saya dapat
belajar di SMP Swasta BINTANG TIMUR Pematangsiantar. Dari awalnya masuk di
sekolah ini kelas saya adalah kelas VII F, begitu juga selanjutnya di kelas
VIII F. Akan tetapi pada kelas IX saya pindah
kelas ke IX B.
Pada
bulan Desember diwaktu menjelang libur semester ganjil, guru bidang studi
Bahasa Indonesia saya yaitu Ibu A.J.Sitinjak S.Pd memberikan tugas membuat karya
tulis. Dengan senang hati saya merespon tugas tersebut. Dalam waktu senggang
sehabis makan sore hari saya mendiskusikannya dengan ayah saya Pdt. Jona
Simanungkalit. Setelah memahami tugas yang harus saya kerjakan semasa libur,
ayah meresponnya dengan baik sebab ada kegiatan mengisi libur yang secara tidak
langsung dapat mengurangi waktu senggang. Selanjutnya saya memikirkan tema apa
yang akan saya kerjakan. Dan ketika kami suatu sore kami ke toko buku Lumenium
saya tertarik dengan satu buku yang berjudul sastra lisan Indonesia. Oleh
karena itu maka saya memutuskan untuk membuat karya tulis tentang sastra lisan.
Saya
meyakini melalui karya tulis ini akan berdampak ganda sebab satu sisi saya
menjadi memahami sastra lisan dan di sisi lainnya saya senangdapat mengerjakan
tugas yang diberikan oleh guru saya dengan harapan memperoleh nilai yang baik.
SASTRA LISAN SRANDUL
A. Seni Sastra Lisan
Seni sastra lisan di Indonesia berkembang secara
turun-temurun. Kebanyakan bercirikan menggunakan bahasa yang panjang lebar,
pola dan susunan teksnya baku, serta ceritanya tersusun dari beragam peristiwa
yang benar-benar terjadi, dongeng khayalan atau teks keagamaan. Masing-masing
pencerita mempunyai keleluasaan di dalam menampilkan tradisi lisan. Bentuk seni
sastra lisan yang berkembang di Indonesia, antara lain:
Seni Sastra Lisan Di Indonesia
Sastra lisan
\Sastra
lisan atau sastra
rakyat adalah karya sastra dalam bentuk ujaran (lisan), tetapi
sastra itu sendiri berkutat di bidang tulisan. Sastra lisan membentuk komponen budaya yang lebih mendasar, tetapi memiliki sifat-sifat sastra
pada umumnya. Cendekiawan Uganda Pio Zirimu
memperkenalkan kata orature
untuk menghindari oksimoron, namun sastra lisan (oral
literature) masih sering digunakan di lingkup akademik dan masyarakat.[butuh rujukan]
Masyarakat
yang belum mengenal huruf tidak punya sastra tertulis, tetapi mungkin memiliki tradisi lisan yang kaya dan beragam—seperti epik, cerita rakyat, peribahasa, dan lagu rakyat—yang secara efektif membentuk sastra lisan.
Sekalipun semuanya disatukan dan dicetak oleh para ahli cerita rakyat dan paremiografer,
hasilnya masih disebut "sastra lisan".
Masyarakat
yang mengenal huruf kemungkinan masih melanjutkan tradisi lisan, biasanya di
dalam keluarga (seperti pengantar tidur)
atau struktur sosial informal. Penyampaian legenda urban dapat dianggap sebagai contoh sastra
lisan, sebagaimana lelucon dan puisi lisan,
termasuk lomba puisi
yang ditayangkan di Def Poetry. Puisi pertunjukan adalah genre puisi yang menggantikan bentuk tertulisnya